Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanMenteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan, kematian dokter internship yang ditemukan meninggal di Kalibata City tidak berkaitan dengan beban atau jam kerja yang berlebihan.Menurut Budi, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, terdapat persoalan kesehatan jiwa yang berkaitan dengan kasus tersebut."Sudah, sudah. Sudah diperiksa, kemarin sudah ada press release-nya," kata Budi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (29/7).Saat ditanya apakah kematian dokter tersebut berkaitan dengan jam kerja yang panjang, Budi membantahnya."Itu bukan masalah jam kerja. Masalahnya karena ada masalah kejiwaan. Ada masalah kejiwaan," ujarnya.Budi mengatakan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mempertegas pelaksanaan skrining kesehatan jiwa bagi tenaga kesehatan, termasuk peserta program internship, untuk mendeteksi risiko sejak dini."Jadi saya sudah minta, sebenarnya sudah minta, dan sudah ada aturannya. Kita akan pertegas semuanya harus dilakukan screening jiwa," jelasnya.Menurut Budi, risiko bunuh diri dapat diketahui melalui hasil skrining kesehatan jiwa. Karena itu, ia menekankan pentingnya pelaksanaan skrining secara disiplin."Karena orang bunuh diri itu ketahuan dari hasil screening-nya. Itu yang disiplin itu yang harus dilakukan," ucap Budi.Keluarga Besar BEM Kema FK Unhas berduka cita atas berpulangnya dr. Siti Zahra Maghfira (alumnus FK Unhas Angkatan 2019) pada 26 Juli 2026. Foto: Instagram/@bemfkuhSebelumnya dokter muda bernama Siti Zahra Maghfira (SZM) ditemukan tewas setelah diduga melompat dari lantai 18 sebuah apartemen di Jakarta Selatan, pada Minggu (26/7) siang.Korban merupakan perempuan kelahiran 2001. Ia lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.Polisi masih menyelidiki penyebab pasti korban nekat mengakhiri hidupnya.