Sumber Foto : Dok PribadiNamanya Rosa. Umurnya 15 tahun. Saat ini menduduki kelas 1 SMA di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Aceh. Rosa adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Ayahnya telah lama hidup sendiri sejak ibu Rosa meninggal dunia karena kanker. Saat itu Rosa masih di kelas 2 sekolah dasar. Beberapa bulan kemarin, ayah Rosa menghadap Pendamping Sosial kami untuk mendaftarkan Rosa ke Sekolah Rakyat tingkat SMA. Ayah Rosa hanyalah pedagang kaki lima, berjualan rujak dengan gerobak dan mangkal di persimpangan dekat rumahnya.Ayah Rosa ingin anaknya menempuh pendidikan. Seluruh upaya telah dilakukan, bahkan kakak dan abangnya semua melanjutkan pendidikan sampai universitas. Dengan segala keterbatasan ekonomi yang dimiliki, Ayah Rosa bersyukur mempunyai kesempatan mendapatkan bantuan Program PKH, dan otomatis anak-anaknya mendapat privilege untuk dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Namun usia Ayah Rosa semakin sepuh. Kekuatannya semakin berkurang. Tetapi hasrat mengubah kehidupan anak-anaknya tetap tinggi. Dan Ayah Rosa memanfaatkan momen tersebut.Berbeda lagi cerita Fahmi. Berumur 12 tahun. Baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat sekolah dasar. Sejak lama Fahmi meminta kepada ibunya untuk masuk ke pondok pesantren. Fahmi ingin merasakan sekolah asrama. Sejak dia kecil, Fahmi berbagi segala hal dengan saudaranya. Pakaian, tempat tidur, buku sekolah, bahkan peralatan pribadi pun harus bergantian dengan adiknya. Fahmi bermimpi, jika tinggal di asrama maka dia akan memiliki barang pribadi tanpa berbagi dengan orang lain.Saat Fahmi mengantar ibunya mengikuti kegiatan Peningkatan Kapasitas Pertemuan Keluarga (P2K2) yang merupakan kewajiban bagi penerima bantuan PKH, Fahmi mendengar Kakak Pendamping Sosial menjelaskan program Sekolah Rakyat dan menawarkan kepada KPM PKH yang ingin memasukkan anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat. Fahmi mengajukan diri untuk mendaftar.Ayah Rosa dan Fahmi adalah orang-orang yang melihat kesempatan baru dan mereka bermimpi agar kesempatan ini menjadi milik mereka. Mendapatkan pendidikan gratis, dengan sistem asrama, dukungan operasional sekolah, dan tempat tinggal yang bagus adalah keinginan banyak pihak. Terutama orang-orang yang berada di garis marjinal.Sumber Foto : Dok PribadiDi sisi lain, Annisa melarikan diri dan meninggalkan semua fasilitas yang diinginkan banyak orang. Anisa masuk ke Sekolah Rakyat di tingkat SMP. Kemarin saya mendapatkan laporan bahwa Anisa kabur dari Sekolah Rakyat. Saya membayangkan lokasi di belakang asrama putri untuk murid SMP. Bukit yang belum tertutup pagar adalah jalan paling mudah untuk kabur dari asrama. Saat itu saya berpikir semoga semua fasilitas keamanan kompleks Sekolah Rakyat ini cepat tuntas. Pihak sekolah menelepon pendamping sosial yang menjadi penghubung sekolah dan keluarganya. Pendamping langsung menuju lokasi dan mencari informasi yang akurat. Baru kemudian melaporkan kepada kami dan keluarga Anisa.Berdasarkan laporan dari teman sekamar Anisa, sejak awal Anisa tidak ingin bersekolah di situ. Peraturan dan asrama adalah dua hal yang menurutnya sangat mengikat dan mengukung kebebasan. Anisa kabur dari asrama pada malam hari dan diketahui oleh temannya pada saat salat subuh. Mereka mengira Anisa sedang di kamar mandi. Ternyata Anisa tidak ditemukan sampai waktu berangkat sekolah.Pelarian Anisa mengarah ke bukit di belakang gedung asrama. Dan arahnya ke pegunungan Bukit Barisan. Jika salah membaca, bisa jadi Anisa semakin jauh memasuki hutan dan pegunungan, menjauhi perkampungan. Risiko menjadi korban kejahatan dan musibah alam semakin besar. Untungnya, Anisa pulang ke rumah di kota. Pendamping menghubungi pihak sekolah dan mencari solusi berkaitan dengan kasus Anisa. Orang tua Anisa juga ikut serta dalam pertemuan ini. Permasalahan anak bukanlah tanggung jawab sekolah saja.Lain Anisa, lain pula Rosa. Anisa membuat pendamping kesusahan saat sudah memasuki asrama. Sedangkan Rosa sudah membuat pendampingnya pusing tujuh keliling sejak masa asesmen. Pada asesmen awal, Rosa berkenan bersekolah di Sekolah Rakyat. Namun, mendadak mengubah keputusannya dan ingin melanjutkan ke sekolah SMA negeri biasa. Bahkan Rosa mendaftar ke SMA dengan memakai uang sendiri tanpa memberitahukan ayahnya.Saat itu pendamping untungnya, sudah mengunggah berkas Rosa ke dalam aplikasi SETARA, aplikasi untuk mendaftar calon siswa Sekolah Rakyat. Hasil asesmen awal, surat pernyataan yang telah ditandatangani oleh Ayah Rosa, dan semua persyaratan telah dipenuhi. Namun, perubahan Rosa membuat pendamping kami pusing tujuh keliling.Ayah Rosa mengiming-imingi hadiah berupa gawai baru dengan syarat Rosa tetap ke Sekolah Rakyat. Ayahnya juga telah mengganti uang untuk pendaftaran ke SMA negeri. Bahkan gawai telah di tangan, Rosa tetap pada tindakan pemberontakannya. Rosa setiap saat menghubungi pendamping. Bahkan mendatangi pendamping yang sedang bekerja dan merengek untuk mencabut berkas di Sekolah Rakyat. Ayah Rosa sudah menyerahkan semua keputusan kepada pendamping. Beliau meminta tolong agar Rosa tetap bersekolah di Sekolah Rakyat apa pun yang terjadi.Rosa, Fahmi, bahkan Anisa adalah generasi muda saat ini. Melalui merekalah Indonesia Emas dapat tercapai. Tetapi ketidakberuntungan sering berada di pangkuan mereka. Namun negara tidak meninggalkan mereka dan memberi mereka kesempatan yang sama dan layak untuk memperoleh akses pendidikan yang setara dan bersaing.Pada akhirnya, apa pun yang disediakan oleh negara tetap menjadi pilihan dari masing-masing individu, menjadikan sebagai harapan dan mimpi, atau menjadikan halangan dari kebebasan semu. Semua kembali ke diri sendiri. Dan mereka adalah anak-anak yang masih belum mampu berpikir matang. Tugas kita sebagai orang dewasa lah mengarahkan jalan mereka. Tugas kami sebagai ASN lah memastikan orang-orang seperti mereka mendapatkan privilege dari negara.