Warga memasukkan sampah plastik ke dalam mesin pirolisis di tempat pengolahan Desa Sidorekso, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Yusuf Nugroho/Antara FotoPermasalahan sampah di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, membuat pemerintah desa bersama warga setempat mencari solusi. Mereka secara inisiatif menghadirkan mesin pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar setara bensin dan solar. Siswanto, Koordinator TPS 3R Semar Hijau Desa Sidorekso, mengatakan mesin pirolisis hadir pada 2022. Keinginan membeli mesin pengolah sampah plastik tersebut muncul dari keinginan Kepala Desa Sidorekso untuk mengurangi sampah.Mesin pirolisis tersebut dibeli dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Pembelian mesin itu dilakukan bersamaan dengan mesin insinerator untuk membakar sampah dan mesin pencacah sampah. Seluruh mesin tersebut dibeli dengan harga ratusan juta rupiah.Mesin pirolisis itu dikelola Siswanto bersama Kelompok Masyarakat Pemanfaat TPS 3R. Ia mengatakan mesin tersebut sebenarnya dapat menghasilkan bensin, solar, dan minyak tanah. Namun, minyak tanah belum begitu dibutuhkan untuk pemanfaatan sehari-hari."Seringnya kami gunakan untuk bensin dan solar, karena kami jarang menggunakan minyak tanahnya," kata Siswanto kepada kumparan, Kamis (13/8).Warga memilah sampah plastik di tempat pengolahan sampah di Desa Sidorekso, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Yusuf Nugroho/Antara FotoSejauh ini, bensin dan solar yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kebutuhan internal TPS 3R Semar Hijau. Solar digunakan sebagai bahan bakar dua unit mesin diesel, serta untuk mengoperasikan alat pemilah sampah dan penggiling kompos. Sementara itu, bensin dimanfaatkan untuk mengoperasikan bentor."Keberadaan mesin pirolisis berawal dari banyaknya sampah yang sulit terurai. Kemudian kami coba untuk mengolah sampah plastik menjadi bensin dan solar," terangnya.Cara PengolahanSampah plastik yang dapat diolah harus dalam kondisi masih bagus. Ia tidak merekomendasikan penggunaan sampah plastik yang sudah kotor, seperti tercampur air atau tanah.Kapasitas mesin pirolisis tersebut mampu menampung 50 kilogram sampah plastik. Namun, Siswanto dan rekannya lebih sering mengisi mesin dengan 20 hingga 30 kilogram sampah plastik.Dari sekitar 30 kilogram sampah plastik yang diolah menggunakan mesin pirolisis, dapat dihasilkan sekitar 5 liter setara bensin, 20 liter setara solar, dan 5 liter setara minyak tanah.Minyak mentah menetes ke dalam botol di tempat pengolahan sampah Desa Sidorekso, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Yusuf Nugroho/Antara FotoProses pengolahan sampah dilakukan dengan terlebih dahulu memasukkan sampah plastik ke dalam mesin pirolisis. Kemudian, mesin dipanaskan menggunakan kayu bakar hingga mencapai suhu 75 derajat Celsius."Bensin dan solar serta minyak tanah biasanya mulai keluar dari mesin kalau panas mesinnya sudah mencapai 150 derajat," jelasnya.Selama ini, mesin pirolisis digunakan untuk mengurangi penumpukan sampah di Desa Sidorekso. Siswanto menjelaskan pihaknya belum mengarah pada sektor usaha penjualan bensin dan solar."Bensin dan solarnya belum bisa kami jual. Selama ini memang untuk bahan bakar diesel dan bentor di TPS 3R. Setidaknya bisa mengurangi sampah dulu dan mengoperasikan alat di TPS 3R," ungkapnya.Warga memasukkan sampah plastik ke dalam mesin pirolisis di tempat pengolahan Desa Sidorekso, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Yusuf Nugroho/Antara FotoKeberadaan mesin pirolisis tersebut dinilai dapat membantu mengurangi sampah plastik di Desa Sidorekso. Ia berharap masyarakat semakin sadar untuk memilah sampah."Karena permasalahan sampah itu butuh penanganan bersama. Kalau tidak dipilah akan sulit terurai, kalau dibuang di tanah juga tidak bagus bagi tanah dan sumber mata airnya," imbuhnya.