Pemerintah Akan Pulihkan PLTP Sarulla, Rencana Investasi Capai Rp 4,86 T

Wait 5 sec.

PLTP Sarulla di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Foto: Dok. Kementerian ESDMPemerintah tengah dalam upaya untuk memulihkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla di Kabupaten Tapanuli Utara. Dalam agenda ini, penyelesaian administrasi dan rencana investasi yang akan digelontorkan sekitar USD 270 juta atau setara dengan Rp 4,86 triliun (dengan kurs Rp 18.029 per dolar AS).Wamen ESDM Yuliot Tanjung mengatakan dengan angka investasi tersebut, pemerintah menargetkan kapasitas terpasang 330 MW dapat kembali beroperasi optimal pada 2027-2028."Perlu ada tambahan investasi baru itu diperkirakan sekitar 270 juta US untuk mengembalikan kembali ke kapasitas 330 MW dari potensi yang ada 1.100 MW," kata Yuliot dalam keterangannya, Sabtu (1/8).Pemulihan PLTP Sarulla merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengoptimalkan potensi panas bumi hingga sekitar 1.100 MW.Meski demikian, Yuliot menyebutkan penyelesaian proses administrasi membutuhkan waktu hingga Oktober 2026c, baru setelah itu peningkatan kapasitas produksi akan dikejar pada 2027-2028."Yang pertama dari sisi administrasi kita akan selesaikan sampai dengan Oktober 2026 ini. Sudah selesai urusan administrasinya, tahun 2027-2028 ini kita kejar peningkatan kapasitas produksi," ujar Yuliot.Saat ini, kapasitas produksi PLTP Sarulla berada di kisaran 220 MW atau lebih rendah dibandingkan kapasitas terpasangnya yang mencapai 330 MW. Penurunan produksi tersebut dipengaruhi perubahan tekanan uap pada lapangan panas bumi yang menjadi tantangan teknis dalam operasional pembangkit.Setelah kapasitas eksisting kembali optimal, investasi lanjutan akan dilakukan secara bertahap untuk mendukung pemanfaatan potensi panas bumi di wilayah tersebut.PLTP Sarulla berlokasi di Kecamatan Pahae Julu dan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dan dioperasikan oleh Sarulla Operations Ltd. (SOL).Pembangkit ini memiliki kapasitas terpasang 330 MW yang terbagi ke dalam tiga unit, masing-masing berkapasitas 110 MW, pertama Unit Silangkitang (SIL) mulai beroperasi secara komersial pada Maret 2017. Kemudian Unit Namora-I-Langit 1 (NIL-1) pada Oktober 2017 dan Unit Namora-I-Langit 2 (NIL-2) pada Mei 2018.