Local Hero Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah menemukan cara untuk mengajak para eks-Pekerja Migran Indonesia (PMI) membangun kembali kehidupan di kampung halaman. Foto: Dok. PertaminaKepiting cangkang lunak bukan sekadar komoditas. Dari budidaya tersebut, Rato (46) yang merupakan seorang Local Hero Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah menemukan cara untuk mengajak para eks-Pekerja Migran Indonesia (PMI) membangun kembali kehidupan di kampung halaman.“Kita memang mengawalinya karena ada permasalahan yaitu banyak eks-PMI dan juga eks-ABK (Anak Buah Kapal). Ketika mereka sudah tidak menjadi PMI, tidak menjadi anak buah kapal, menjadi permasalahan tersendiri. Dengan kehadiran program di Kampung Kepiting, menambah nilai ekonomi yang tadinya tidak punya penghasilan sekarang bisa mendapatkan penghasilan,” kata Rato ketika berbincang dengan kumparan di Grha Pertamina, Jakarta pada Jumat (28/8).Dengan dukungan Pertamina melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), utamanya untuk panel surya 6.400 WP, peralatan budidaya, serta pemanfaatan kembali palet bekas untuk membangun inovasi dalam budidaya kepiting, kini Rato dan kelompoknya mencoba membuktikan bahwa peluang untuk hidup lebih baik tak harus dicari jauh-jauh dan bisa dibangun dari kampung sendiri.Rato merupakan lulusan D3 Perikanan dan sejak lulus telah menekuni usaha budidaya kepiting dan ikan. Selain itu, Rato juga memiliki usaha kuliner bernama Warung Sifu yang telah berjalan sejak 2012 hingga saat ini.Berbekal pengalaman di bidang perikanan dan kuliner tersebut, Rato kemudian mencoba menularkan pengetahuan dan keterampilannya kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Dari situlah ia tergerak untuk mengorganisasi masyarakat dalam kelompok, terutama karena melihat banyaknya eks-PMI dan eks-ABK yang masih ingin bekerja, tetapi kesulitan menemukan peluang setelah tidak lagi bekerja di luar negeri atau melaut.Bahkan, kini sudah ada salah satu masyarakat yang berhasil membuka restoran sendiri berbekal pengalamannya di Kampung Kepiting.Local Hero Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah menemukan cara untuk mengajak para eks-Pekerja Migran Indonesia (PMI) membangun kembali kehidupan di kampung halaman. Foto: Dok. Pertamina“Saya tularkan ke kelompok, karena melihat banyak yang mungkin mereka masih mau bekerja tapi tidak ada peluang, saya arahkan mereka ke kelompok. Bahkan ada salah satu koki sudah buka warung makan juga di istilahnya di kota. Karena dia sudah punya skill-nya,” cerita Rato.Kini Rato tak hanya mengembangkan kelompok dengan budidaya kepiting cangkang lunak biasa. Alih-alih demikian, ia mengintegrasikan budidaya tersebut dengan sektor wisata.Adapun di kelompok itu, terdapat beberapa program selain budidaya kepiting cangkang lunak. Di antaranya adalah usaha kuliner terintegrasi, pemancingan sampai susur sungai untuk para pengunjungnya.Sementara untuk budidaya kepiting cangkang lunak, kelompok juga sudah mengembangkan inovasi rumah susun kepiting berbasis energi (Rusun Tinggi). Hal itu membuat berbagai keunggulan dalam budidaya mulai dari penghematan lahan, pemberian pakan yang bisa lebih efektif, pencegahan kanibalisme dan predator, pengolahan air yang lebih terkontrol sampai pertumbuhan kepiting yang lebih cepat.Inovasi tersebut juga memanfaatkan limbah non B3 dari Pertamina untuk membuat Rusun Tinggi. Limbah yang digunakan di antaranya adalah pallet bekas sebagai kerangka Rusun Tinggi dan gallon bekas untuk wadah tempat hidup kepiting.Local Hero Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah menemukan cara untuk mengajak para eks-Pekerja Migran Indonesia (PMI) membangun kembali kehidupan di kampung halaman. Foto: Dok. PertaminaDengan berbagai program tersebut, Rato mengungkap omzet yang dihasilkan DEB Kampung Kepiting bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulannya. Hal itulah yang nantinya akan dibagi pada masyarakat eks-PMI yang tergabung dalam Kelompok Mamaku Berdikari sebagai penggerak DEB Kampung Kepiting.“Karena dengan adanya program di Kampung Kepiting, alhamdulillah dengan omset Rp 70-90 juta per bulan itu mereka dapat merasakan hasilnya. Itu (omzet) satu kelompok. Kita terdiri dari bapak-bapak 10, ibu-ibunya 10, jadi dua kelompok di situ. Nanti setelah dipotong biaya operasional, terus kita potong 5 persen buat kas, 5 persen buat tabungan, kita bagi-bagi yang bekerja di situ,” ujarnya.Local Hero Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah menemukan cara untuk mengajak para eks-Pekerja Migran Indonesia (PMI) membangun kembali kehidupan di kampung halaman. Foto: Dok. PertaminaSaat ini kepiting hasil budidaya memang masih difokuskan untuk lini kuliner DEB tersebut. Meski demikian, Rato tak menutup kemungkinan jika ada pengunjung atau wisatawan yang ingin membelinya sebagai oleh-oleh.Dengan adanya program DEB dari Pertamina, Rato menjelaskan masyarakat di sekitarnya memang sangat terbantu. Hal itu terasa utamanya dari aspek pengeluaran untuk biaya listrik operasional Kampung Kepiting.“Kita sangat terbantu, sebelumnya kita harus menanggung biaya listrik yang lumayan untuk pengeluaran operasional di Kampung Kepiting. Tapi setelah ada DEB kita bisa hampir terbantu 60 persenan lah,” kata Rato.Kini, sudah sekitar lima tahun terakhir Rato aktif menggerakkan masyarakat melalui kelompok Mamaku yang mengembangkan Kampung Kepiting di Cilacap.Sementera itu VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyampaikan bahwa kehadiran program DEB bukan semata-mata soal energi, tapi bagaimana energi terbarukan itu mendorong kemandirian.“Bagi Pertamina, DEB bukan sekadar menghadirkan sumber listrik, tetapi juga menghadirkan harapan. Melalui program DEB, energi bersih menjadi penggerak aktivitas produktif masyarakat, membuka peluang usaha, serta membantu desa tumbuh lebih mandiri secara ekonomi dan energi,” kata Baron.