Kondisi terkini makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto di Makam Kuncen Lama, Pakuncen, Kota Yogyakarta yang sempat dirusak juru kunci. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanSosok juru kunci yang merusak makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto di Makam Kuncen Lama, Pakuncen, Kota Yogyakarta, tampil ke publik saat di Kantor Kelurahan Pakuncen, Rabu (12/8).Sosok ibu-ibu yang diketahui berinisial S ini awalnya menolak diwawancara dan tampil di depan kamera. Selang beberapa saat, dia meminta diwawancara.S tak mau menyebutkan nama lengkapnya, wajahnya juga ditutupi masker."Tulis juru kunci saja gitu (nama saya)," kata S.Di hadapan wartawan, S mengakui mengambil kepala nisan. Tujuannya agar ahli waris menemuinya karena merasa tidak pernah diberi uang."Untuk biar ketemu. Saya selama ini si Ibu enggak berusaha nemoni (menemui) saya. Dengan adanya kejadian itu kan terus nemoni (menemui)," katanya.S merasa tindakan yang dilakukannya tidak salah."Memang di situ begitu. Nggak (dari) Pemkot, itu untuk umum enggak ada dari mana-mana. (Memang dirusak) hooh, kalau orangnya keterlaluan, udah bertahun-tahun lho. Saya ngomong bertahun-tahun lho, sama sekali tidak berusaha nyari juru kuncinya memang semua dibegitukan," ujar dia.Tidak Dikasih UangSeorang juru kunci berinisial S yang merusak nisan di Makam Kuncen Lama, Pakuncen, Yogyakarta, Rabu (12/8/2026). Foto: Panji/kumparanS mengatakan Petra Ferianto, istri Djaduk Ferianto, selama ini kerap nyekar di makam tetapi tidak pernah memberikannya uang."Saya di situ ini Ibu ini (Petra) berkali-kali ngirim (nyekar) tapi tidak pernah ngasih. Karena waktunya mesti pagi-pagi. Padahal kalau pagi itu tahu, soalnya ngirimnya bukan cuma sekali dua kali, udah berkali-kali udah bertahun-tahun pagi. Jadi ndak pernah ketemu sama juru kunci," tutur dia.S menyebut dirinya tidak mematok besaran uang yang diberikan ahli waris untuk bersih-bersih. Besaran uang disebut terserah seikhlasnya ahli waris. Namun seikhlasnya ini diberi embel-embel tepa salira."Nggak ada utang, Ibu kalau ke sini aja ngasih, monggo. Berapa? Terserah seikhlasnya. Ning ya tepa-tepa. Ha nek ngekei (ngasih) Rp 2.000, Rp 5.000, njur (lalu) untuk apa ya duit segitu?," ujarnya.S mengatakan ada dua orang tenaganya yang bekerja membersihkan makam tiap pagi dan sore."Gek leh nyapu esok sore (nyapunya pagi sore) tenaga saya dua. Itu, monggo. Tidak ada pengancaman, tidak ada pemaksaan, tidak harus. Tapi ngerti dewe (tapi tahu sendiri). Wong situ tuh tiap hari dibersihkan tempatnya aja Ibue ya ngerti nek resik (bersih). Kok ora tahu (memberi)," ungkapnya.S mengatakan seharusnya Petra tidak datang ke makam pagi hari karena tidak ada juru kunci, dia meminta Petra datang agak siang hari."Kalau orang punya niat baik ya, maaf ini 'Eh aku nek rene kok ora tau ketemu juru kuncine, jajal tak awan sedikit (aku kalau ke sini kok tidak pernah bertemu juru kunci, coba siang dikit), berusahalah!," katanya."Kalau yang juru kunci kan tidak tahu mau datang kapannya, tidak tahu, karena keperluan orangnya tidak tahu. Jadi si tamu itu mbok berusaha kalau ada niat ketemu juru kuncinya lho," katanya.Bantah Mengancam, 3 Tahun Tak Ditengok Makam HilangDi sisi lain S mengatakan dirinya tidak pernah mengancam Petra. Dia menyebut hanya memberi pengertian bahwa ketika makam tidak ditengok selama tiga tahun maka makam akan hilang."Tidak ada pengancaman. Cuma saya ngomong, memberi pengertian "bu, di sini itu memang kalau sudah 3 tahun sama sekali tidak pernah ditengok, itu biasanya hilang." Saya memberi tahu, bukan mengancam. Kok di situ ditulis mengancam. Saya tidak tahu apa yang ngomong Ibunya apa dari wartawannya, saya enggak tahu ya," katanya."Tapi sekali lagi tidak ada pemaksaan, tidak ada harus ngirim sekian, enggak. Itu (Petra) transfer 500 (ribu) mungkin Ibu sadar, 'Oh iya, aku selama ini ra tau ngekei (tidak pernah memberi)". Baru sekali itu ngasih Rp 500 ribu. Dan saya tidak ngarani (tidak mematok), ora njaluk (tidak meminta), monggo. Mau ngasih berapa seikhlasnya monggo. Ternyata Ibu kemarin ngasih 500 (ribu rupiah). 500 (ribu rupiah) itu tak bagi sama tukangnya, karena kemarin tak betulkan lagi bentuknya (nisan)," bebernya.S mengatakan profesi juru kunci ini turun temurun dari kakeknya hingga saat ini dipegang dirinya. Dia mengaku punya hak untuk mengelola di situ."Iya (hak), karena di situ pengelolanya juru kunci. Itu turun temurun," katanya."Kalau dulu petunjuk orang tua dari Kelurahan. Kelurahan zaman dulu," tuturnya.Ditawari Rp 100 Ribu SebulanKondisi terkini makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto di Makam Kuncen Lama, Pakuncen, Kota Yogyakarta yang sempat dirusak juru kunci. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanSementara itu, Petra kemarin menawarkan memberikan uang bulanan Rp 100 ribu agar perusakan ini tidak terulang kembali. Tetapi juru kunci menilai jumlah tersebut kurang."Saya enggak minta, monggo. Ini ada orangnya. Ya sekarang kalau saya orang tiga, ya toh orang tiga nek sebulan 100 (ribu), coba tiap hari pagi sore disapu, monggo. Seikhlasnya nek kebangetan ya piye (bagaimana)?," ujarnya.Tidak Ada yang Menyuruh MembersihkanDi sisi lain, S mengakui tidak ada pihak ahli waris yang menyuruh membersihkan makam tersebut. Dia bilang itu sudah jadi tugasnya."Lha ya enggak (ada yang menyuruh) memang itu tugasnya. tugasnya dari dulu. Tapi kalau memang mau ngasih 100 (ribu) ikhlasnya segitu, ya monggo. Saya kan sudah bilang. Tapi di koran apa itu katanya dipaksa dan enggak tahu siapa yang nganu, dipaksa dan diancam. Itu semua tidak benar," katanya.Penjelasan PetraIstri Djaduk Ferianto, Petra Ferianto, menceritakan sedihnya keluarga atas perusakan makam ayahnya oleh juru kunci di Makam Kuncen Lama, Pakuncen, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanPetra mengatakan dirinya selalu memberikan uang ke petugas kebersihan saat nyekar ke makam. Namun, ketika tidak ada petugas kebersihan dirinya juga bingung harus memberikan uang ke mana.Dalam mediasi kemarin, akhirnya Petra memutuskan membayar Rp 500 ribu sebagai 'utang' atas jasa bersih-bersih ke juru kunci, membayar Rp 50 ribu untuk perbaikan makam yang dirusak juru kunci, dan akan membayar uang bulanan Rp 100 ribu. Padahal tak ada aturan tertulis soal pungutan ini."Kesepakatannya kalau kemarin-kemarin dianggap saya tidak membayar okelah itu saya anggap utang saya, tak saur lah, saya bayar. Saya minta dikembalikan lagi kondisi makam bapak saya, terus daripada di kemudian hari juga enggak ketemu lagi, saya menawarkan bagaimana kalau saya langganan per bulan. Gitu, saya menawarkan kalau per bulan 100 bagaimana," katanya."Beliau keberatan karena dihitung per hari sebulan 30 hari, 100 dibagi 30 hari itu jadi seharinya hanya berapa gitu kan. Oke, nanti saya tanya-tanya dulu ke peraturannya bagaimana," ujarnya.Petra berharap ke depan jangan sampai terulang lagi peristiwa ini. Cukup hal ini dialami keluarganya saja."Mediasinya yaitu per bulan saya akan membayar beliau (juru kunci) tapi besarannya saya sesuaikan dengan yang peraturan yang ada," katanya.Kelurahan Sebut Pungutan Sebagai Kearifan LokalLurah Pakuncen, Budhi Riyanto, menyebut pungutan juru kunci di makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto di Makam Kuncen Lama di Pakuncen, Kota Yogyakarta adalah kearifan lokal, Rabu (12/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanSementara itu, soal pungutan, Lurah Pakuncen Budhi Riyanto mengatakan hal itu merupakan kearifan lokal."Makam Kuncen Lama ini memang dikelola secara kearifan lokal oleh para juru kunci-juru kunci. Jadi, tanggung jawab dan pengelolaannya memang ada di beliau-beliau," kata Budhi saat ditemui kantornya.Soal uang bulan ke juru kunci ini menurut Budhi juga tidak ada peraturannya. Katanya praktik ini sudah turun temurun."Ya itu diserahkan kearifan lokal. Kearifan lokal ya memang nanti biar dari juru kunci sendiri," katanya."Itu memang dari turun-temurun, kami dari pihak pemerintah itu baru akan menata setelah peraturannya mungkin ada. Karena selama ini kan memang baru ada perdanya nggih. Nanti kita menunggu peraturan yang lebih mendetil tentang pengelolaan makam ini nanti akan coba akan kami tata," katanya.Budhi mengatakan makam ini menggunakan tanah Sultan Ground atau tanah Kasultanan Yogyakarta. Status makam adalah makam umum yang diurus oleh juru kunci."Makam umum kan, jadi pengelolaannya dikelola oleh juru kunci," ujarnya."Kewenangannya, memang kalau makam umum itu diserahkan kearifan lokal," tuturnya.Budhi berencana akan mengumpulkan para juru kunci dengan harapan mereka bisa tertata dan mengatur tarif.Sementara itu, saat ini kondisi makam mertua Djaduk sudah diperbaiki juru kunci. Kepala nisan sudah kembali terpasang.Selain itu kasus perusakan makam ini berakhir dengan perdamaian di kepolisian.