Picky Eater pada Anak, Ternyata Tidak Selalu Berarti Kekurangan Gizi

Wait 5 sec.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, dr. Marlisye Marpaung, M.Ked, Sp.A(K), dalam talkshow Understanding Your Child's Growth: Milestone, Nutrition & Healthy Development bersama Mirugo di Jakarta Pusat, Jumat (2/10/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan“Anak saya GTM, Dok. Anak saya picky eater, maunya itu-itu saja.” Keluhan seperti ini mungkin pernah disampaikan orang tua saat berkonsultasi mengenai pola makan anak.Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, dr. Marlisye Marpaung, M.Ked, Sp.A(K), menjelaskan bahwa picky eater sebenarnya merupakan istilah untuk seseorang yang hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Kondisi ini tidak hanya dapat dialami anak-anak, tetapi juga orang dewasa.Namun, anak yang picky eater belum tentu mengalami masalah gizi. Menurut dr Marlisye, selama anak masih mendapatkan berbagai jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh, kondisinya bisa saja masih termasuk variasi pola makan yang normal.Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, dr. Marlisye Marpaung, M.Ked, Sp.A(K), dalam talkshow Understanding Your Child's Growth: Milestone, Nutrition & Healthy Development bersama Mirugo di Jakarta Pusat, Jumat (2/10/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparanPicky Eater Tetap Bisa Memenuhi NutrisiDalam kesehariannya, anak membutuhkan lima jenis nutrisi, yaitu karbohidrat, protein terutama protein hewani, lemak, vitamin, dan mineral. Pada anak picky eater, kelima nutrisi tersebut tetap dikonsumsi, tetapi pilihan makanannya sangat terbatas.Misalnya, untuk sumber karbohidrat anak hanya mau jagung dan menolak nasi, kentang, atau ubi. Untuk protein hewani, anak mungkin hanya mau telur dan menolak ayam, ikan, atau sumber protein lainnya.Anak menolak makan. Foto: Shutter StockBegitu juga dengan lemak, sayur, dan buah. Anak mungkin hanya mau minyak goreng sebagai sumber lemak, brokoli sebagai sayuran, dan buah naga sebagai buah.“Sepanjang dia mengkonsumsi semuanya dengan jumlah yang kecil, dan kemudian pemantauan pertumbuhannya tetap dalam kategori baik, sesuai pola pertumbuhan yang baik,” ucap dr. Lisye dalam talkshow Understanding Your Child's Growth: Milestone, Nutrition & Healthy Development bersama Mirugo di Jakarta Pusat, Jumat (2/10).Jika pertumbuhan anak masih mengikuti pola yang baik dan perkembangan sesuai dengan milestone usianya, orang tua tidak perlu terlalu khawatir.Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, dr. Marlisye Marpaung, M.Ked, Sp.A(K), dalam talkshow Understanding Your Child's Growth: Milestone, Nutrition & Healthy Development bersama Mirugo di Jakarta Pusat, Jumat (2/10/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparanTetap Tawarkan Makanan LainMeski anak hanya mau makanan tertentu, bukan berarti orang tua perlu terus memberikan makanan tersebut tanpa mengenalkan pilihan lainnya.dr. Marlisye menyarankan orang tua tetap menyediakan makanan yang disukai anak, tetapi jumlahnya dapat dibatasi sambil menawarkan pilihan makanan lain. Misalnya, jika anak hanya mau telur dan bisa menghabiskan dua butir dalam sekali makan, orang tua dapat memberikan satu butir telur sambil menyediakan sumber protein lain seperti ayam, ikan, atau udang.Dengan begitu, anak tetap mendapatkan makanan yang disukainya sekaligus memiliki kesempatan untuk mengenal makanan lain.Ilustrasi makan bersama keluarga. Foto: Hananeko_Studio/ShutterstockKebiasaan Makan Keluarga Juga BerpengaruhMenurut dr. Lisye, picky eater juga bisa terbentuk karena pola makan di rumah yang tanpa disadari kurang bervariasi. Misalnya, orang tua terbiasa menawarkan makanan yang sama berulang kali sehingga anak tidak memiliki banyak kesempatan untuk mencoba rasa dan jenis makanan lainnya.“Tanpa kita sadari. Nah, jadinya anak juga tidak bervariasi untuk menerima atau mencoba makanan-makanan dan rasa-rasa lainnya. Dia tidak bervariasi jadinya, karena tidak diperkenalkan,” imbuhnya.Kebiasaan anggota keluarga juga dapat menjadi contoh bagi anak. Jika ayah, ibu, atau kakaknya hanya mau mengonsumsi makanan tertentu, anak bisa saja meniru kebiasaan tersebut.Ilustrasi makan bareng keluarga Foto: dok.shutterstockOleh karena itu, waktu makan sebaiknya juga dimanfaatkan sebagai momen anak belajar. Jadi, orang tua mengusahakan setidaknya satu kali dalam sehari untuk makan bersama anak.Saat makan bersama, orang tua dapat menunjukkan kebiasaan makan yang baik. Misalnya, makan sambil duduk, tidak berjalan-jalan, tidak bermain, dan tidak menggunakan perangkat elektronik. Waktu makan juga sebaiknya dibatasi agar anak memiliki rutinitas yang jelas.“Di saat makan itulah, kita juga menunjukkan habit yang baik,” pungkasnya.