Direktur Utama Geo Dipa Energi Yudistian Yunis dalam Media Gathering di Rancamaya Bogor, Jumat (2/10). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparanSejumlah maskapai Jepang mulai menjajaki pembelian kredit karbon dari PT Geo Dipa Energi (Persero) untuk mengimbangi emisi yang dihasilkan dari aktivitas penerbangan mereka di Indonesia.Direktur Utama Geo Dipa Energi Yudistian Yunis mengatakan penjajakan tersebut menjadi salah satu peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan pasar kredit karbon sekaligus membuka sumber pendanaan baru bagi proyek panas bumi.“Beberapa airline Jepang, seperti JAL [Japan Airlines] atau ANA [All Nippon Airways], coba ngobrol. Boleh enggak kami beli karbonnya? Kan, pesawat kami melintas di Indonesia, kami melepaskan karbon terus. Supaya kami offset karbon yang kami lepaskan,” ujarnya dalam Media Gathering di Rancamaya Bogor, Jumat (2/10).Selain Jepang, permintaan kredit karbon juga datang dari pasar Eropa. Yudistian mengatakan meningkatnya kebutuhan perusahaan global untuk melakukan kompensasi emisi membuka peluang bagi kredit karbon yang dihasilkan dari proyek energi panas bumi.Ilustrasi maskapai peerbangan ANA All Nippon Airways milik Jepang Foto: Shutter Stock“Banyak sekarang yang mencari karbon. Jepang sudah minta, Eropa juga banyak,” kata Yudistian.Menurutnya, permintaan dari korporasi internasional tersebut menunjukkan kredit karbon dapat menjadi sumber nilai ekonomi tambahan bagi proyek panas bumi. Geo Dipa pun melihat peluang untuk mengembangkan perdagangan karbon secara langsung dengan perusahaan internasional.Namun, mekanisme perdagangan secara langsung tersebut masih membutuhkan pengaturan pemerintah. Hal yang perlu diatur antara lain mekanisme perdagangan serta alokasi kredit karbon.Kredit Karbon Bisa Jadi Sumber PendanaanGeo Dipa tidak hanya melihat kredit karbon sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan. Perusahaan juga mengkaji pemanfaatannya sebagai instrumen untuk mendapatkan pendanaan proyek.Yudistian mencontohkan pengalaman Geo Dipa melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM) bersama Jepang. Dari skema tersebut, Geo Dipa memperoleh tambahan pendanaan sekitar USD 10 juta yang dikaitkan dengan pengurangan emisi dari proyek panas bumi.“Kalau kita ekivalensikan dengan 55 MW-nya Patuha 2, itu setara dengan 1 tonnya sekitar USD 14,” katanya.Menurut Yudistian, skema tersebut membuka peluang bagi Geo Dipa untuk memperoleh pendanaan lebih awal dengan memanfaatkan potensi kredit karbon dari proyek yang akan dikembangkan.Direktur Utama Geo Dipa Energi Yudistian Yunis dalam Media Gathering di Rancamaya Bogor, Jumat (2/10). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparanPerusahaan dapat menjanjikan kredit karbon yang dihasilkan dari proyek kepada pihak yang berminat memperoleh klaim atas pengurangan emisi tersebut. Dengan begitu, pendanaan bisa diperoleh sebelum proyek sepenuhnya menghasilkan kredit karbon.“Kalau kita bisa pledge, kita janjikan ini karbon yang mau kita bangun, nanti boleh kamu klaim, kita sudah bisa dapat uangnya dulu sekarang untuk equity,” ujarnya.Skema tersebut menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan proyek panas bumi yang membutuhkan modal besar sejak tahap awal. Pengembangan proyek panas bumi mencakup kegiatan eksplorasi, pengeboran sumur, hingga pembangunan pembangkit sebelum menghasilkan listrik.Selain kredit karbon, Geo Dipa juga menyiapkan alternatif pembiayaan lain, termasuk penerbitan obligasi. Opsi tersebut menjadi bagian dari skema creative financing perusahaan untuk memperkuat sumber pendanaan ekspansi.Geo Dipa tengah mengembangkan tambahan kapasitas pembangkit panas bumi melalui proyek Dieng Unit 2 dan Patuha Unit 2. Masing-masing proyek memiliki kapasitas sekitar 55 megawatt (MW), sehingga total tambahan kapasitas yang dikembangkan mencapai sekitar 110 MW.