Santri membawa foto sejumlah kyai saat mengikuti gerak jalan dalam Festival 1001 Terompah di Lapangan Tumapel, Singosari, Malang, Jawa Timur, Rabu (22/10/2025). Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo SuciptoDari Laku Sunyi Menuju Kiai SelebritasDi masa lalu, gerbang pesantren adalah batas magis yang memisahkan deru bising duniawi dari keheningan batin. Di dalam ruang yang lambat itu, seorang santri belajar mengeja kehidupan lewat laku yang sunyi. Menyapu pelataran ndalem kiai sebelum fajar. Menghafal bait Imriti di bawah temaram lampu minyak. Mencium tangan sang guru demi sekeping harapan bernama berkah. Semua laku itu adalah ritual, tindakan simbolis yang menurut filsuf Byung-Chul Han berfungsi sebagai jangkar waktu. Ritual tidak mengejar efisiensi. Ia merayakan pengulangan, ketawaduan, dan ketenangan batin yang memanusiakan manusia.Namun hari ini sekat magis itu runtuh. Gelombang digitalisasi menjebol pintu bilik santri satu demi satu. Kita menyaksikan sebuah fenomena baru yang mencemaskan sekaligus memikat, yaitu komodifikasi nilai pesantren di ruang digital. Puncaknya mewujud pada lahirnya kiai selebritas, sosok pemuka agama yang tidak lagi sekadar menjadi jangkar spiritual komunitas lokal, melainkan bertransformasi menjadi komoditas estetis di jagat maya. Atas nama syiar dan modernisasi, tradisi yang dulu sakral kini ditarik paksa ke dalam pasar algoritma yang profan.Byung-Chul Han dalam bukunya The Disappearance of Rituals mengingatkan bahwa masyarakat modern sedang membunuh ritual dan menggantinya dengan informasi. Di media sosial, esensi pesantren mengalami desakralisasi yang akut. Mengaji kitab kuning yang membutuhkan ketekunan bertahun-tahun kini diringkas menjadi potongan video berdurasi lima belas detik. Isyarat takzim seorang santri yang merunduk saat kiai melintas kini direkam, diedit dengan musik latar yang teatrikal, lalu diunggah demi memanen ketukan suka dan angka tontonan. Ketika ritual berubah menjadi konten, maknanya seketika menguap. Nilai tidak lagi diukur dari kedalaman spiritualitas batiniah, melainkan dari sejauh mana ia mampu memuaskan nafsu algoritma pasar.Transformasi figur otoritas menjadi kiai selebritas adalah bukti nyata dari apa yang disebut Han sebagai psikopolitik. Kekuasaan modern tidak lagi menindas dengan kekerasan, melainkan menggoda lewat pesona digital yang ramah. Kiai selebritas dituntut untuk tidak hanya alim, tetapi juga harus fotogenik secara digital dan adaptif terhadap tren penonton. Dawuh keagamaan yang semestinya bernuansa kontemplatif sering kali harus didramatisasi atau dipotong demi kebutuhan umpan balik instan.Ironisnya, proses produksi ini melibatkan apa yang disebut Han sebagai eksploitasi diri secara sukarela. Berbekal narasi khidmat dan dakwah digital, tim media pesantren yang sering kali terdiri dari santri junior bekerja jauh melampaui batas, memeras kreativitas hingga mengalami kelelahan yang menggerus jiwa. Mereka merasa sedang beribadah dan berbakti pada guru, padahal tanpa sadar sedang diperbudak mesin pencari modal digital. Keikhlasan yang menjadi fondasi utama pesantren perlahan bertransformasi menjadi bahan baku industri tontonan.Lebih jauh, ruang digital juga melahirkan narsisme spiritual. Puja puji di kolom komentar akun kiai selebritas sering mengecoh kita. Kerumunan digital yang mengagumi video kesalehan tersebut bukanlah komunitas autentik. Mereka hanyalah sekumpulan individu yang terfragmentasi, berkumpul hari ini untuk memuji, dan esok bisa berbalik menghujat jika sang kiai mengeluarkan pandangan yang tak sesuai selera pasar mereka. Di sini kiai selebritas tidak lagi mendidik jiwa pengikutnya, melainkan disandera selera para pengikutnya sendiri.Pesantren di era modern tidak bisa, dan tidak boleh, menutup diri sepenuhnya dari teknologi. Tapi membiarkan nilai luhur pesantren terseret arus komodifikasi digital sama saja dengan bunuh diri budaya secara perlahan.Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, pesantren mengemban tugas mempertahankan hakikatnya sebagai oase yang menawarkan waktu yang lambat di tengah dunia yang berlari terlalu kencang. Khidmat harus dikembalikan sebagai laku sunyi antara hamba, guru, dan Tuhan, bukan bahan pajangan di etalase media sosial. Ketika serambi pesantren kehilangan kesunyiannya, ketika sosok kiai perlahan larut menjadi selebritas digital yang riuh oleh notifikasi, saat itulah kita tengah menyaksikan pudarnya salah satu benteng spiritual terakhir negeri ini. Pertanyaannya kini bukan lagi soal boleh atau tidak boleh berteknologi, melainkan apakah kita sedang mendesentralisasikan nilai agama ke ruang digital dengan penuh kesadaran, atau justru membiarkan spiritualitas kita habis dikunyah pelan-pelan oleh mesin kapitalisme global.Menjaga marwah pesantren di era digital bukan berarti menolak teknologi. Ia adalah keberanian untuk membatasi diri dari tirani popularitas semu. Tulisan ini pada akhirnya menjadi refleksi sederhana bagi kita semua, bahwa kesalehan tidak pernah bisa diringkas dalam durasi lima belas detik, sebab iman yang sejati selalu membutuhkan ruang sunyi yang tidak akan pernah bisa dijual oleh angka-angka algoritma.