• Batang, Jawa Tengah, akan menjadi pusat AI terbesar di Asia melalui Zankore ‘AI Factory’.• Ironisnya, Batang harus menyediakan air dalam jumlah banyak di tengah ancaman krisis air.• Pemerintah bakal kesulitan untuk memastikan ketersediaan air bagi semua pihak.Rencana proyek Zankore AI factory atau pusat pengembangan akal imitasi dari Indosat Ooredoo Hutchison (Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA) merupakan salah satu upaya Indonesia menjadi hub AI regional. Baca juga: Bisakah ASEAN membangun masa depan pusat data yang berkelanjutan? Pelajaran dari Malaysia bisa jadi pengingat keras Proyek ini menargetkan kapasitas AI Factory hingga 1 gigawatt dan bakal terus berkembang secara bertahap. Tahap awalnya sekitar 200 megawatt dan direncanakan mulai dibangun di Batang, Jawa Tengah, pada paruh pertama 2027. Masalahnya, fasilitas canggih Zankore bukan hanya membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar. Superkomputer fasilitas tersebut juga membutuhkan air sangat banyak untuk sistem pendinginnya. Padahal, selama 5 Juni - 28 September 2026, Jawa Tengah menetapkan status siaga kekeringan yang berdampak bagi 2,34 juta jiwa di 784 desa, termasuk di Batang. Pemerintah provinsi pun menyiapkan bantuan 75,46 juta liter air bersih bagi jutaan penduduk.Pertanyaannya, apakah pemerintah bisa menjamin ketersediaan air bagi server maupun masyarakat di tengah krisis air tersebut?Zankore butuh minum 9 juta liter air per hariSetiap kali kita mengetik pertanyaan ke chatbot, ribuan chip di pusat data bekerja dan menghasilkan panas. Chip perlu ‘minum’ untuk menghilangkan panas yang tinggi dengan menguapkan air di menara pendingin (tower). Air juga dipakai untuk keperluan lain pusat data seperti pembangkit listrik. Tim peneliti University of California, Amerika Serikat (AS) (2025) menghitung kedua jalur pemakaian dan menyebut water footprint (jejak air) AI sebagai sesuatu yang jarang dibuka ke publik.Menurut perhitungan mereka—berdasarkan proyeksi Microsoft untuk lokasi pusat data AI di berbagai negara—Indonesia adalah negara yang paling boros air pendingin. Angkanya mencapai 1,9 liter untuk setiap kilowatt-jam listrik yang dipakai server. Ini terjadi karena kondisi iklim dan cuaca lembab di Indonesia membuat air sulit menguap, sehingga memaksa pendingin menguapkan lebih banyak air untuk membuang panas yang sama. Kalau kita memakai angka proyeksi dari Microsoft, tahap pertama Zankore bisa menguapkan 4,8 sampai 9,1 juta liter air per hari. Angka terendah memperhitungkan daya yang terpakai untuk kebetuhan non-server, sedangkan tertinggi untuk kebutuhan pendingin plus server dengan asumsi seluruh 200 megawatt listrik menyala terus-menerus.Artinya, dalam 8 sampai 16 hari, jumlah air yang dibutuhkan Zankore bisa setara seluruh bantuan air bersih Jawa Tengah selama sebulan. Jika mencapai kapasitas maksimalnya (1 gigawatt), maka waktunya akan lebih cepat: 2 - 3 hari.Chip Nvidia yang dipakai Zankore menggunakan menara pendingin evaporasi dengan panas yang dibuang ke luar gedung. Ada juga opsi pemakaian sistem pendinginan kering dari air laut yang bisa menghemat air bersih tapi berdampak pada ekosistem di laut.Sampai tulisan ini dibuat, Zankore belum mengumumkan pilihannya. Baca juga: PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata Apakah setimpal dengan nilai investasi Rp82 triliun?Nilai investasi Zankore cukup jumbo di kisaran Rp82 triliun. Angka yang melampaui target lima tahun investasi Kawasan ekonomi khusus (KEK) kota batang sebesar Rp 75,8 triliun. Jika dilihat berdasarkan angka, proyek ini tampak menguntungkan secara ekonomi bagi Batang dan Provinsi Jawa Tengah.Pemerintah bahkan menjamin ketersediaan air untuk kawasan industri Batang termasuk untuk Zankore AI Factory dengan membangun infrastruktur air baku di Batang senilai Rp 409,7 miliar dari APBN. Kapasitasnya 285 liter per detik, atau sekitar 24,5 juta liter per hari.Jika Zankore memakai sumber ini untuk menara pendinginnya, tahap pertama bisa menyerap 30% lebih dari kapasitas tersebut. Pada skala 1 gigawatt, kebutuhannya bisa melampaui seluruh kapasitas yang ada.Sayangnya, pusat data seperti ini bersifat padat modal bukan padat karya. Penelitian (2026) yang mengompilasi manfaat dari ribuan pusat data di AS menemukan bahwa fasilitas semacam ini biasanya menyerap kurang dari 100 pekerja tetap. Sementara itu, manfaat ekonominya hampir seluruhnya dinikmati oleh orang-orang kota. Di wilayah setempat, manfaat ekonominya mungkin nyaris tidak ada. Aliran keuntungan untuk proyek Zankore juga perlu dilihat. Menurut catatan analis pasar modal, saham Zankore dimiliki Ooredoo 49%, Indosat 37%, NVIDIA 11%, dan Nokia 3%. Jadi 63% saham dipegang perusahaan dari Qatar, AS, dan Finlandia. Baca juga: Akankah DEFA bisa menjamin kerahasian data WNI lintas ASEAN? Chip dan perangkatnya juga diimpor, sehingga sebagian besar belanja modalnya justru menjadi pendapatan pabrik di luar negeri, bukan dalam negeri.Dalam ilmu ekonomi, pola ini disebut eksternalitas negatif. Keuntungan Zankore masuk ke pemegang saham. Sebagian ongkos airnya tertinggal di Batang, dan warga Batang tidak pernah deal kontrak dengan siapa pun.Bisa jadi tragedi permanenDalam menjalankan pabrik AI, operator Zankore tidak boleh membiarkan server mati apapun yang terjadi. Dan sudah menjadi tugas pemerintah untuk menjamin segala kebutuhan bisnis jumbo ini termasuk ketersediaan air.Masalahnya, pesisir utara Jawa Tengah sedang menghadapi persoalan penurunan tanah. Badan Geologi dan Institut Teknologi Bandung (ITB) mencatat laju penurunannya 6 - 20 cm per tahun di Pekalongan-Batang. Lapisan tanah yang sudah memadat tidak bisa menampung air sebanyak dulu, dan air laut bisa merembes masuk lalu menggenangi rumah-rumah warga.Dan kerusakan seperti ini hampir tidak bisa dipulihkan. Gelombang bedol desa karena lingkungan penduduk yang tergenang air berisiko tak terhindarkan.Pemerintah perlu bertindak tegas meminta Zankore membuka data kebutuhan airnya untuk memudahkan mitigasi pengelolaan air yang berkeadilan di saat krisis melanda. Otoritas juga perlu memastikan Zankore memilih teknologi yang lebih hemat air dan listrik.Sistem pengendalian risiko yang ketat dan tegas juga berperan untuk melindungi operator. Server tidak bisa menyala di atas tanah yang amblas dan di tengah cekungan yang kering. Pun, langkah yang sama semestinya tak hanya berlaku bagi Zankore. Proyek pusat data yang juga menuai polemik seperti di Jatiluhur (Jawa Barat), juga perlu tindakan serupa.Kalau airnya habis, semua pihak kalah bersama. Sebaliknya, kalau airnya terjaga, semua pihak bisa bertahan bersama. Baca juga: Rob setiap bulan di Kota Pekalongan: Siapa menanggung akibatnya? Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.