Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edi Prio Pambudi, pada acara Indonesia Net Zero Summit 2026, di Jakarta, Sabtu (1/8/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparanPemerintah menyiapkan kebutuhan investasi sektor kelistrikan sebesar USD 182 miliar. Dari total kebutuhan investasi, sekitar 73 persen bakal dikerjakan oleh pengembang swasta dan produsen listrik independen (independent power producer/IPP).Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi, mengatakan kebutuhan investasi tersebut menjadi peluang besar bagi sektor swasta untuk ikut mempercepat transisi energi nasional."182 miliar dolar AS ini adalah pekerjaan kebutuhan investasi untuk rencana kelistrikannya saja. Dan itulah bagian pentingnya," kata Edi pada acara Indonesia Net Zero Summit 2026, Jakarta, Sabtu (1/8)."Sekitar 73 persen dirancang untuk dikerjakan oleh pengembang swasta dan produsen listrik independen. Ini adalah undangan investasi swasta terbesar dalam sejarah energi Indonesia. Dan kepada setiap investor yang hadir di ruangan ini, pipeline-nya nyata dan pintunya terbuka,” lanjut Edi.Edi memperkirakan selama 10 tahun ke depan pekerjaan yang berasal dari transisi energi ini bakal menciptakan 1,7 juta lapangan kerja di berbagai sektor."Lapangan kerja dan pertumbuhan, pemerintah memperkirakan rencana kelistrikan 10 tahun yang baru saja kita susun akan menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan kerja," ujar dia.Dia mengatakan 1,7 juta lapangan kerja bakal tersebar di berbagai bidang, mulai dari insinyur, teknisi, pekerja konstruksi hingga operator di berbagai wilayah."Nah inilah yang kita maksudkan dengan mengatasi transisi yang harus menghasilkan pertumbuhan nyata dan kesejahteraan yang bisa dirasakan secara bersama-sama,” ucap Edi.Warga mengisi token listrik di kawasan Rumah Susun Bendungan Hilir, Jakarta, Rabu (1/1/2025). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTODalam RUPTL 2025-2034, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik baru berkapasitas 69,5 gigawatt (GW). Menurut Edi, kapasitas tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan total pembangkit yang dibangun Indonesia selama 70 tahun terakhir."Sebagai gambaran, dalam satu dekade kita akan membangun hampir dua kali lipat dari seluruh kapasitas yang kita bangun selama 70 tahun sebelumnya," sebut Edi.Sekitar tiga perempat dari tambahan kapasitas akan berasal dari energi terbarukan dan penyimpanan energi, terdiri atas 17 GW tenaga surya, hampir 12 GW tenaga air, 7 GW tenaga angin, 5 GW panas bumi, serta lebih dari 10 GW baterai dan pump storage.Selain itu, pemerintah menargetkan pembangunan 100 GW pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang akan dipasang di sekitar 80.000 desa dan dipadukan dengan sistem baterai yang dikelola melalui koperasi desa."Bapak Presiden Prabowo telah menginstruksikan akselerasi jauh melampaui rencana dasar pemasangan panel surya secara masif hingga menjangkau 80.000 desa, dipadukan dengan baterai dan dikelola melalui koperasi desa," ungkap Edi.Menurut dia, pembangunan PLTS akan menggantikan sekitar 10 GW pembangkit diesel sehingga mampu menghemat devisa negara hingga sedikitnya USD 4 miliar untuk biaya bahan bakar."Menghemat devisa negara hingga paling tidak 4 miliar dolar AS untuk biaya bahan bakar. Kalau kita hitung dengan 100 gigawatt ini sama dengan menyediakan luas lahan sekitar 200.000 hektare atau 1,9 kalinya Jakarta," katanya.Di sisi lain, pemerintah juga akan memperluas akses listrik melalui program listrik desa. Sebanyak 5.700 desa ditargetkan memperoleh akses listrik, yang mencakup hampir 780.000 rumah tangga di wilayah terpencil.