Pekerja mencopot pagar keamanan setelah serangan 6 Januari di Gedung Capitol di Washington, Amerika Serikat. Foto: Joshua Roberts/ReutersPertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat (AS) melambat lebih dari perkiraan pada September 2026. Jumlah pekerja yang terserap juga direvisi turun tajam untuk dua bulan sebelumnya, sehingga peluang Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga pada Oktober semakin tipis.Mengutip Reuters, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan nonfarm payrolls hanya bertambah 29.000 pekerjaan pada September. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebanyak 90.000 pekerjaan.Data Agustus juga direvisi turun. Pertumbuhan payrolls bulan tersebut menjadi 133.000 pekerjaan dari sebelumnya 162.000 pekerjaan.Sementara itu, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,2 persen pada September dari 4,1 persen pada Agustus. Kenaikan tersebut terjadi seiring bertambahnya jumlah masyarakat yang masuk ke pasar tenaga kerja.Secara keseluruhan, perekonomian AS menciptakan 60.000 pekerjaan lebih sedikit pada Juli dan Agustus dibandingkan perkiraan sebelumnya. Data Juli bahkan direvisi menunjukkan ekonomi kehilangan 10.000 pekerjaan.Meski demikian, perlambatan tersebut belum menunjukkan pelemahan tajam di pasar tenaga kerja. Ekonom menilai data September turut dipengaruhi faktor musiman karena libur Labor Day jatuh relatif lebih akhir tahun ini.Selain itu, belum terlihat peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara luas. Pengajuan awal tunjangan pengangguran masih berada di level terendah dalam 57 tahun, di tengah laba korporasi yang kuat dan permintaan domestik yang tetap bertahan.Kondisi tersebut membuat pasar tenaga kerja AS dinilai masih berada dalam kondisi “low-hire, low-fire”, yakni perusahaan tidak banyak merekrut pekerja baru, tetapi juga tidak melakukan PHK secara besar-besaran.“Ini adalah laporan ketenagakerjaan yang mengecewakan dan menjadi pengingat bahwa pasar tenaga kerja dengan perekrutan rendah dan PHK rendah tidak pernah benar-benar hilang,” kata Kepala Ekonom AS Fitch Ratings Olu Sonola.Menurut dia, lemahnya pertumbuhan lapangan kerja, kenaikan tingkat pengangguran, pertumbuhan upah yang terkendali, serta revisi turun data payroll sebelumnya memberikan sedikit alasan bagi The Fed untuk mempertahankan opsi kenaikan suku bunga pada Oktober.Rata-rata pertumbuhan lapangan kerja dalam tiga bulan terakhir mencapai 51.000 pekerjaan per bulan, naik dibandingkan 23.000 pekerjaan pada periode yang sama tahun lalu.Ekonom memperkirakan AS membutuhkan sekitar 50.000 pekerjaan baru per bulan untuk mengimbangi pertumbuhan populasi usia kerja. Angka tersebut turun signifikan karena berkurangnya pasokan tenaga kerja akibat pensiun dan kebijakan pembatasan imigrasi pemerintahan Donald Trump.Peluang Kenaikan Suku Bunga Oktober MenyusutData ketenagakerjaan tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.Pasar keuangan sempat memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 27-28 Oktober hanya 13 persen, sebelum kembali naik menjadi sekitar 23 persen. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, angka tersebut tidak banyak berubah dibandingkan sehari sebelumnya.Ekspektasi kenaikan suku bunga sebelumnya juga telah turun tajam. Pada awal pekan, peluang tersebut masih berada di sekitar 70 persen, tetapi kemudian terpangkas setelah data inflasi Juli dan Agustus menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan.The Fed pada bulan lalu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 persen-4 persen, kenaikan pertama dalam tiga tahun. Bank sentral AS juga mengisyaratkan masih terbuka peluang kenaikan suku bunga berikutnya.Namun, inflasi yang masih berada di atas target 2 persen membuat ekonom memperkirakan The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga pada Desember.Di tengah perkembangan tersebut, pasar saham Wall Street bergerak menguat. Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama, sementara imbal hasil US Treasury naik setelah sempat turun.Di sisi lain, prospek pasar tenaga kerja AS masih menghadapi sejumlah risiko. Ekonom memperkirakan kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik AS-Israel dengan Iran dapat mulai menekan pasar tenaga kerja hingga akhir 2026 dan memasuki 2027.Harga diesel bahkan telah mencapai rekor tertinggi dan berpotensi menekan sektor transportasi serta pertanian. Tarif perdagangan yang masih berlaku juga menjadi perhatian, terutama setelah survei Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan meningkatnya kekhawatiran manufaktur terhadap perang dagang dengan Kanada.