Alasan Pekerja Kreatif Pilih Apple Device MacBook - iPad Buat Berkarya & Bisnis

Wait 5 sec.

Amanda Mitsuri, Founder Massicot Studio. Foto: Dok. AppleSejumlah pekerja seni dan kreatif menetapkan pilihannya pada Apple device sebagai gadget untuk berkarya dan menjalankan bisnis. Ada alasan kuat mengapa mereka pilih Apple. Menurut Amanda Mitsuri, Founder Massicot Studio, mata dan hatinya kadung menyukai kalibrasi warna yang dihasilkan oleh warna produk Apple, dan itu sangat membantunya dalam membangun mood untuk kerja."MacBook Pro atau device Apple itu kayak ada di hati, mata mata orang seni. Dari kalibrasi warnanya, dan lain-lainnya, itu sangat membangun mood untuk bekerja," kata Amanda, saat ditemui di Jakarta, Rabu (12/8).Mata para pengguna Apple selama ini dimanjakan dengan teknologi yang disebut Retina Display. Teknologi layar ini memiliki tingkat kepadatan tinggi, mampu mereproduksi warna secara halus dan tidak pecah, bagi mata manusia dalam jarak penglihatan normal 30 cm.Amanda punya cerita emosional pada laptop MacBook Pro yang dihadiahi oleh ayahnya pada 2012, ketika ia baru lulus kuliah. Dengan laptop spek kerja itu dia merintis brand Massicot, yang dimulai dengan mendesain logonya, lanjut membuat koleksi artificial gemstone atau batu permata buatan, sampai akhirnya itu bisa menjadi bisnis perhiasan Massicot."Ayah saya bilang, 'Saya gak bisa kasih kamu uang ratusan juta untuk modal, tapi saya yakin device ini bisa menemani kamu berjalan berkarya, berkarier, ke depannya'."Koleksi produk fashion terkini Massicot Studio. Foto: Dok. AppleEksplorasi pada Apple device berlanjut di tahun 2018. Suami Amanda memberinya hadiah sebuah iPad Pro, lengkap dengan Apple Pencil. Hadiah itu diberi untuk menyampaikan pesan bermakna: sebuah pengingat bahwa Amanda sejatinya adalah seorang visual storyteller.Ini adalah tahun di mana Amanda merasa sangat produktif. Dia menjalani dua peran penting sekaligus; sebagai seorang ibu dan seorang pengusaha bidang seni.Dengan aplikasi digital painting Procreate buatan Savage Interactive di iPad Pro, sangat membantunya dalam membuat karya-karya visual, membuat desain packaging, hingga bikin konten media sosial.Dampak melukis di iPad Pro tidak berhenti pada urusan produktivitas semata. Perangkat itu membantunya menemukan kembali sisi dirinya yang selama itu belum sepenuhnya ia sadari—bahwa ia adalah seorang visual storyteller sejak awal.Amanda Mitsuri, Founder Massicot Studio, bekerja dengan iPad Pro. Foto: Dok. AppleDari sanalah lahir karya-karya yang memperkuat identitas Massicot, bukan sekadar sebagai brand perhiasan, melainkan juga sebagai brand yang bercerita lewat visual."iPad Pro itu tidak punya limitasi. Ini seperti studio portabel. Saya bisa bawa itu ke kamar bayi, ke taman, jadi saya bisa kerja di manapun," lanjut Amanda.iPad Pro tidak hanya mengubah cara saya berkarya. Ini sangat membantu saya discover diri, kalau dulu saya adalah seorang visual storyteller. Dengan iPad Pro ini saya merasa muncul karya-karya yang memperkuat identitas brand Massicot yang bukan hanya produk jewelry, tapi juga sebuah brand dengan visual storyteller. - Amanda Mitsuri, Founder Massicot Studio -Assemblr EDU dan Ekosistem AppleCerita berbeda datang dari Hasbi Asyadiq, Founder sekaligus CEO Assemblr. Keputusan menjadikan MacBook sebagai mesin produktivitas utama di perusahaannya bukan sekadar soal performa tinggi di atas kertas. Ada pertimbangan yang jauh lebih strategis: seberapa lama perangkat itu bisa terus diandalkan, dan seberapa mulus ekosistemnya menopang kerja tim sehari-hari.Assemblr merupakan startup teknologi yang mengembangkan ekosistem Augmented Reality (AR) dan visual tiga dimensi (3D). Mereka memiliki produk bernama Assemblr EDU, sebagai platform sarana edukasi imersif yang membantu guru, murid, dan orang tua menciptakan media pembelajaran 3D interaktif berbasis AR tanpa memerlukan keahlian.Bagi bisnis yang terus bertumbuh, membeli perangkat berusia panjang adalah sangat penting. Semakin jarang perangkat perlu diganti, semakin ringan pula beban biaya operasional yang harus ditanggung perusahaan.Hasbi Asyadiq, Founder & CEO Assemblr. Foto: Dok. AppleBerdasarkan pengalamannya, perangkat Apple yang dibeli perusahaannya sejak bertahun-tahun lalu masih tetap bisa diandalkan hingga hari ini."Salah satu kenapa kita pilih Apple, karena lifetime value-nya itu. Jadi kita beli tahun ini, 5 tahun tuh masih sangat reliable gitu lho. Jadi kita nggak perlu lagi beli laptop every years, karena it just work," jelas Hasbi.Sebagai bukti nyata, Hasbi masih menyimpan dan menggunakan MacBook keluaran 2012 miliknya. "I still keep my MacBook 2012, itu masih hidup," ujarnya sambil tersenyum.Daya tahan perangkat adalah separuh cerita, separuh lainnya adalah soal ketenangan pikiran. Ia nyaris tidak pernah lagi berurusan dengan momok klasik yang biasa menghantui pengguna komputer: layar biru tiba-tiba muncul, sistem mendadak crash, atau file penting raib digondol virus.Urusan teknis semacam itu bukan hal sepele yang bisa diabaikan begitu saja. Sebab, di balik setiap laptop yang tiba-tiba crash atau terkena virus, ada waktu kerja yang hilang —dan bagi sebuah perusahaan yang bergerak cepat, waktu adalah aset yang tidak bisa digantikan.Kami tidak pernah ketemu lagi blue screen of death, kena crash, atau kena virus. Data hilang gara-gara virus, itu gak pernah kejadian lagi. - Hasbi Asyadiq, Founder & CEO Assemblr -Assemblr membuat sarana pembelajaran 3D model yang dapat dioperasikan dengan ringan di iPad dan perangkat lainnya. Foto: Dok. AppleApple Bagian dari Cerita dan PerjalananHubungan antara pekerja kreatif dan perangkat yang mereka gunakan tidak selalu bisa diukur hanya dari spesifikasi teknis di atas kertas. Bagi Amanda, MacBook Pro dan iPad Pro adalah saksi sekaligus katalis perjalanan personalnya—dari hadiah kelulusan yang dikembangkan menjadi bisnis perhiasan, hingga tablet yang membantunya menemukan kembali identitas sebagai visual storyteller.Sementara bagi Hasbi, memilih Apple keluar dari pertimbangan yang lebih pragmatis: efisiensi jangka panjang dan minimnya gangguan teknis yang kerap menyita waktu dan energi tim.Dua sudut pandang ini menuju pada satu titik temu, bahwa perangkat kerja yang baik bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga memberi ruang bagi penggunanya untuk fokus membangun karya dan bisnis. Ketika teknologi bekerja tanpa banyak menuntut perhatian penggunanya, di situlah nilai sesungguhnya sebuah perangkat. Tak semata seberapa canggih spesifikasinya, melainkan seberapa besar ia mempermudah orang untuk berkarya dan berbisnis.