Sering Minta Antibiotik Tiap Sakit? Ini yang Harus Diketahui sebelum Meminumnya

Wait 5 sec.

Ilustrasi obat-obatan. Pexels/Towfiqu barbhuiyaKamu pernah kepikiran buat minum antibiotik tiap kali sakit, atau bahkan pernah membelinya tanpa resep? Hati-hati, antibiotik bukan sembarang obat, lho. Ada beberapa hal yang perlu kamu tahu sebelum mengonsumsi obat ini. Dari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, tercatat bahwa 19,4% penduduk Indonesia pernah membeli antibiotik tanpa resep hanya untuk gejala umum seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau diare. Memangnya kenapa sih, gak boleh asal pakai antibiotik buat gejala-gejala seperti tadi? Sebelum menemukan jawabannya, yuk kenalan dulu sama antibiotik.Antibiotik, Sang Pahlawan Pemberantas BakteriIlustrasi antibiotik dalam kemasan. Pexels/Etatics Inc.Antibiotik itu golongan obat yang kerjanya membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri, baik yang berasal dari mikroorganisme alami maupun yang dibuat sintetis di lab. Bisa dibilang, antibiotik ini semacam pahlawan yang tugasnya khusus memberantas bakteri.Gimana caranya si pahlawan ini beraksi? Menurut studi di jurnal Frontiers in Pharmacology (2024), antibiotik punya beberapa "senjata": ada yang menghentikan penggandaan DNA bakteri, menghambat pembentukan protein yang dibutuhkan bakteri untuk hidup, merusak dinding selnya, sampai mengganggu metabolisme asam folatnya. Senjatanya memang berbeda-beda, tapi tujuannya tetap sama, yaitu menghentikan bakteri penyebab infeksi.Kenapa Gak Mempan untuk Flu?Ilustrasi seseorang mengalami gejala flu. Pexels/Andrea PiacquadioNah, masalahnya, gak semua penyakit disebabkan oleh bakteri. Flu, batuk, dan pilek yang paling sering bikin orang buru-buru minta antibiotik itu justru kebanyakan disebabkan oleh virus. Padahal antibiotik cuma "dilatih" untuk melawan bakteri.Alasannya sederhana: virus itu gak punya dinding sel, gak punya ribosom (mesin pembuat protein), dan gak punya jalur metabolisme sendiri seperti bakteri. Jadi, "sasaran tembak" yang biasa dipakai antibiotik itu sama sekali gak ada di tubuh virus, makanya percuma kalau dipakai untuk melawan flu.Sayangnya, data SKI 2023 menunjukkan baru 28,7% orang yang tahu fakta bahwa antibiotik hanya berlaku untuk infeksi bakteri. Ketidaktahuan inilah yang menjadi salah satu pemicu munculnya resistensi.Ancaman Bakteri "Kebal" dan Rusaknya Bakteri BaikIlustrasi kultur bakteri di laboratorium. Pexels/Wassily KandarkApa yang terjadi kalau kita asal pakai antibiotik atau berhenti minum sebelum habis hanya karena merasa sudah enakan?Bakteri yang belum mati sepenuhnya bisa beradaptasi dan berubah menjadi lebih kebal. Secara sederhana, inilah yang disebut resistensi antibiotik: kondisi ketika bakteri berubah sehingga antibiotik yang sebelumnya ampuh, jadi gak mempan lagi. Bakteri bisa "melawan" dengan berbagai cara, misalnya memproduksi enzim yang merusak antibiotik, atau mengubah bentuk targetnya sendiri sampai obatnya gak bisa lagi mengenali si bakteri.Selain bikin bakteri jahat makin kebal, pakai antibiotik sembarangan juga punya efek samping lain. Studi di Chinese Medical Journal (2019) menunjukkan kalau antibiotik gak cuma membunuh bakteri penyebab penyakit, tetapi juga bakteri baik yang ada di usus kita. Akibatnya, keseimbangan mikrobiota usus jadi terganggu, dan bisa memicu diare, gangguan pencernaan, sampai bikin tubuh lebih rentan terkena infeksi lain.Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?Ilustrasi konsultasi ke dokter sebelum minum antibiotik. Pexels/cottonbro studioMelihat risikonya yang gak main-main, yuk mulai lebih bijak soal antibiotik. Konsultasi terlebih dahulu ke dokter atau apoteker sebelum mikirin minum antibiotik, dan jangan membelinya sendiri tanpa resep. Kalau sudah diresepkan, habiskan sesuai anjuran, meskipun sudah merasa mendingan. Keputusan kecil yang kita ambil hari ini menentukan apakah antibiotik masih bisa menjadi penyelamat nyawa kita di masa depan, atau justru kehilangan taringnya.