Warga di Gunungkidul Jual Ternak demi Beli Air Bersih saat Kekeringan

Wait 5 sec.

Ilustrasi kekeringan. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTOWarga di Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul terpaksa menjual hewan ternak ayam demi membeli air bersih akibat kekeringan.Kondisi kekeringan dirasakan warga di sana sejak April 2026 atau ketika musim hujan berakhir. Dusun Kemesu ini setidaknya dihuni 68 kepala keluarga."Bulan April atau mungkin sudah selesai di musim hujan. Kami mempunyai tandon-tandon pribadi untuk memasukkan air hujan ke dalam tandon. Akan tetapi tandon tersebut hanya mampu memberikan pasokan mungkin satu bulan saja. Setelah itu, kami harus berpikir untuk bisa membeli air tangki begitu," kata Sutopo (46), salah seorang warga Kemesu melalui sambungan telepon dengan wartawan, Selasa (28/7).Sutopo menjelaskan dusunnya memang kerap kesulitan air bersih. Selama ini, warga hanya mengandalkan penampungan air hujan. Sementara, PDAM yang ada di tiga titik mengalir sepekan sekali.Setelah tandon pribadi yang digunakan untuk menampung air hujan habis, warga kemudian membeli pasokan air tangki seharga Rp 120 ribu. Air itu bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga selama dua pekan."Dari untuk mandi, mencuci, memasak, kemudian memberikan air minum untuk ternak," ujarnya.Terpaksa Jual TernakIlustrasi ayam kate. Foto: Iqbal Firdaus/kumparanKondisi ini memaksa warga merogoh kocek lebih dalam. Sebagian besar warga merupakan petani dan peternak, mereka pun menjual sebagian ternaknya. Pertanian yang mayoritas lahan tadah hujan juga hasilnya tak maksimal."Untuk bisa membeli (air) dari warga kami karena mayoritas para petani, mereka mempunyai ternak ayam ataupun ternak yang lainnya, ya memang harus menjual untuk membeli (air) tersebut," katanya.Ternak yang dijual warga mayoritas ayam kampung. Sementara ternak bernilai tinggi seperti kambing dan sapi tetap dipertahankan sebagai tabungan jangka panjang."Tidak menjual sapi ataupun jual kambing. Hanya kami kurangi satu atau ternak ayam kami jual kurangi begitu, ya bisa membeli (air) begitu," katanya."Rata-rata itu yang dijual ayam. Kalau kambing kami merasa sangat eman-eman, karena ya memang itu tabungan untuk jangka panjang," ujarnya.Dua Kali Jual AyamIlustrasi antre air dampak kekeringan Foto: ANTARA FOTO/Adeng BustomiSutopo mengaku tahun ini sudah menjual dua ayamnya untuk membeli air bersih. Satu ekor ia jual seharga Rp 40 sampai Rp 50 ribu."Saya jual ternak ayam itu yang ayam kampung yang kami pelihara gitu saya jual ada dua, kemudian sebagian gaji saya sebagai saya bekerja di kebersihan, gaji saya saya belikan untuk air," katanya.Sutopo mengatakan kekeringan ini telah dihadapi warga Kemesu sejak 2012. Ketika musim kemarau mereka mengalami krisis air bersih. Kawasan ini tak memiliki sungai maupun sumber air tanah.Lanjutnya, banyak pemuda di dusun tersebut memilih merantau ke Yogyakarta dan Solo untuk mencari rezeki.Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul melakukan dropping air bersih di wilayah Pedukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop. Foto: BPBD Gunungkidul Diberitakan sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mulai melakukan dropping air bersih ke wilayah terdampak kekeringan.Total sudah dua kali dropping air bersih dilakukan di Pedukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop.Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan dropping pertama dilakukan Rabu (24/6). Lalu, dropping kedua dilakukan hari ini Rabu (1/7)."Mengulang dropping minggu lalu di lokasi yang sama Kemesu, Semugih, Rongkop. Kondisi di lokasi ada layanan PDAM tetapi bergilir satu minggu sekali," katanya.Pada hari ini, total 40 ribu liter air bersih di-dropping. Di sana, ada 239 jiwa yang terdampak kekeringan.Wilayah Rongkop jadi yang terdampak kekeringan karena kawasan di sana merupakan daerah karst. Daerah tersebut minim air permukaan.Selama ini, selain PDAM, warga banyak mengandalkan air hujan yang ditampung di tandon saat musim penghujan.