Jalan pintas untuk terlihat berhasil: Sisi psikologis dari kasus penipuan riset di konferensi internasional

Wait 5 sec.

● Heboh skandal peneliti independen Indonesia yang memalsukan data dan mencatut identitas demi fasilitas ‘travel grant’.● Secara psikologis, manipulasi ini dipicu oleh besarnya jarak antara citra diri ideal dan diri yang sebenarnya.● Ini menjadi pengingat bahwa kejujuran, integritas, dan mitigasi pemanfaatan AI sangat penting dipunyai akademisi.Belakangan ini publik dihebohkan dengan dugaan fabrikasi data, pencatutan identitas, dan penggunaan afiliasi palsu oleh sejumlah akademisi nasional. Mereka yang mengklaim dirinya sebagai peneliti independen beraksi di sejumlah konferensi ilmiah internasional yang berlangsung di luar negeri.Kasus ini semakin ramai karena para terduga mempresentasikan temuan mereka yang dibuat dengan bantuan Akal Imitasi (AI). Parahnya lagi, basis data penelitian berasal dari hasil kloningan ilegal artikel dan skripsi peneliti lain di Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Inggris.Salah satu motifnya diduga untuk memperoleh travel grant. Fasilitas ini biasanya diberikan kepada peneliti dengan riset yang dinilai menonjol atau memiliki kebaruan.Di sinilah pertanyaan psikologisnya muncul: Mengapa seseorang yang mungkin memiliki kapasitas akademis tinggi rela membangun kebohongan berlapis demi sebuah pengakuan?Manusia perlu validasi, tapi haruskah menggunakan segala cara?Dalam kasus ini, ada dua penjelasan yang bisa digunakan untuk memahaminya.Pertama, motif parental acceptance-rejection theory, alasan bagi individu untuk berprestasi adalah keinginan untuk mendapatkan apresiasi dan perhatian. Misalnya dengan pujian sesederhana “Wah hebat, kakak peringkat satu!”, anak akan belajar bahwa pencapaian akademis membuat mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.Secara psikologis, kebutuhan akan validasi tidak selalu buruk. Sejak kecil, banyak orang belajar bahwa pencapaian dapat menghadirkan perhatian, penerimaan, dan rasa dihargai. Hal semacam ini merupakan upaya memenuhi kebutuhan primitif manusia untuk menggapai rasa memiliki (sense of belongingness) di kelompok lingkungan sosialnya.Kedua, dalam dunia akademis, bentuk validasi adalah prestise tersendiri yang tentunya subjektif tergantung individu. Ada yang tervalidasi dalam dunia akademis jika bisa tampil di konferensi, papernya terbit di jurnal ternama, atau memperoleh sertifikat penghargaan. Citra semacam ini bukan sekadar soal ingin dipuji, tetapi juga berkaitan dengan gambaran tentang diri ideal, yakni sosok yang ingin dilihat, baik oleh diri sendiri maupun orang lain.Karena merasa ketagihan mendapat pengakuan semacam itu, dorongan orang untuk mempertahankan citra yang sudah terbangun sangatlah kuat. Akhirnya, mereka menghalalkan segala cara termasuk kecurangan dan manipulasi. Dalam sudut pandang teori self-discrepancy, setiap individu pada dasarnya memiliki gambaran tentang siapa dirinya saat ini (actual self), dan dirinya ingin menjadi seperti apa (ideal self). Ketika jarak antara keduanya terlalu besar, celah tersebut menghadirkan ketidaknyamanan psikologis, kekecewaan, bahkan dorongan untuk menutupnya.Dalam kondisi yang sehat dan wajar, seseorang dapat menjembatani jarak itu dengan belajar, berlatih, menerima kritik dan membangun kompetensi. Namun, ketika tujuan ideal terasa terlalu terjal untuk dicapai, maka kejahatan akan muncul bukan karena niat tapi kesempatan.Ironisnya, para terduga pelaku bukan orang yang sama sekali tidak punya peluang untuk berhasil. Sebagian dari mereka memiliki rekam jejak prestasi, seperti pernah menjadi mahasiswa berprestasi serta penerima beasiswa kompetitif dalam skala nasional maupun internasional. Dengan modal seperti itu, jalan akademis yang sah sebenarnya terbuka. Kita bisa menengarai bahwa mereka memilih jalan yang salah untuk mencapai titik ideal versi mereka.Mengapa pelaku awalnya sulit merasa bersalah?Kedua terduga pelaku memang sudah menyampaikan permintaan maaf kepada salah satu perguruan tinggi yang dituliskan afiliasinya dan mengklarifikasi atas pencatutan salah satu nama co-author. Namun, mereka tidak merespons somasi dari beberapa instansi, ataupun dugaan pelanggaran etis yang beragam.Psikolog Albert Bandura menyebut mekanisme ini sebagai moral disengagement, yakni proses ketika individu menjauhkan diri dari rasa bersalah dengan membenarkan tindakannya sendiri. Orang yang melanggar integritas bisa memberanikan diri menyangkalnya dengan berbagai alasan. Entah itu merasa tindakannya tidak terlalu merugikan, berdalih sebagai pemula yang serba tidak tahu, mentamengkan diri bahwa orang lain juga melakukan hal serupa dengan skala yang berbeda. Mereka juga bisa berpura-pura menjadi korban (playing victim) seolah semesta menyalahkan mereka secara sepihak.Pembenaran ini membuat dirinya merasa “Saya tidak sepenuhnya salah dan saya tetap orang baik”. Respon seperti ini adalah upaya umum mempertahankan citra diri yang sudah terlanjur dibangun. Bahkan di awal sebelum banyak temuan disampaikan, para peneliti independen ini justru merasa di-bully, disudutkan, atau diserang. Lebih dari itu, konsekuensi sosial berupa upaya para peneliti lain untuk mengonfrontasi mereka dianggap sebagai perundungan kolektif oleh pelaku. Ini adalah mekanisme yang wajar dilakukan karena kewaspadaan yang meningkat pascaberbohong. Sebuah studi dari ilmuwan psikologi di Portsmouth, UK, menunjukkan bahwa orang yang berdusta kerap mengalami campuran emosi seperti takut ketahuan, rasa bersalah, atau tegang karena ingin kebohongannya berhasil. Emosi inilah yang dapat membuat respons defensifnya lebih tampak.Orang yang berbohong dan mengalami moral disengagement, tidak akan mempertanyakan “apakah saya melanggar integritas?”. Yang muncul di benak mereka justru “mengapa orang-orang ini begitu menyerang saya? Apakah mereka iri dengan diri ideal yang saya tampilkan?”. Berani jujur di era AIKehadiran AI mampu membukakan cara pandang yang lebih luas dalam memahami pengetahuan serta memunculkan cara belajar baru. Namun, dalam kasus ini, muncul keresahan dari para akademisi terkait penyalahgunaan AI dalam proses belajar dan mengajar. Survei yang dilakukan oleh International Center for Academic Integrity menemukan bahwa terdapat 50 persen lebih mahasiswa yang mengaku menggunakan AI untuk melakukan kecurangan dalam menyelesaikan tugas kuliah. Baca juga: Penggunaan AI oleh mahasiswa rentan risiko: perlu penguatan etika Adanya tindakan kecurangan ini bisa jadi merupakan “jeda” bagi akademisi untuk mengingat kembali esensi pendidikan. Jika peneliti ingin tetap dipercaya, maka yang harus dirawat bukan hanya bagaimana individu mampu adaptif dengan keberadaan teknologi, jumlah publikasi, atau banyaknya panggung internasional.Yang harus dijunjung adalah keberanian untuk berproses dengan jujur, kendati membutuhkan waku yang tidak sebentar. Sebab pada akhirnya, ilmu pengetahuan tidak berdiri di atas citra diri, melainkan di atas integritas.Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.