Kasus Siswa Kelas 2 SD di Pemalang, Kenali Tanda Anak Jadi Korban Bullying

Wait 5 sec.

Ibu MHAQ (7) menunjukkan foto anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Kebondalem, Kabupaten Pemalang. Foto: Dok. kumparanSiswa kelas 2 SD Negeri 01 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, berinisial MHAQ (7), meninggal dunia pada Rabu (30/9) setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Ia diduga mengalami perundungan dari kakak kelasnya. Polisi masih mendalami kasus dan penyebab pasti kematiannya.Kasus ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan pada anak. Sebab, anak yang mengalami perundungan belum tentu berani menceritakan apa yang dialaminya.Psikolog Madeline Jessica, M.Psi, Psikolog, mengatakan tanda perundungan tidak selalu berupa luka fisik. Perubahan emosi, perilaku, kebiasaan, hingga hubungan sosial juga perlu diperhatikan.Diah Indriyanti memberikan keterangan kepada awak media usai putranya menjadi korban bullying kakak kelas di SDN 1 Kebondalem, Pemalang. Foto: Dok. Istimewa“Internalizing problems” misalnya, dapat terlihat dari anak yang cemas, sedih, atau menarik diri. Sementara “externalizing problems” bisa muncul dalam bentuk mudah marah, agresif, atau menentang. Namun, tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti anak mengalami perundungan sehingga perlu dilihat secara menyeluruh.Perhatikan Perubahan pada Anak-Orang tua dapat mulai waspada jika anak yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi pendiam, mudah menangis, cemas, atau sensitif ketika ditanya soal sekolah.-Perubahan keinginan pergi ke sekolah juga perlu diperhatikan. Misalnya, anak sering mengeluh sakit perut pada pagi hari, menangis saat akan berangkat, atau meminta dijemput lebih awal.Ilustrasi perundungan atau bullying. Foto: panadda design/Shutterstock-Selain itu, amati gangguan tidur, mimpi buruk, perubahan nafsu makan, keluhan sakit kepala atau sakit perut, hingga adanya pakaian rusak, barang hilang, memar, atau luka yang tidak jelas penyebabnya.-Perubahan hubungan sosial dan belajar juga bisa menjadi tanda. Anak mungkin mulai menjauh dari teman, enggan mengikuti kegiatan yang sebelumnya disukai, sulit berkonsentrasi, atau mengalami penurunan motivasi belajar.Menurut Madeline, orang tua tidak perlu menunggu sampai anak menunjukkan semua tanda tersebut. Jika ada beberapa perubahan yang muncul secara berulang, orang tua dapat mulai mencari tahu apa yang sedang dialami anak dengan pendekatan yang tenang.Ilustrasi perundungan atau bullying. Foto: CGN089/Shutterstock“Hal ini dapat terjadi karena sebagian perhatian dan energi emosional anak tersita untuk mengantisipasi situasi yang membuatnya merasa terancam. Jika ada kecurigaan, sebaiknya segera berkomunikasi dengan pihak sekolah,” ucap Madeline kepada kumparanMOM, Jumat (2/10).Bagaimana Membuka Obrolan jika Anak Tidak Mau Cerita?Menurut Madeline, kuncinya adalah membuat anak merasa didengarkan, bukan sedang diinterogasi. Orang tua dapat membangun komunikasi secara bertahap dengan membiasakan diri berbincang setiap hari mengenai pengalaman anak di sekolah, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan.Ilustrasi ibu dan anak. Foto: ShutterstockDengan begitu, anak tidak merasa bahwa setiap kali diajak berbicara berarti ada masalah yang sedang dicari tahu. Madeline menyarankan beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua:1. Pilih waktu yang nyamanJangan memaksakan pembicaraan ketika anak sedang menangis, marah, lelah, atau terburu-buru. Pilih suasana yang tenang sehingga anak lebih nyaman untuk berbicara.2. Gunakan pertanyaan terbukaHindari pertanyaan yang langsung mengarahkan jawaban. Orang tua bisa mengatakan, “Mama ingin tahu bagaimana pengalamanmu di sekolah akhir-akhir ini. Ada nggak kejadian yang bikin kamu sedih, takut, atau nggak nyaman?”3. Dengarkan tanpa langsung menghakimiIlustrasi ibu dan anak. Foto: ShutterstockKetika anak mulai bercerita bahwa ia diejek, dikucilkan, diancam, atau dipukul, respons pertama orang tua sebaiknya bukan langsung memberikan nasihat.Orang tua bisa terlebih dahulu mengatakan, “Mama bisa mengerti kalau kamu merasa sedih setelah mengalami kejadian itu.”4. Yakinkan anak bahwa ia tidak bersalahAnak yang mengalami perundungan terkadang menyalahkan dirinya sendiri. Karena itu, penting untuk meyakinkan anak bahwa ia tidak perlu menghadapi masalah tersebut sendirian.5. Jangan memaksa anak bercerita sekaligusIlustrasi anak dan ibu. Foto: Shutter StockAnak mungkin belum siap menceritakan semua hal dalam satu waktu. Berikan kesempatan dan yakinkan bahwa orang tua akan tetap ada ketika ia siap bercerita.Jika orang tua memiliki kecurigaan terhadap adanya perundungan, Madeline menyarankan agar segera berkomunikasi dengan pihak sekolah. Orang tua tidak harus menunggu sampai anak mampu menceritakan seluruh kejadian secara lengkap untuk mulai memastikan keselamatan dan perlindungannya.