Kenapa Odysseus tidak langsung saja bilang: ‘Aku pulang’

Wait 5 sec.

Peringatan: Artikel ini mengandung ‘spoiler’ untuk film ‘The Odyssey’ karya Christopher Nolan.Sepuluh tahun bertempur di Troya, sepuluh tahun kemudian tersesat di lautan. Ketika Odysseus akhirnya menjejakkan kaki di Ithaca—baik dalam puisi epik Homer maupun dalam interpretasi terbaru Christopher Nolan yang diperankan oleh Matt Damon—ia tidak langsung masuk dan mengungkapkan identitasnya. Ia justru berbohong dan mengarang kisah hidupnya. Ia menguji istrinya Penelope (diperankan oleh Anne Hathaway), ayahnya, hingga pengasuh lamanya terlebih dahulu sebelum dia menunjukkan sosok aslinya. Bagi seorang laki-laki yang menghabiskan dua dekade berjuang untuk pulang, ia tampak sangat enggan untuk kembali ke rumah.Keengganan tersebut biasanya ditafsirkan sebagai bentuk ketegangan, siasat, atau sekadar naluri bertahan hidup. Namun, ada kemungkinan lain yang lebih mengusik: bahwa Odysseus tidak sanggup menceritakan kisahnya sendiri karena pada tingkat tertentu ia belum mampu menerima kenyataan tersebut.Trauma yang belum selesaiNolan menyiratkan kondisi Odysseus layaknya seorang veteran perang yang kembali ke rumah. Ini bukanlah hal baru. Psikiater Jonathan Shay membangun seluruh ranah studinya berdasarkan gagasan ini. Dalam bukunya, Odysseus in America (2002), Shay berpendapat bahwa sikap pahlawan ciptaan penyair Yunani kuno Homer tersebut menunjukkan hancurnya rasa percaya, kebas secara emosional, serta kewaspadaan berlebih—kondisi serupa yang ia amati pada para veteran Perang Vietnam. ‘Trailer’ dari The Odyssey. Tak terhitung banyaknya esai yang mengajukan pertanyaan senada: “Apakah Odysseus mengidap gangguan stres pascatrauma (PTSD)?” Pertanyaan tersebut memang relevan, tapi kini sudah terlalu sering diulang hingga berisiko menjadi sekadar hafalan ketimbang pemikiran kritis. Pertanyaan yang jauh lebih menarik bukanlah apakah Odysseus menderita, melainkan mengapa puisi epik tersebut enggan membiarkannya mengakui hal itu secara terbuka. Sebab, Homer sendiri telah menegaskan bahwa Odysseus pulang sebagai pribadi yang sama sekali berbeda.Teori trauma modern memberi kita kosakata yang dapat menyingkap sesuatu yang dieksplorasi dalam The Odyssey dengan sangat presisi. Sejak era 1990-an, para akademisi yang mengacu pada pemikiran kritikus sastra AS Cathy Caruth berpendapat bahwa trauma tidak didefinisikan oleh peristiwa itu sendiri, melainkan oleh ketidakmampuan seseorang untuk menghayatinya secara utuh saat kejadian berlangsung. Artinya, peristiwa tersebut juga tidak bisa diceritakan secara langsung setelahnya.Sebaliknya, trauma hadir kembali secara tersirat melalui pengulangan, penyamaran, serta pecahan-pecahan ingatan. Sigmund Freud sebelumnya telah menggambarkan fenomena serupa: pengalaman traumatis berulang kali muncul kembali dalam bentuk pengulangan aksi, bukan ingatan yang disampaikan secara lugas.Jika dibaca melalui kacamata pemikiran tersebut, paruh kedua The Odyssey tampak bukan lagi sekadar kisah kepulangan yang diberi sentuhan psikologis, melainkan sebuah bentuk penghindaran yang diperagakan.Odysseus tidak melangkah ke dalam kediamannya sendiri lalu mengumumkan siapa dirinya; ia justru tiba dengan menyamar sebagai seorang pengemis. Ketika pengasuh lamanya mengenali bekas luka akibat kecelakaan berburu di masa kecilnya, naluri pertamanya adalah mengancam wanita itu agar tetap bungkam. Saat Penelope akhirnya meminta ia menceritakan kisahnya, Odysseus malah membalasnya dengan rekaan biografi lain—sebuah kebohongan yang disampaikan dengan begitu meyakinkan hingga membuat istrinya menangis. Bahkan, setelah para pelamar mati dan pasangan suami istri itu akhirnya tinggal berdua, ia masih belum mengungkapkan segalanya sebelum mengumumkan bahwa ia harus pergi lagi.Epos ini secara unik memperlihatkan kepastian mengenai siapa saja yang diizinkan—dan tidak diizinkan—untuk mengenali Odysseus. Setiap pengenalan identitasnya oleh sesama manusia dalam The Odyssey selalu membutuhkan pembuktian—mulai dari bekas luka, serangkaian ujian, hingga kisah yang diverifikasi ulang dengan ingatan.Hanya Argos, anjing berburu kesayangannya yang setia, yang mampu mengenali sang tuan tanpa perlu ujian. Anjing tua yang sekarat di atas tumpukan kotoran itu sekadar mengangkat kepalanya dan langsung mengenalinya—sebuah kesetiaan yang mengakar jauh sebelum Perang Troya dan tidak membutuhkan bukti maupun penjelasan.Melihat berbagai ujian serta tipu daya yang ia lakukan, Odysseus tampak sebagai sosok yang tak lagi sanggup menyatukan rekam jejak kelamnya di Troya ke dalam versi diri yang hendak ia tunjukkan kembali kepada orang-orang yang mencintainya. Ia justru memilih untuk menciptakan identitas baru. Rasa bersalah, bukan rasa takutAlih-alih bertanya apakah Odysseus mengidap PTSD, kacamata yang mungkin lebih produktif untuk digunakan adalah cedera moral. Ini bukanlah sebuah diagnosis medis, melainkan sebuah konsep yang menggambarkan dampak psikologis akibat melakukan, membiarkan, atau gagal mencegah sesuatu yang melanggar nilai-nilai moral seseorang.Jika PTSD berpusat pada rasa takut, cedera moral berpusat pada rasa bersalah. Odysseus kehilangan setiap kawan yang berlayar bersamanya, dan ia menuturkan kembali kematian mereka berulang kali—seolah narasi itu adalah urusan yang tak kunjung usai. Kecerdasannya yang tersohor membusuk menjadi perenungan obsesif: penyesalan tanpa henti atas keputusan-keputusan yang berujung pada tewasnya anak buahnya. Baca juga: Moral injury: violating your ethical code can damage mental health – new research Film terbaru garapan Nolan mendorong ke arah citra serupa. Athena, yang baru terungkap di akhir cerita, tampak kurang menyerupai sosok dewi dan lebih mirip manifestasi ingatan Odysseus tentang seorang pendeta perempuan yang tewas di Troya—rasa bersalah yang muncul lewat wajah familier, bukan rasa takut.Melihatnya dari sudut pandang ini, Odysseus pada dasarnya tidak sedang bersembunyi dari warga Ithaca. Ia sedang bersembunyi dari keharusan untuk mengakui secara terbuka apa yang telah—dan gagal—ia lakukan selama berada di Troya.Penafsiran ini bukan sekadar keingintahuan akademis di bidang sastra. Program-program seperti Theater of War karya Bryan Doerries telah lama mementaskan tragedi Yunani Kuno bagi para veteran perang. Program ini berangkat dari premis bahwa kisah-kisah klasik tersebut menyediakan wadah terlegitimasi untuk menyuarakan apa yang sulit mereka ungkapkan secara langsung. Kebenaran tentang kekerasan dan rasa kehilangan jarang sekali dapat disampaikan secara gamblang—ia harus diselipkan secara perlahan.Homer sendiri tak pernah menyelesaikannya secara tuntas. Epos ini diakhiri dengan bersiapnya Odysseus untuk kembali meninggalkan rumah, sementara kisahnya tetap tak terucapkan. The Odyssey mampu bertahan selama 3 ribu tahun bukan karena sosok monster-monsternya, melainkan karena pemahaman mendalam yang ditawarkannya sejak awal: setelah perang usai, kisah mengenai seorang penyintas yang mampu membuatnya kembali dikenal secara utuh sering kali justru menjadi satu-satunya hal yang belum sanggup ia ceritakan.Stephan Blum tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.