● Bambu adalah fondasi peradaban Ngada, bukan sekadar bahan bangunan.● Melalui penggunaan bambu, peneliti merekonstruksi perjalanan leluhur Ngada dari masa migrasi, berburu, hingga menetap dan berkembang.● Modernisasi semakin mengikis pengetahuan dan budaya bambu Ngada.Suku Ngada adalah salah satu masyarakat adat yang masih eksis di Indonesia sampai saat ini. Mereka bermukim di wilayah sekitar gunung Inerie di bagian tengah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam kebudayaan Ngada, bambu hadir di hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari rumah adat, instrumen musik ritual, hingga peralatan hidup sehari-hari.Namun, penelitian terbaru kami menemukan bahwa kegunaan bambu di Ngada melampaui dimensi fisik. Ia tak terpisahkan dari sistem nilai, struktur sosial, dan budaya yang membentuk peradaban masyarakat.Sayangnya, desakan modernisasi menyebabkan pengetahuan tradisional tentang bambu, kohesi sosial, dan ekspresi artistik mulai pudar, digantikan individualisme, orientasi pasar, dan teknologi produksi massal. Baca juga: Usaha bambu ramah lingkungan dan menguntungkan rakyat? Belajarlah ke Flores Jejak leluhurStudi etnografi klasik menyebutkan, leluhur Orang Ngada berasal dari Asia Selatan, yang membawa kebudayaan Hindu era megalitikum dari timur laut India.Sebuah studi genetik terbaru menyebut bahwa populasi di kepulauan Indonesia, termasuk Flores, merupakan keturunan campuran Afrika yang bermigrasi secara bergelombang selama puluhan ribu tahun lalu.Sementara syair Su’i Uwi dalam upacara Reba menceritakan leluhur orang Ngada adalah para migran yang berasal dari tempat bernama Sina (sering dikaitkan dengan “Cina” atau wilayah Yunnan). Reba merupakan ritual tahunan yang menandai perayaan tahun baru orang Ngada.Berbagai jejak tersebut menunjukkan bahwa orang Ngada kemungkinan adalah hasil percampuran budaya dan genetik dari berbagai gelombang migrasi selama puluhan ribu tahun. Bambu yang tumbuh di Ngada diyakini sudah ada jauh sebelum leluhur mereka menetap di Flores. Orang-orang Ngada menyebut bambu-bambu itulah yang membantu para leluhur mereka bertahan hidup. “Mereka bikin rumah, alat berburu, meramu makanan, bertani, mengolah makanan, dan alat musik atau permainan. Semuanya pakai bambu,” ujar informan riset di Bajawa. Baca juga: Integrasi pengetahuan lokal sebagai solusi iklim: Belajar dari masyarakat adat Bayan di Lombok Mengelola pangan dan kebudayaanTemuan riset kami mendukung penuturan warga ini. Kami mengidentifikasi 54 alat tradisional berbahan bambu yang digunakan masyarakat Ngada di masa lalu. Hampir semua alat tradisional yang teridentifikasi dibuat dari satu spesies bambu, yakni famili Poaceae, subfamili Bambusoideae.Syair Su’i Uwi mengisahkan, sebelum menetap dan membangun kampung, leluhur Ngada mengembara di daratan Flores dari Muara Lege Lapu (sekarang Muara Wae Mokel) hingga ke wilayah Ngada. Mereka bertahan hidup dengan berburu. Di sini, bambu mulai digunakan jadi alat berburu.Setelah para leluhur menetap di Ngada, mereka membangun perkampungan (nua) dan rumah-rumah (sao) dari bambu. Seiring waktu, populasi masyarakat bertambah dan kebutuhan pangan pun meningkat. Budaya berburu berganti menjadi bertani. Bambu pun diolah menjadi alat-alat pertanian.Orang-orang Ngada juga mulai beternak. Mereka membuat pagar pelindung ternak babi seperti sala (pagar horizontal), subi (pagar anyaman), hingga folo (pagar bambu utuh). Struktur subi dan folo masih digunakan sampai sekarang, dilengkapi dengan gobe ranga, belahan bambu untuk wadah pakan ternak.Dalam mengolah dan mengamankan pangan, orang Ngada menggunakan bambu untuk alat dapur dan wadah pengawetan.Mereka sehari-hari makan uwi (ubi), nasi, maupun jagung yang dimasak menggunakan rodho (kukusan bambu) lalu disajikan di dalam rana (keranjang bambu). Sebagai lauk, daging ternak direbus atau dipanggang menggunakan tusukan (nusu) diletakkan dalam wadah-wadah tradisional dari bambu seperti nyiru bambu, yang mereka sebut dengan sege atau zezo.Mengantisipasi musim paceklik, mereka membuat wadah penyimpanan dari bambu seperti tuku sui untuk mengawetkan daging babi, tuku leko untuk menyimpan cadangan padi atau jagung, toke wae atau po'o wae untuk menyimpan air, rêmi untuk menampung tepung jagung, serta tuku koro dan tuku sie untuk wadah pelindung cabai dan garam.Di waktu senggang, orang-orang Ngada punya tradisi bermusik dan melakukan permainan rakyat berbasis bambu. Nasihat dan nilai-nilai luhur diwariskan orang tua kepada anak-anak lewat permainan foy doa, sebuah seruling bambu ganda. Berbagai permainan bambu menjadi perekat sosial antargenerasi. Mulai dari sagu alu (tarian lompat bambu) hingga aneka permainan replika taktik perang seperti nobe (lempar lembing), tempuling (tombak bambu), lengi tana (meriam bambu), topo (parang bambu), dan bedi (senapan bambu) yang digemari anak-anak.Ancaman modernitas dan mitigasinyaSayangnya, studi kami menemukan bahwa pemanfaatan bambu kini menurun akibat industri modern yang memproduksi peralatan plastik dan aluminium. Alat-alat buatan pabrik ini dinilai lebih murah, tahan lama, dan mudah didapat di toko dan kios, meski sebenarnya meninggalkan banyak limbah. Rumah-rumah di Ngada juga mulai beralih dari material bambu ke dinding beton dan atap aluminium. Di Kecamatan Golewa misalnya, rumah berdinding bambu turun dari 1.903 unit menjadi 1.165 unit pada rentang waktu 2015-2020. Sebaliknya, di rentang yang sama, penggunaan atap aluminium meningkat dari 3.112 menjadi 3.482 unit.Pergantian material ini pun turut melemahkan modal sosial dan mengikis tradisi gotong royong dalam pembangunan rumah bambu. Bersamaan dengan itu, pengetahuan praktis, memori kolektif, identitas, dan struktur sosial yang sebelumnya dipertahankan melalui praktik kolektif pemanfaatan bambu juga terkikis. Teknologi digital turut mengubah pola interaksi sosial. Masyarakat lebih memilih bermain gawai alih-alih memainkan permainan tradisional atau bermain musik bersama. Nilai sakral dan artistik bambu jadi kian memudar. Kini, alat musik dan permainan bambu hanya muncul dalam seremonial penyambutan tamu dan upacara adat.Menyikapi kondisi tersebut, sejumlah kelompok masyarakat lantas menginisiasi berbagai gerakan pelestarian bambu di Ngada. Misalnya, pencanangan program seribu desa bambu untuk mendorong kembali budi daya bambu oleh masyarakat. Selain itu, ada juga pendirian kampus bambu di Turetogo dan Labuan Bajo yang diinisiasi Yayasan Bambu Lingkungan Lestari sebagai sentra edukasi bagi pelestarian bambu di Ngada, baik secara material maupun secara budaya.Berbagai inisiatif tersebut tentu membutuhkan dukungan banyak pihak. Sudah saatnya pemerintah, akademisi, pihak swasta, dan organisasi non pemerintah bahu-membahu bersama masyarakat Ngada untuk menyelamatkan bambu Ngada, bukan hanya sebagai spesies, tapi juga sebagai identitas peradaban. Budiyanto Dwi Prasetyo menerima dana dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), Kanoppi-2 project (FST/2016/141). Handoyo menerima dana dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), Kanoppi-2 project (FST/2016/141).