Mediasi antara kedua belah pihak antara warga bernama Ulfa dengan Lurah Paya Pasir Foto: Dok. IstimewaLurah Paya Pasir, Syerly, meminta maaf atas ucapannya, "Cie, curhat dia bah," kepada seorang warga yang viral di media sosial. Ucapan itu terlontar saat warga bernama Ulfa menyampaikan keluhan terkait lampu penerangan jalan umum (LPJU) kepada Wali Kota Medan Rico Waas.Syerly mengatakan, ucapannya merupakan bentuk candaan karena dirinya sudah lama mengenal Ulfa. Keduanya, kata dia, juga memiliki hubungan keluarga."Permohonan maaf kepada publik. Karena saya merasa dekat dan akrab serta sering bercanda kepada Ibu Ulfa. Saya sama Ulfa ini sudah lama mengenal, bukan baru sekali ini. Dan kita pun ada juga terkait dengan family (hubungan keluarga). Tiap hari kita sering ketemu sapa," kata Syerly saat ditemui di kantornya, Rabu (29/7).Syerly menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Rabu (22/7) sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu, Wali Kota Medan Rico Waas tengah meninjau pengecoran jalan di Jalan Takenaka, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.Syerly turut mendampingi Rico dalam peninjauan tersebut. Ulfa kemudian menemui Rico dan mengeluhkan penerangan jalan. Ulfa disebut telah memasang lampu menggunakan uang pribadinya."Jadi si Ulfa ini langsung curhat meminta sama Pak Rico atas bola lampu, yang mana bola lampu itu sudah didahulukannya pakai dananya sendiri seperti di video. Karena memang kebetulan bila lampu itu dekat sekitar rumah dia. Karena kebetulan pun rumah penduduk di sini jauh-jauh, rumah orang tuanya, tanah kosong, rumah dia, baru tambak," ujar Syerly."Langsung saya dengan spontanitasnya itu, saya bilang, 'Cie, curhat nih ye.' Itu saya tidak ada makna apa-apa, enggak ada. Karena kan memang benar si warga ini, si Ulfa ini dia curhat," sambungnya.Menurut Syerly, sebelum menyampaikan keluhan kepada Rico, Ulfa sempat berkomunikasi dengannya dan menanyakan waktu kedatangan wali kota. Syerly kemudian mempersilakan Ulfa menyampaikan langsung keluhannya."Sebelum Pak Wali datang, dia pun bertanya sama saya, 'Bu, jam berapa Pak Wali datang?' Sebentar lagi, ini di jalan. Masih bercengkerama pun kita, dalam arti di depan rumahnya kita canda tawa. Karena kita merasa kenal sama dia, merasa tidak ada batas sama dia," ucap Syerly.Lampu pocong di Jalan Sudirman, Kota Medan. Foto: Tri Vosa/kumparanLPJU Disebut Sudah Diajukan Sejak Tahun LaluSyerly mengakui Jalan Takenaka membutuhkan penerangan karena kawasan tersebut relatif sepi dan permukiman penduduk tidak padat.Menurutnya, kelurahan telah mengajukan perbaikan penerangan jalan kepada Dinas Perhubungan sejak tahun lalu. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut."Di mana Jalan Takenaka ini, jalannya memang sangat sunyi dan tempat tinggal penduduk itu memang tidak seramai seperti penduduk biasa di lingkungan inti. Untuk pelaporan bola lampu itu sudah kita pernah laporkan ke Dinas Perhubungan setahun yang lalu. Jadi memang situasi untuk Takenaka ini kalau malam itu sunyi. Wajar juga beliau minta penerangan. Tapi kita sebagai kelurahan sudah pernah bermohon minta untuk kelurahan kan semua sudah kita minta," jelas Syerly.Syerly mengatakan, Ulfa sebelumnya pernah menanyakan persoalan penerangan jalan tersebut kepadanya. Saat itu, ia meminta Ulfa bersabar karena kelurahan masih menunggu respons Dinas Perhubungan."Dia sudah memang tanya sama saya, 'Bu, mana lampu ini? Aku beli sendiri pakai uangku.' Oh, ya sudah lah. Masyarakat kita di sini sudah kita ajukan, saya bilang. Cuma karena belum ada juga balasan dari Dinas Perhubungan, tunggu lah dulu, sabar, saya bilang kan," imbuh Syerly.Pelajar melintas di samping pemakaman yang terendam banjir rob di Bagan Deli, Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (25/10/2022). Foto: Fransisco Carolio/ANTARA FOTOJalan Takenaka Kerap Terendam Banjir RobSelain minim penerangan, Syerly mengatakan Jalan Takenaka kerap terdampak banjir rob. Kondisi tersebut membuat keberadaan penerangan jalan diperlukan pada malam hari.Syerly menyebut, belum pernah mendengar kasus begal di kawasan tersebut. Namun, menurutnya, kasus penjambretan pernah terjadi pada tahun ini dengan korban seorang pelajar."Jalan Takenaka ini, setiap pasang, dia paling gawat, pasang rob. Kalau kita banjir pasang, dia lebih besar volumenya daripada banjir hujan. Kalau rawan begal sebenarnya, selama saya dari kecil sampai sekarang, belum pernah saya dengar sini begal. Enggak ada kalau begal kayak macam pakai kelewang, diancam," kata Syerly."Jadi ada anak-anak sekolah main handphone di jalan. Dari depan datang seseorang mengendarai sepeda motor Honda PCX. Diikutinya sambil dia berhenti dulu sebentar, sepi langsung diambil handphone, 'Sat.' Spontan anak tadi menarik tasnya jambret itu," pungkasnya.