Rahasia di Balik Awetan Koleksi Serangga Ratusan Tahun: Mengapa Harus Disimpan?

Wait 5 sec.

Gambar 1. Koleksi spesimen serangga di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) BRIN.Serangga merupakan kelompok hewan dengan keanekaragaman tertinggi di bumi. Lebih dari 75 persen spesies organisme yang telah dideskripsikan termasuk ke dalam kelompok ini. Namun, pengetahuan manusia tentang keanekaragaman dan peran ekologis serangga tidak dapat hanya bergantung pada pengamatan sesaat di alam. Di balik laci-laci koleksi museum yang tampak sunyi, tersimpan jutaan spesimen serangga yang menjadi rekaman penting sejarah kehidupan. Koleksi tersebut bukan sekadar kumpulan hewan mati, melainkan “perpustakaan ilmiah” yang menyimpan informasi tentang keanekaragaman hayati, perubahan lingkungan, hingga evolusi spesies dari masa ke masa.Di Indonesia, salah satu pusat penyimpanan koleksi serangga terbesar berada di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) (Gambar 1). Berdasarkan data terbaru, MZB menyimpan lebih dari 2,6 juta spesimen serangga yang mencakup sekitar 20.000 spesies teridentifikasi. Jumlah ini terus bertambah setiap tahun melalui berbagai kegiatan riset dan eksplorasi biodiversitas. Pada tahun 2025 saja, peneliti BRIN berhasil mendeskripsikan 51 spesies baru fauna Indonesia, sebagian di antaranya berasal dari kelompok serangga.Koleksi Fisik Serangga Tak TergantikanDi era digital, muncul anggapan bahwa foto beresolusi tinggi sudah cukup untuk merekam keanekaragaman hayati. Namun, dalam dunia penelitian ilmiah, foto saja tidak pernah cukup. Spesimen fisik tetap menjadi bukti ilmiah utama atau voucher spesimen yang dapat diverifikasi kembali oleh peneliti di masa depan. Koleksi fisik memungkinkan berbagai penelitian lanjutan yang tidak dapat dilakukan hanya dari gambar. Dari satu spesimen serangga, peneliti dapat mengekstraksi DNA untuk analisis molekuler, mempelajari hubungan evolusi antarspesies, hingga menelusuri perubahan populasi akibat perubahan lingkungan. Bahkan, material genetik dari spesimen yang telah disimpan puluhan hingga ratusan tahun masih dapat digunakan untuk penelitian modern dengan hasil yang akurat (Gambar 2).Gambar 2. Spesimen serangga yang dapat digunakan untuk berbagai penelitian modern, termasuk analisis DNA dan verifikasi taksonomi.Tidak hanya itu, koleksi serangga juga dapat digunakan untuk analisis isotop guna mengetahui perubahan pola makan, perpindahan habitat, hingga dinamika spesies hama dari waktu ke waktu. Dalam bidang taksonomi, spesimen koleksi menjadi dasar penting untuk memastikan identitas suatu spesies dan memastikan penggunaan nama ilmiah yang benar. Karena itulah, pengelolaan koleksi serangga tidak dapat dilakukan sembarangan. Koleksi yang terawat baik merupakan satu-satunya bukti fisik yang dapat dipertanggungjawabkan dalam komunitas ilmiah internasional dan menjadi fondasi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa depan.Protokol Preservasi (Pengawetan) SeranggaAgar dapat bertahan hingga ratusan tahun dan tetap bernilai ilmiah, spesimen serangga harus diawetkan menggunakan metode preservasi berstandar internasional. Di museum dan lembaga riset, pengawetan serangga umumnya dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu awetan kering (dry mounting), awetan basah (wet preservation), dan preparat slide (slide mounting). Metode awetan kering biasanya digunakan untuk serangga bertubuh keras seperti kumbang, kupu-kupu, lebah, tawon, dan belalang. Serangga ditusuk menggunakan jarum entomologi berbahan stainless steel agar tidak mudah berkarat. Posisi penusukan pun tidak boleh sembarangan karena harus mengikuti standar internasional agar bagian tubuh penting untuk identifikasi tetap terjaga. Pada kumbang, misalnya, jarum biasanya dipasang pada bagian sayap depan sebelah kanan (elytra) (Gambar 3).Gambar 3. Proses awetan kering (dry mounting) pada serangga bertubuh keras.Sementara itu, serangga bertubuh lunak seperti larva, nimfa, rayap, atau kutu daun umumnya diawetkan dalam larutan etanol berkonsentrasi 70–80 persen (Gambar 4). Metode ini bertujuan menjaga fleksibilitas jaringan dan mempertahankan kualitas material genetik agar tetap dapat digunakan untuk analisis molekuler di masa depan.Gambar 4. Koleksi serangga bertubuh lunak disimpan dalam larutan etanol untuk menjaga kondisi jaringan dan DNA spesimen.Untuk serangga berukuran sangat kecil, seperti kutu atau parasitoid mikroskopis, digunakan metode preparat slide (Gambar 5). Spesimen dipasang pada kaca preparat menggunakan medium khusus sehingga struktur tubuhnya dapat diamati secara detail di bawah mikroskop. Teknik ini sangat penting dalam penelitian taksonomi karena banyak karakter pembeda spesies hanya dapat dilihat melalui pengamatan mikroskopis.Gambar 5. Preparat slide digunakan untuk mengawetkan serangga berukuran sangat kecil agar karakter morfologinya dapat diamati di bawah mikroskop.Standarisasi Label: Data Kecil dengan Nilai Ilmiah BesarDalam dunia koleksi ilmiah, sebuah spesimen tanpa label sering dianggap “mati secara ilmiah”. Serangga yang diawetkan dengan sempurna sekalipun akan kehilangan nilai penelitiannya apabila tidak memiliki informasi tentang asal-usulnya. Karena itu, setiap spesimen koleksi wajib dilengkapi label data atau metadata yang dibuat mengikuti standar internasional (Gambar 6). Label tersebut umumnya memuat informasi penting seperti lokasi penemuan, koordinat geografis, ketinggian tempat, tanggal pengambilan, nama kolektor, hingga metode pengoleksian yang digunakan. Data inilah yang memungkinkan para peneliti menelusuri persebaran spesies, perubahan habitat, hingga dinamika populasi serangga dari waktu ke waktu.Dalam banyak kasus, label kecil yang menempel di bawah spesimen justru memiliki nilai ilmiah yang sama pentingnya dengan spesimen itu sendiri. Dari data tersebut, peneliti dapat mengetahui apakah suatu spesies pernah ditemukan di lokasi tertentu, bagaimana perubahan distribusinya akibat perubahan iklim, atau kapan pertama kali spesies tersebut tercatat di suatu wilayah. Selain itu, perkembangan teknologi digital kini memungkinkan data koleksi diintegrasikan ke dalam basis data daring sehingga dapat diakses peneliti dari berbagai negara. Dengan demikian, koleksi serangga tidak hanya menjadi arsip fisik di museum, tetapi juga sumber data global yang mendukung penelitian biodiversitas dan konservasi.Gambar 6. Label spesimen menyimpan informasi penting seperti lokasi, tanggal koleksi, nama kolektor, dan metode pengambilan yang menjadi dasar berbagai penelitian biodiversitas.Menjaga Koleksi dari Ancaman Hama dan KerusakanMenyimpan jutaan spesimen serangga selama puluhan hingga ratusan tahun bukanlah pekerjaan sederhana. Koleksi ilmiah sangat rentan terhadap berbagai ancaman, mulai dari jamur, kelembapan tinggi, hingga serangan hama seperti kumbang dermestid yang dikenal mampu memakan jaringan tubuh spesimen kering. Jika tidak dikelola dengan baik, kerusakan dapat terjadi secara perlahan dan menyebabkan hilangnya data ilmiah yang tidak tergantikan. Untuk mencegah hal tersebut, museum dan lembaga riset menerapkan sistem Integrated Pest Management (IPM) atau pengendalian hama terpadu. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengendalian hama, tetapi juga pada pengaturan lingkungan penyimpanan agar koleksi tetap stabil dalam jangka panjang.Di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), pengelolaan koleksi modern mulai meninggalkan penggunaan bahan kimia berbahaya seperti naftalen atau kapur barus yang dahulu umum digunakan dalam penyimpanan koleksi. Sebagai gantinya, pengendalian dilakukan melalui pengaturan suhu dan kelembapan ruang koleksi secara ketat. Suhu ruangan dijaga tetap dingin, sekitar 18–20°C, dengan kelembapan di bawah 50 persen untuk menghambat pertumbuhan jamur dan perkembangan hama. Selain itu, setiap spesimen baru biasanya menjalani proses pembekuan (freezing treatment) pada suhu sekitar -20°C selama beberapa hari sebelum masuk ke ruang koleksi utama. Prosedur ini dilakukan untuk membunuh telur atau larva hama yang mungkin terbawa bersama spesimen dari lapangan. Dengan cara tersebut, risiko penyebaran hama ke koleksi lama dapat diminimalkan.Dari Koleksi Awetan ke Kebijakan PublikBagi sebagian orang, koleksi serangga di museum mungkin terlihat hanya sebagai tumpukan spesimen lama yang disimpan di dalam laci. Namun, di balik koleksi tersebut tersimpan informasi penting yang berkontribusi langsung pada berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari ketahanan pangan, kesehatan lingkungan, hingga konservasi keanekaragaman hayati. Dalam bidang pertanian, koleksi serangga menjadi rujukan penting untuk identifikasi spesies hama tanaman. Ketika terjadi ledakan populasi hama atau muncul spesies invasif baru, peneliti perlu membandingkan spesimen lapangan dengan koleksi ilmiah yang tersimpan di museum untuk memastikan identitas spesies secara akurat. Informasi tersebut sangat penting dalam menentukan strategi pengendalian yang tepat dan mencegah kerugian yang lebih besar pada sektor pertanian.Koleksi serangga juga memiliki peran dalam bidang bioprospeksi, yaitu pencarian senyawa biologis yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan obat, pestisida ramah lingkungan, maupun produk bioteknologi lainnya. Dalam proses ini, spesimen koleksi menjadi bukti ilmiah penting yang memastikan identitas organisme yang diteliti dapat diverifikasi kembali. Sementara itu, dalam konteks konservasi, data koleksi membantu peneliti memahami perubahan persebaran spesies dari waktu ke waktu. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menilai tingkat kelangkaan suatu spesies dan menjadi dasar penyusunan daftar perlindungan maupun penilaian status konservasi seperti dalam IUCN Red List. Dengan kata lain, koleksi serangga tidak hanya merekam masa lalu, tetapi juga membantu menentukan langkah perlindungan biodiversitas di masa depan (Gambar 7).Gambar 7. Koleksi serangga ilmiah menjadi rujukan penting dalam penelitian pertanian, konservasi, hingga pengembangan bioteknologi.PenutupInvestasi dalam pengelolaan koleksi serangga pada dasarnya adalah investasi jangka panjang bagi ilmu pengetahuan. Spesimen yang hari ini tersimpan rapi di dalam museum mungkin baru akan memberikan jawaban penting puluhan tahun kemudian, ketika teknologi penelitian berkembang semakin maju. Dengan standar kurasi dan preservasi yang baik, koleksi serangga tidak hanya berfungsi sebagai arsip biodiversitas, tetapi juga sebagai sumber data ilmiah yang dapat membantu manusia memahami perubahan lingkungan, menghadapi ancaman hama, hingga mendukung upaya konservasi di masa depan. Di balik tubuh kecil seekor serangga yang diawetkan, tersimpan jejak sejarah alam yang sangat berharga. Karena itulah, menjaga koleksi ilmiah berarti juga menjaga pengetahuan untuk generasi mendatang.Fatimah dan Rina Rachmatiyah