Cerita Ibu: Karier Cemerlang, Raih S3, Sambil Tetap Dampingi Anak Berprestasi

Wait 5 sec.

Ibu Indah saat ditemui kumparan pada Jumat (2/10). Foto: kumparan/Eka NurjanahBagi Indah, mendampingi anak meraih prestasi bukan berarti orang tua harus turun tangan dalam semua hal. Justru, ia dan suami memilih membagi peran sesuai kemampuan masing-masing agar kebutuhan kedua anak mereka tetap terpenuhi.Indah merupakan ibu dari dua anak laki-laki. Di tengah kesibukannya sebagai ibu, ia juga menjalani pendidikan hingga jenjang S3. Dengan berbagai peran tersebut, Indah menyadari bahwa semuanya tidak mungkin dijalani sendirian.“Kalau kita kerjain sendiri itu susah banget, nggak mungkin itu terjadi,” ujar Indah kepada kumparanMOM, Jumat (25/9).Oleh karena itu, ia dan suami membangun support system di dalam keluarga. Keduanya membagi peran berdasarkan kemampuan dan hal yang memang mereka sukai.Suaminya yang lebih menyukai sains dan matematika banyak mendampingi anak-anak dalam urusan akademik. Mulai dari persiapan ujian hingga les, sang suami turut mengambil peran.Sementara Indah lebih banyak mengatur kebutuhan sehari-hari anak, mulai dari nutrisi, jadwal belajar, jadwal les, hingga waktu istirahat. Pembagian peran tersebut juga membuat keduanya lebih leluasa mengamati karakter dan minat masing-masing anak.Saat berusia 6 tahun, Izzan mulai menunjukkan ketertarikan pada matematika dan hal-hal yang berkaitan dengan logika. Berbeda dengan kakaknya, Irza yang lebih tertarik pada bahasa Inggris, sains, hingga olahraga seperti berenang.Bagi Indah, perbedaan tersebut justru menjadi petunjuk bagi orang tua untuk memberikan lingkungan yang sesuai dengan minat anak.“Peran orang tua memang memberikan prepare environment. Bagaimana kita menyiapkan lingkungan sebaik-baiknya, sehingga pada akhirnya minat anak ini keluar,” katanya.Menurut Indah, orang tua perlu peka melihat hal-hal yang disukai anak dan memberikan kesempatan untuk mengeksplorasinya. Yang tak kalah penting, anak tetap perlu merasa senang dan tidak menjalani aktivitas karena paksaan orang tua.Berawal dari Ketertarikan pada MatematikaKetertarikan Izzan pada matematika kemudian membawanya mengikuti kompetisi International World Mathematic Invitational (IWMI). Kompetisi tersebut menjadi pengalaman internasional pertama bagi Izzan yang saat itu masih berusia 6 tahun.Sebelumnya, Izzan mengikuti babak penyisihan di Indonesia dan berhasil meraih medali emas. Hasil tersebut kemudian memberinya kesempatan untuk mengikuti final round di Jepang.Indah dan suami pun berdiskusi sebelum memutuskan membawa Izzan ke Jepang. Bagi mereka, pengalaman tersebut bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga kesempatan bagi anak untuk belajar menghadapi lingkungan baru.Izzan akan bertemu anak-anak dari berbagai negara, mengenal budaya berbeda, sekaligus belajar beradaptasi di tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Ketika ditanya, Izzan ternyata menyambut kesempatan tersebut dengan antusias.“Dia juga happy banget untuk ikut lomba ini tanpa paksaan dari orang tuanya,” kata Indah.Sempat Sedih karena Toilet JepangFinal round berlangsung di Chiba University. Di hari perlombaan, Izzan harus mengerjakan soal sendiri tanpa didampingi orang tua. Indah dan suami hanya bisa mengantarnya sampai depan ruangan ujian. Setelah itu, Izzan masuk dan menghadapi ujian bersama peserta lainnya.Bagi Indah, keberanian Izzan memasuki ruangan seorang diri di negara yang belum pernah ia kunjungi sudah menjadi pencapaian tersendiri. Namun, di tengah ujian, situasi tak terduga terjadi. Izzan tiba-tiba sakit perut dan harus pergi ke toilet.Ia pun harus menyampaikan keinginannya kepada pengawas yang bukan orang Indonesia. Setelah berhasil meminta izin, Izzan pergi ke toilet dan kembali menghadapi tantangan berikutnya: menggunakan toilet modern di Jepang seorang diri. Waktu ujian pun terus berjalan.Ketika akhirnya kembali ke ruangan, waktu yang tersisa sudah hampir habis. Izzan merasa banyak soal yang belum dikerjakan secara maksimal.Usai ujian, ia menceritakan hal tersebut kepada orang tuanya dengan wajah sedih. Ia merasa banyak soal yang kosong dan harus dikerjakan terburu-buru.Namun, Indah dan suami tidak menjadikan hasil ujian sebagai satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Mereka tetap memberikan apresiasi karena Izzan sudah berani mengikuti kompetisi, berlatih, dan menyelesaikan berbagai tantangan selama prosesnya.Hingga tiba hari pengumuman. Di luar dugaan Izzan yang merasa telah gagal, ia justru berhasil membawa pulang medali perak. Izzan bahkan sampai berkaca-kaca dan memastikan kepada orang tuanya bahwa medali tersebut benar-benar miliknya.“Jadi saat itu dia sangat happy, dia sangat bangga dan juga dia merasa bahwa rutinitas dan konsistensi itu merupakan hal yang sangat penting dan memang akhirnya hasil itu tidak mengkhianati dari proses yang sudah Izzan lakukan,” tuturnya.Tak Menjadikan Medali sebagai TargetIndah dan suami memang ingin anak-anak mereka memiliki pencapaian. Namun, mereka tidak menetapkan target seperti harus masuk universitas tertentu, mendapatkan medali tertentu, atau memperoleh skor tertentu.Hal yang terus ditanamkan justru semangat untuk belajar dan menjalani sesuatu yang memang disukai.“Yang kita inginkan selalu kita tanamkan ke anak-anak kita adalah bagaimana caranya dia menjalankan suatu hal yang dia bahagia untuk menjalaninya, dia bisa bermanfaat untuk banyak orang dan juga dia punya semangat belajar yang terus-menerus,” sambungnya.Pengalaman Izzan mengikuti kompetisi di Jepang juga dimanfaatkan Indah dan suami untuk memperkenalkan kemungkinan-kemungkinan baru kepada anak-anak.Saat mengunjungi Chiba University, mereka menunjukkan lingkungan kampus kepada Irza dan Izzan. Anak-anak pun mulai membayangkan kemungkinan suatu hari nanti bisa belajar di luar negeri.Bagi Indah, pengalaman tersebut menjadi cara sederhana untuk menanamkan motivasi belajar. Sebab, ia percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengejar sebuah gelar atau prestasi, tetapi juga tentang membangun rasa ingin tahu dan semangat belajar yang terus hidup dalam diri anak.“Belajar itu nggak pernah berhenti,” pungkas Indah.