Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparanIndustri karoseri tak luput dari tantangan pasar otomotif yang tengah melanda Indonesia. Salah satu permasalahan yang belum usai adalah imbas truk impor yang sebagian besar dari China, membuat rumah produksi kelengkapan truk merugi.Salah satunya adalah PT Metalindo Teknik Utama (MTU), pabriknya yang berlokasi di Karawang, selama ini menerima pembuatan berbagai macam bentuk bodi untuk kebutuhan angkutan barang truk, dikabarkan sedang sepi permintaan.“Ini juga yang betul-betul mematikan customer kami yang ada di ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) sebelumnya yang biasa order 30 sampai 50 (unit) dalam satu bulan, ini tidak ada lagi. Paling ada cuma 1-2,” buka Direktur MTU, Syarifuddin Tangka di Karawang, Kamis (4/6/2026).Syarifuddin bercerita kondisi tersebut sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak awal 2026 ini, sementara polemik impor truk di area tambang sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Ia sangat berharap langkah konkret pemerintah untuk melindungi industri lokal.Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparan"Kalau dari laporan teman-teman diler, pasar mining tergerus 10 sampai 30 persen dari tahun lalu, nanti bisa dilihat lebih detail di data Gaikindo. Kalau ini (serbuan truk China) sudah dari dua, tiga tahun terakhir dampaknya," paparnya."Kenapa? Karena mereka datang itu sudah lengkap dengan dump-nya (bak). Kita diminta untuk mengarah ke TKDN, mereka datang sudah langsung lengkap. Jadi completely vehicle datang, impor, sudah langsung terpakai di tambang,” jelas Syarifuddin.Pihaknya bersama Askarindo (Asosiasi Karoseri Indonesia) sebenarnya terus bersuara kepada pihak terkait dan pemerintah perihal masalah tersebut. Namun, Syarifuddin bilang hingga kini belum terlihat adanya respons nyata."Kalau bicara ke pemerintah, dengan Askarindo kita sudah vokal sebenarnya dari setiap pertemuan ke kementerian-kementerian, kita selalu sampaikan. Apalagi kita dibatasi dengan aturan, ada aturan ODOL yang harus kita patuhi untuk teman-teman yang on the road," bebernya.Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparanKabar impor truk dari China untuk kebutuhan tambang memang masih hangat saat ini. Menilik laman resmi Badan Pusat Statistik Ekspor Impor Tahun 2024, aktivitas impor truk dari China ke sejumlah tambang di Indonesia telah mencapai angka ribuan unit.Sebenarnya permasalahan tersebut sudah mendapat perhatian dari perwakilan Kementerian Perindustrian, yang berkomitmen mengkaji regulasi agar lebih ketat. Tujuannya melindungi produsen yang telah memiliki dan membangun ekosistem industri di Indonesia.“Kita akan mengusulkan ke Kementerian Perdagangan, (merumuskan) Permendag terkait tata perdagangan impor,” buka Staf Direktorat IMATAP, Ditjen ILMATE Kemenperin, Andi Komara saat di Kemayoran, Kamis (9/4/2026).Andi menambahkan, sejumlah langkah akan diambil untuk mengurangi jumlah truk impor yang terus masuk ke Tanah Air. Cara yang ditempuh salah satunya dengan menerbitkan dokumen TPT (Tanda Pendaftaran Tipe) dan varian kendaraan bermotor impor.Truk Shacman X3000. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan“Untuk membatasi truk impor ini, kita bisa dekati jadi dua. Kita terapkan satu lartas (larangan dan pembatasan) atau dengan pengenaan tarif,” imbuhnya.Selain itu, Kemenperin mengeluarkan usulan agar pengadaan truk impor tersebut dikenakan tarif pajak. Kebijakan tersebut dinilai lebih realistis karena regulasi PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) tidak hanya mengatur banderol kendaraan.“Karena PPnBM sekarang ini tidak serta-merta terkait kemahalan satu kendaraan, tetapi juga faktor emisi dan konsumsi bahan bakar,” jelas Andi.