Menagih Janji Kesejahteraan di Hari Anak Internasional

Wait 5 sec.

Ilustrasi Hari Anak Universal Foto: ShutterstockSetiap 1 Juni, kita memperingati Hari Anak Internasional. Saat di mana kita perlu meningkatkan kesadaran akan hak-hak dan kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia. Hari Anak Internasional pertama kali diresmikan pada tahun 1925 saat Konferensi Dunia untuk Kesejahteraan Anak di Jenewa, Swiss. Saat itu, beberapa negara sepakat untuk menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari untuk memperingati kesejahteraan anak. Pada tahun 1950, negara-negara Blok Timur, juga mulai melakukan perayaan untuk memperingati Hari Anak Internasional ini. PBB sendiri pun mulai mengadopsi Deklarasi Hak-Hak Anak pada tahun 1959 dan Konveksi Hak-Hak Anak di tahun 1989. Meskipun PBB merayakan Hari Anak Sedunia di tanggal 20 November, masih banyak negara yang mempertahankan perayaan Hari Anak Internasional di tanggal 1 Juni.Jika kita membuka media sosial di tanggal 1 Juni, maka kita akan menemukan banyak postingan menarik yang membahas Hari Anak Internasional ini. Namun, jika kita sejenak berpaling dari gawai kita dan melihat ke sisi lampu merah pada perempatan jalan, kita akan sadar akan kontrasnya realita. Pada Hari Anak Internasional yang seharusnya menekankan akan pentingnya hak-hak dan kesejahteraan anak, namun pada realitanya masih banyak anak yang hidup tidak sejahtera dan bahkan tidak pernah merasakan hak nya. Masih ada anak-anak yang bahkan tidak bisa menikmati sesuap nasi. Jadi, perayaan Hari Anak Internasional ini sebenarnya untuk mereka atau hanya simbol formalitas belaka?Berdasarkan data survei dari KPAI pada November 2020 didapatkan informasi bahwa anak di bawah umur dipekerjakan di lima sektor, di antaranya sebagai anak jalanan hingga dilacurkan. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Mengingat bahwa anak-anak seharusnya berada pada perlindungan orang dewasa dan hidup di lingkungan masyarakat yang mendukung tumbuh kembangnya. Bukan malah hidup di panasnya aspal dan memungkinkan terpapar risiko berbagai bentuk aksi kejahatan dan kekerasan. Tempat menuntut ilmu yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi anak-anak, sekarang ini pun bisa dikatakan ‘gagal’. Dengan masih maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak di lembaga pendidikan. KPAI mencatat ada 207 laporan kasus kekerasan seksual terhadap anak di lembaga pendidikan selama tahun 2021. Dari 207 laporan itu, terdapat 18 kasus di satuan pendidikan, dengan 36% korban berasal dari jenjang pendidikan SMP. 55,55% pelaku kekerasan adalah guru dan 22,22% pelakunya adalah kepala sekolah atau pimpinan pondok pesantren. Simfoni PPA juga mencatat selama 2016-2020 ada 49.141 kasus kekerasan terhadap anak, dengan jumlah korban mencapai 54.366 anak.Beberapa data di atas, hanyalah segelintir dari penemuan mengenai kasus kekerasan terhadap anak. Sekolah yang seharusnya tempat dijunjungnya martabat, malah menjadi mimpi buruk bagi sebagian anak. Oknum guru yang seharusnya menjadi orang tua kedua, berubah menjadi predator yang melanggar rasa kemanusiaan. Ironi nya lagi institusi pendidikan terkadang lebih mementingkan nama baik dibandingkan perasaan korban yang akan terus dihantui kejadian tersebut. Uji kompetensi dan latar belakang seorang calon tenaga pendidikan, seharusnya dilakukan lebih ketat. Seseorang dengan masa lalu yang mencurigakan sepatutnya tidak dibolehkan mendekat sedikit pun kepada anak-anak. Kasus ini juga menjawab betapa pentingnya pendidikan seksualitas sejak dini diantarkan di sekolah.Kesejahteraan terhadap anak tentu saja adalah hak semua anak di dunia. Namun sangat disayangkan masih banyak anak-anak di luar sana yang bahkan tidak tau apakah ia dapat melihat matahari terbit di esok hari. Anak-anak di Palestina yang kehilangan keluarganya dan sampai sekarang susah payah mencari tempat aman untuk berlindung. Anak-anak etnis Muslim Uighur, Cina yang dipisahkan dengan orang tuanya. 382 anak-anak yang dibunuh kelompok Junta Myanmar pada Juni 2022. Oktober 2022 di Thailand, sebanyak 24 anak menjadi korban penembakan massal dan masih banyak lagi tragedi-tragedi di dunia yang mengorbankan anak-anak di bawah umur yang bahkan tidak mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi.Tragedi-tragedi di dunia ini tidak hanya merusak fisik dan mental anak-anak, tetapi juga membunuh imajinasi dan mimpi mereka. Anak-anak seperti mereka bahkan tidak bisa bercita-cita menjadi seorang dokter atau guru, kebanyakan dari mereka hanya bercita-cita bisa hidup lebih lama, tidur nyenyak, atau bahkan bertemu dengan keluarganya. Sejahtera di sini bukan lagi hanya hidup nyaman dengan kemewahan, melainkan hak dasar untuk anak dapat tumbuh tanpa terbiasa atau ketakutan akan kematian yang terjadi di depan mata mereka.Saya rasa sudah saatnya untuk memastikan tanggal 1 Juni bukan hanya sebatas ‘perayaan’ Hari Anak Internasional. Tapi ‘perayaan’ atas kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh seluruh anak di dunia. Rasanya kurang pantas jika kita merayakan kesejahteraan anak di saat ada anak yang sedang memegang perutnya karena kelaparan. Di saat ada anak yang meringkuk gemetar, karena trauma akan kekerasan seksual yang dialaminya. Di saat ada anak yang teriak berlarian mencari tempat aman dari ledakan bom yang menghiasi langit. Kita tidak bisa terus-terusan menutup mata dan telinga seakan-akan kesejahteraan pada anak itu benar-benar terjadi secara merata. Ketika permasalahan ekonomi, lembaga pendidikan, tragedi-tragedi di berbagai belahan dunia terus merampas mimpi, kehidupan, bahkan nyawa anak-anak tak berdosa karena ego dan keserakahan orang-orang dewasa.Kesejahteraan pada anak di sini bukanlah hadiah atau pilihan yang dapat diberikan sewaktu-waktu, melainkan sebuah hak mutlak bagi semua makhluk hidup tanpa penawaran. Kita butuh kebijakan ekonomi yang berpihak, sistem yang menindak tegaskan predator, dan komitmen kemanusiaan para petinggi. Dibandingkan perayaan tahunan, anak-anak hanya perlu ruang aman dan nyaman untuk hidup dan bermimpi setinggi-tingginya. Kesejahteraan anak adalah tanggung jawab yang tidak bisa lagi ditunda-tunda. Kualitas sebuah peradaban tidak diukur dari seberapa canggih teknologinya atau setinggi apa gedung pencakar langitnya, tapi dari seberapa lebar dan tulus senyum anak-anak yang tumbuh tanpa rasa takut. Jika hari ini mereka belum sejahtera, maka esok adalah saat untuk kita terus berjuang bagi mereka. Akhir dari saya, Selamat Hari Anak Internasional. Semoga kata ‘sejahtera’ bukan lagi doa yang kita panjatkan, tapi realita yang bisa dirasakan oleh seluruh anak di dunia tanpa terkecuali.