Narasi Gelap dalam Karya Distopia

Wait 5 sec.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.Sastra, film, dan gim terkadang juga menyapa khalayak audiens (pembaca karya sastra, penonton film, pengguna gim) dengan narasi gelap. Alur kisah yang tersaji mempunyai suasana, tema, atau pamungkas cerita menunjukkan raut yang suram (bleak).Makna suram yang berkonotasi dingin, kosong, tanpa harapan, dan tidak menyenangkan. Genre ini masuk kategori fiksi gelap (dark fiction) atau fantasi gelap (dark fantasy).Fiksi gelap, tidak terkecuali subgenre turunannya semacam fantasi gelap itu, mengaksentuasikan kehadirannya berkat adanya eksplorasi mendalam terhadap sisi yang paling gelap dari kehidupan manusia dan dunia.Fantasi gelap mendapat sebutan subgenre fiksi gelap karena mengacu pada cabang spesifik dari fiksi spekulatif yang menjodohkan keajaiban fantasi dengan atmosfer, tema, atau elemen horor yang memperlihatkan raut tidak cerah.Elemen-elemen paling menunjukkan identitas khas genre narasi gelap ini, yaitu atmosfer kelam dan suram. Warna cerita kerap menghadirkan suasana yang menakutkan, mencekam, dan sarat dengan hal-hal yang tidak pasti.Kemudian karakter utama dengan moralitas abu-abu. Karakter utama biasanya bukan pahlawan tradisional, melainkan entitas antihero dengan moralitas yang patut menjadi bahan pertanyaan, begitu gencar menerima serbuan dilema, atau mempunyai latar belakang masa silam yang tragis.Tema-Tema TabuIlustrasi kreasi Gemini AI.Elemen selanjutnya, mengedepankan konsep dan realitas yang berat. Genre narasi gelap ini tidak mengharamkan untuk mengangkat tema-tema tabu, antara lain kematian, korupsi, kekuasaan, penderitaan, ancaman eksistensial yang sukar teratasi.Tema-tema di atas masuk ke dalam kategori anggapan tabu, sebab mendudah ketidaknyaman psikologis, mengintimidasi tatanan sosial yang mapan, dan mengembarakan ketakutan eksistensial manusia kepada hal-hal yang berada di luar kendali mereka.Pembahasan yang berkisar tentang tema-tema tabu tersebut cenderung sering menjadi alasan banyak orang untuk menghindari jauh-jauh dalam interaksi sosial sehari-hari.Adapun alasan spesifik, mengapa tema-tema tersebut menjadi tabu, seperti kematian. Ia menjadi tabu lantaran menjadi simbol dari kendali yang hilang, perpisahan dari hal-hal duniawi. Dan, juga merupakan misteri terbesar kehidupan yang melecut kecemasan.Menurut pandangan American Psychological Association (APA), membicarakan kematian bisa mengganggu stabilitas mental. Sebab, hal tersebut dapat mengingatkan manusia pada kefanaan mereka sendiri.Dapat menghadirkan kecemasan eksistensial yang parah, menggoyang dengan serius stabilitas psikologis. Dan, hal itu dapat mengunduh risiko pelanggaran terhadap norma sosial dengan konstruksi rancangan untuk merawat semangat serta produktivitas kolektif ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari.Selanjutnya korupsi, ia menjadi tema yang tabu terutama dalam konteks budaya feodal atau tertutup, karena menelanjangi aib para pemegang kekuasaan. Praktik pembongkaran kasus korupsi ini berada di ranah anggapan sangat destruktif. Sebab, mengobrak-abrik tatanan moral, meluluhlantakkan kepercayaan publik, dan mengancam secara serius terhadap sistem bernegara.Tema kekuasaan menjadi tabu untuk mendapatkan lontaran kritik secara terbuka. Sebab, kekuasaan mempunyai sifat yang hegemonik dan represif. Menyentuh kekuasaan sebagai objek pembahasan tidak jarang akan mengundang risiko intimidatif.Atau bahkan di negara-negara tertentu ada istilah “penghilangan dengan paksa” bagi si pembicara. Dengan demikian, masyarakat lebih menetapkan pilihan untuk mendiamkan atau sekadar mengetahuinya semata. Berlindung di bawah zona nyaman.Tema penderitaan pun berada di wilayah tabu, sehingga ada kecondongan penghindaran atasnya. Sebab, tema penderitaan lebih menghendaki respons empati yang membutuhkan curahan perasaan mendalam. Dan, bukan tidak jarang memunculkan rasa ketidakberdayaan (helplessness) tatkala melihat realitas di dunia yang tidak selalu berpihak pada keadilan.Tema tabu selebihnya adalah ancaman eksistensial. Ketidakpastian atau bayang-bayang kehancuran masa depan dapat menimbulkan ketakutan kolektif. Menggarapnya sebagai pembahasan secara konstan akan mengundang anggapan sebagai curahan gangguan terhadap moral publik karena menghadirkan pesimistis. Karena itu, acapkali mengalami penyensoran guna menjaga kenyamanan sosial yang semu.Pembangunan DuniaIlustrasi kreasi Gemini AI.Selebihnya elemen yang menandai profil keberadaan narasi gelap, yaitu pembangunan dunia (world-building) yang realistis tetapi brutal. Ini merupakan fondasi utama. Mengetengahkan dunia fiksi dengan aturan ketat dan konsekuensi tak kenal ampun. Moralitas abu-abu dengan ancaman kegagalan atau penderitaan yang senantiasa mengikuti para karakter.Pembangunan dunia menjadi profil utama narasi gelap, karena ia menciptakan realisme dalam penderitaan. Dunia fiksi tidak bergulir semata pada nasib karakter utama. Pemimalisasian plot armor (perisai plot atau pelindung alur). Strategi penulisan menghilangkan “perlindungan tak terlihat” pada karakter protagonis agar cerita lebih realistis, mendebarkan, dan mempunyai semacam pertaruhan yang nyata.Peminimalan perisai plot secara efektif, misalnya dengan teknik memberikan konsekuensi riil. Setiap luka atau kekalahan mesti mempunyai dampak permanen. Karakter tidak disembuhkan secara total tanpa terlebih dahulu melalui penjelasan logis.Juga, dengan memanfaatkan karakter pendukung. Pengalihan beban cerita, sehingga bahaya dapat teralihkan atau terselesaikan rekan atau sekutunya, ketegangan pada karakter utama dapat tetap terjaga.Termasuk dalam strategi meminimalisasi perisai plot ini, pemanfaatan plot twist yang merugikan. Ada penciptaan situasi kemenangan justru menggotong kerugian besar, misalnya menang duel namun mesti kehilangan teman dekat atau senjata andalan.Terdapat fokus pada pertumbuhan mental. Meskipun para karakter itu seolah mendapat pembiaran mengalami kegagalan secara fisik, ada perkembangan signifikan dalam diri mereka secara mental dan emosional.Realisme dalam narasi gelap, berarti kehidupan fiksional yang bergerak sebagaimana seharusnya lengkap dengan segala keburukan dan ketidakadilannya. Dalam tataran kondisi fisik, karakter akan merasai dampak kelelahan, penyakit, kelaparan, dan trauma kejiwaan. Dan, sebagai konsekuensi riil, keputusan naif bakal berujung pada kehancuran.Kebrutalan narasi gelap tertanam kuat dalam struktur lingkungan sehari-hari. Karakter antagonis utama adalah manusia korup, kejam, dan egois. Pengkhianatan dan intrik politik tinggi menjadi sesuatu yang lumrah. Deskripsi perang bukan lagi berkutat soal kepahlawanan, melainkan ihwal penjarahan, penderitaan rakyat sipil, dan kehancuran moral para tentara.Sementara itu, dunia dalam penguasaan lingkungan yang menindas lewat keberadaan kota-kota kumuh. Kemudian hutan beracun. Hingga kerajaan yang terstagnasi dalam genggaman sistem kasta yang menindas kaum tak berdaya.Narasi gelap lebih meminta khalayak audiensnya melihat karakternya dari sisi area abu-abu (grey area). Karakter kerap terpaksa mesti menentukan langkah pada dua jalan pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan.Karakter protagonis tidak jarang mendapatkan pendeskripsian sebagai sosok yang secara moral cacat, kejam, atau melakukan tindakan demi meraih keuntungan pribadi alias egois. Sementara itu, karakter jahat (villain) sebaliknya juga terkadang memiliki latar belakang yang manusiawi dan masuk akal.Itu berarti, karakter jahat tersebut tidak selalu jahat sejak lahir atau tanpa alasan. Mereka menjadi jahat karena mempunyai motivasi, trauma, atau tujuan yang bisa masuk ke wilayah pemahaman khalayak audiens. Kekejaman mereka mendapat dorongan dari pengalaman masa lalu yang traumatis, kehilangan, penindasan, atau menjalani kehidupan di bawah sistem korup. Dan, bukan semata keinginan untuk “menghancurkan dunia”.Moralitas abu-abu itu tecermin dari kehidupan fiksional mereka yang tidak jarang merupakan pahlawan bagi kelompoknya sendiri. Atau, mereka meyakini, bahwa apa yang mereka lakukan adalah kebenaran untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Kendatipun, cara yang mereka tempuh sesungguhnya tidak benar.Kemudian tentang konsep refleksi karakter utama atau protagonis. Sering menerima sebutan sebagai cermin (foil). Yaitu manakala latar belakang, pilihan atau nasib karakter lain dalam cerita, bisa karakter pendukung atau bahkan antagonis, berada di dalam rancangan penulis untuk menunjukkan skenario terburuk bagi protagonis.Penjelasan lebih gamblangnya kira-kira begini. Karakter pendukung atau antagonis itu adalah proyeksi dari apa yang bakal terjadi pada karakter protagonis. Dengan catatan, jika mereka menyerah pada kelemahan mereka atau mengambil jalan pintas yang keliru.Adapun cara kerja konsep ini dalam sebuah cerita. Karakter refleksi ini umumnya mempunyai akar masalah atau trauma yang memiliki kepersisan tinggi dengan karakter protagonis. Akan tetapi, mereka telah menetapkan jalan pilihan hidup yang tidak benar, sehingga berujung pada realitas fiksional berupa kehancuran, kejahatan, atau penderitaan.Apa yang terjadi pada karakter refleksi menyuguhkan dilema moral yang menjadi panduan kepada karakter protagonis (dan pembaca atau penonton) sebagai bukti visual ke arah mana tujuan hidup mereka, jika yang menjadi anutan adalah dorongan ego, rasa takut, atau dendam mereka.Kisah dalam narasi gelap kerap kali memberadakan karakter protagonisnya di persimpangan jalan, antara “menetapkan pilihan ke jalan yang pada ujungnya menjadikan mereka sebagai pahlawan” dan “menempuh jalan yang karakter refleksi telah lalui dan berujung pada kehancuran”.Dengan tipikal karakterisasi yang sedemikian itu menyebabkan cerita menjadi lebih menarik. Sebab, khalayak pembaca dan penonton bisa mengunduh simpati, memahami, atau bahkan memberikan pembenaran alasan di belakang tindakan para karakter itu. Kendatipun, para pembaca dan penonton itu sebetulnya kurang begitu sreg atau menyetujui pilihan cara dari para karakter itu.Kalaupun terdapat keajaiban atau kekuatan hebat, dunia brutal mematok harga yang setimpal untuk bisa memanfaatkannya. Pemanfaatan sihir tidak hanya mengandalkan energi mistisisme semata untuk memutarbalikkan realisme fiksional. Akan tetapi, ia bisa terwujud dalam bentuk memakan umur, menebarkan kutukan. Atau, mengundang entitas jahat berupa korupsi sihir.Pada wekasannya, pembangunan dunia (world-building) yang realistis namun brutal menempatkan eksistensi secercah harapan di dalam jalinan kisah menjadi terasa begitu berharga. Upaya perjuangan karakter untuk merawat kemanusiaannya atau bertahan hidup di lingkungan yang kejam memancarkan sumber emosi utama bagi khalayak audiens.Narasi gelap menonjolkan emosi negatif. Membangkitkan dan mengeksplorasi perasaan yang tidak menyamankan hati, seperti ketakutan, kesedihan, keputusasaan, kemarahan, atau keirian untuk membentuk atmosfer cerita yang mendalam dan realistis.Selain itu, narasi gelap juga mempertontonkan ambiguitas moral. Karakter protagonis bisa menjadi antihero. Mempunyai tujuan mulia akan tetapi melegalkan cara-cara kurang terpuji alias kotor, egois, dan tidak ragu melanggar aturan, serta menghalalkan segala cara demi memarkir kesuksesan di ujung tujuan.Hal ini kerap kali menjadi bagian dari strategi penulis untuk menggali sisi psikologis manusia, menuangkan pencermatan terhadap terhadap realitas kehidupan yang keras. Serta, mengkonstruksi ketegangan yang menyebabkan khalayak pembaca berpikir lebih jauh. Nah, salah satu contoh narasi gelap itu adalah kisah distopia.Kisah DistopiaIlustrasi kreasi Gemini AI.Kisah distopia merupakan genre fiksi yang menggambarkan masyarakat masa depan yang menakutkan, berada di bawah pemerintahan dari para pemegang kekuasaan yang represif, dan kehidupan peradaban yang bergerak menuju ke kehancuran.Genre ini biasanya mengusung tampilan narasi gelap mengenai pemerintah totaliter, ketidakadilan ekstrem, bencana lingkungan, atau penyelewengan tata guna teknologi yang menimbulkan penderitaan sangat luar biasa bagi warga bangsanya.Ciri khas yang menghidupi narasi gelap, yaitu keberadaan penguasa atau korporasi yang menegaskan pembatasan kebebasan berpikir, berekspresi, dan berprivasi. Terdapat sentuhan ilusi kesempurnaan. Kerap kali ada penggambaran masyarakat berada dalam kehidupan yang ideal pada awal kisah. Padahal, sesungguhnya sangat mengerikan di baliknya. Dan, karakter protagonis berupaya memberontak melawan sistem yang menindas itu.Berbicara tentang genre distopia, kita tidak dapat melewatkan karya novel legendaris yang menentang totalitarianisme, yaitu Nineteen Eighty-Four (1984). Penulisnya adalah George Orwell. Nama pena Eric Arthur Blair (25 Juni 1903 - 21 Januari 1950). Dia adalah novelis, esais, jurnalis asal Britania Raya. Di samping itu, dia juga menulis fabel politik Animal Farm (1945). Empat tahun kemudian, terbit novel yang tersohor tersebut.Karya-karya dan pemikiran George Orwell yang visioner mempersembahkan pengaruh besar terhadap budaya modern. Novel Nineteen Eighty-Four (terbit 1949) menampilkan kisah distopia yang mendeskripsikan masyarakat di bawah pengawasan ketat dan mutlak rezim totaliter. Novel ini memopulerkan sejumlah istilah kultural, seperti Big Brother (Sang Kakak Besar) dan Thought Police (Polisi Pikiran).Adapun fabel politik Animal Farm (terbit 1945) merupakan satire politik yang menceritakan mengenai sekumpulan hewan di suatu peternakan yang melakukan pemberontakan terhadap manusia. Akan tetapi, para pemimpin yang dukung justru menjadi diktator baru. Konon, buku ini merupakan alegori tajam untuk Revolusi Rusia.Gaya penulisan dan lukisan masyarakat distopia hasil kreasi Orwell melahirkan istilah Orwellian. Untuk mewadahi gambaran situasi sosial dan politik modern, ketika kebebasan memperoleh tekanan serius, propaganda bersimaharajalela. Dan, pengawasan negara menerobos secara ekstrem warga bangsanya.Orwell sebelum memutuskan untuk beralih profesi menjadi penulis penuh waktu, adalah seorang perwira Kepolisian Kolonial Britania Raya (Indian Imperial Police) yang bertugas di Burma (sekarang Myanmar) pada 1922 - 1927.Orwell bergabung pada usia 19 tahun. Dan, memutuskan mengundurkan diri setelah lima tahun bertugas. Dia muak dengan sistem imperialisme dan rasisme Pemerintah Kolonial Britania Raya. Pengalaman ini menyebabkan pandangan politiknya yang sosialisme demokratis. Dia istikamah melawan segala bentuk kekuasaan yang menindas.Pengalaman traumatis dan moral ini menginspirasinya untuk kelahiran dua karya ikonisnya yang lain. Novel pertamanya, Burmese Days, merupakan salah satu hasilnya. Terbit pada 1934, novel ini merupakan karya semi-autobiografi berdasarkan pengalamannya pribadi selama bertugas di Burma.Kemudian esainya “Shooting an Elephant” yang dimuat di Majalah Sastra New Writing Edisi Musim Gugur 1936. Menjadi salah satu kritik tajam terhadap imperialisme. Nilai kelegendaan esai ini, karena menyuguhkan potret psikologis jujur mengenai kekuasaan yang merusak moral imperialis dan sekaligus membinasakan kebebasan mereka sendiri.Novel “Nineteen Eighty-Four”Contoh representatif karya distopia dari George Orwell adalah Novel Nineteen Eighty-Four. Terbit pada 8 Juni 1949 oleh Penerbit Secker & Warburg di Britania Raya. Ini merupakan novel terakhirnya, karena tujuh bulan lebih 12 hari kemudian, persisnya pada 21 Januari 1950, George Orwell tutup usia.Novel ini mendeskripsikan masa depan. Orwell menulis pada 1949 dan mengisahkan masyarakat dengan latar waktu 1984. Dunia, menurut imajinasi progresif Orwell, akan berada di bawah tangan penguasaan rezim totaliter. Adapun asal-usul judul, ada dugaan merupakan hasil pembalikan dua digit terakhir dari proses kreatif novel ini yang bermula pada tahun 1948.Kisahnya mengekspose (secara imajinatif) bahaya tentang sensor ekstrem, menguak perihal manipulasi sejarah, dan kebebasan warga bangsa hilang akibat kontrol pemerintah yang absolut. Demikianlah kisah bergulir di sebuah negara fiktif, Oceania. Warga bangsanya mendapat pengawasan ketat Big Brother. Diktator serbatahu dan senantiasa mengawasi.Di Negara Oceania hanya berdiri satu partai. English Socialism (Ingsoc). Pemilihan umum demokratis dan oposisi politik sama sekali tidak dikenal. Partai tunggal tersebut betul sungguh mendominasi penguasaannya pada segenap aspek kehidupan warga bangsa, mulai dari ekonomi, media, pikiran sampai sejarah.Di Negara Oceania berlaku Bahasa Pengendalian (Newspeak). Frasa panjang atau mengandung banyak makna mengalami pemadatan menjadi kata yang pendek dan mudah terucapkan. Memotong English Socialism menjadi Ingsoc bertujuan untuk menghilangkan esensi demokrasi asli dari kata “sosialisme”. Lalu menukarnya dengan dogma partai yang kaku dan mekanis.Newspeak sesungguhnya merupakan bahasa buatan hasil ciptaan Partai Ingsoc untuk mempersempit jangkauan kosakata dan membatasi pemikiran kritis warga bangsa. Ia menjadi alat untuk menyebabkan Doublethink (Pikiran Ganda) berfungsi sempurna.Lantaran Newspeak telah membatasi kosakata dan mengekang akal untuk bekerja secara optimal, warga bangsa di Negeri Oceania menjadi jauh lebih terkontrol untuk dengan mudah menerima realitas ganda atau ide yang saling bertentangan dan ada dorongan pemaksaan dari Partai tanpa merasa ada yang salah.Partai Ingsoc di Negara Oceania mempunyai tiga slogan paradoks yang sengaja mereka doktrinkan kepada para warga bangsa. Yaitu Perang adalah Damai (War is Peace), Kebebasan adalah Perbudakan (Freedom is Slavery), dan Ketidaktahuan adalah Kekuatan (Ignorance is Strength).Penggabungan konsep Newspeak dan Doublethink berfungsi untuk mendistorsi kebenaran. Warga bangsa mendapat pemaksaan untuk menggunakan Newspeak agar dapat menerima tanpa pemikiran kritis terhadap Doublethink. Dengan demikian, mereka mengalami proses mental secara sukarela memercayai kebohongan demi kebohongan dari Rezim Big Brother.Kisah berpusat pada karakter protagonis Winston Smith, pegawai tingkat rendah di Ministry of Truth (Kementerian Kebenaran). Tugas dan tanggung jawabnya adalah memanipulasi catatan sejarah agar memiliki keselarasan dengan suara pemerintah. Secara diam-diam, dia melancarkan pemberontakan terhadap rezim yang tengah berkuasa.Ilustrasi kreasi Gemini AI.Partai penguasa menguasai pengontrolan semua aspek kehidupan warga bangsa, bahkan merambah hingga pikiran, sejarah, dan bahasa (Newspeak). Winston melakukan pemberontakan dengan menulis buku harian. Ini menurut pranata hukum Negeri Oceania merupakan tindak kejahatan pikiran (thoughtcrime).Di samping menulis buku harian, tindakannya menjalin hubungan asmara, juga secara diam-diam, dengan Julia, menggeretnya pada rangkaian peristiwa sehingga terpaksa berurusan dengan Polisi Pikiran.Julia merupakan wanita yang bekerja sebagai mekanik dan berusia 26 tahun. Kekasih Winston ini seorang yang cerdas dan berjiwa bebas. Berlainan dari Winston yang begitu tidak menyukai ideologi rezim penguasa, Julia melakukan pemberontakan yang terkait dengan kepentingan pragmatis, emosional, dengan fokus pada upaya penikmatan kesenangan hidup hati ini.Julia secara sembunyi-sembunyi menentang aturan ketat Partai, terlebih pada larangan keras berhubungan intim, demi tujuan pencapaian kebahagiaan pribadi. Pada awalnya, Winston menduga Julia adalah mata-mata Partai yang mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk Junior Anti-Sex League atau Polisi Pikiran.Winston dan Julia mengawali jalinan asmara rahasia di sebuah kamar sewaan. Terletak di atas toko barang antik milik Mr. Charrington. Dia sesungguhnya anggota Polisi Pikiran yang menyamar sebagai pemilik toko di kawasan kaum proletar. Cinta dan pemberontakan sejoli itu akhirnya kandas, manakala Polisi Pikiran menangkap keduanyaWinston dan Julia mengalami penyucian otak di Ministry of Love (Kementerian Cinta Kasih). Kementerian ini bertugas untuk mengidentifikasi, memantau, dan memberi pelajaran kepada para pembangkang merasa kapok melalui agen-agen kepolisian rahasia mereka.Tiga nomenklatur kementerian lainnya yang sama-sama ironis, karena memiliki fungsi berseberangan dengan namanya yang terdapat di Negara Oceania. Sebut saja Ministry of Truth (Kementerian Kebenaran) yang justru bertugas menangani berita, hiburan, pendidikan, dan seni untuk kepentingan manipulasi sejarah.Lalu Ministry of Peace (Kementerian Perdamaian) yang justru mengurus perang yang terus-menerus. Serta, Ministry of Plenty (Kementerian Kelimpahan) yang mengatur ekonomi dan pembagian jatah makanan agar warga bangsa berada dalam kondisi tetap miskin dan sangat bergantung kepada negara.Novel Nineteen Eighty-Four memiliki relevansi yang kuat di era digital ini. Karya fiksi klasik ini mampu mendekati ramalan fenomena digital dewasa ini, seperti pengawasan massal, algoritma media sosial, penyensoran informasi, dan manipulasi kebenaran atau disinformasi (hoaks) yang sering hadir di internet.Adapun konsep-konsep yang muncul di dalam novel klasik tersebut di dunia era digital ini, misalnya tampak adanya pengawasan massal Big Brother terhadap segala hal tentang warga bangsanya, kini tecermin dalam pemakaian telepon pintar (smartphone), kamera pengawas (CCTV) bersensor pengenalan wajah (facial recognition), pelacak lokasi, dan privasi data pribadi yang kerap mendapat sentuhan pelanggaran dari pihak-pihak yang menguasai kekuatan aksesnya.Kemudian algoritma dan polarisasi Polisi Pikiran, dapat menemukan persamaan dengan sensasi konten di internet, pembatasan akses informasi dari otoritas tertentu, berikut intervensi budaya pembatalan (cancel culture) yang tidak jarang membatasi kebebasan berpendapat secara sehat.Kemudian tentang manipulasi kata lewat Newspeak dan Doublethink dalam novel klasik karya George Orwell tersebut. Dewasa ini, titisan Newspeak yang membatasi bahasa agar warga bangsa tidak bisa berpikir kritis, mirip dengan buzzer, media framing. Dan, propaganda politik di media sosial yang menyamarkan batas fakta dengan hoaks.Upaya Rezim Big Brother menghapus atau mengubah catatan sejarah terefleksi pada praktik digital manakala informasi, artikel, atau jejak digital seseorang dapat menerima nasib penghapusan dan pemanipulasian dengan cepat di internet.Serta, bentuk relevansi lainnya, dunia naratif dalam Novel Nineteen Eighty-Four yang pada awalnya hadir sebagai upaya untuk memperingatkan. Dewasa ini hadir menjadi cermin yang mendeskripsikan realitas betapa warga bangsa di hampir sebagian besar wilayah geografis Bumi, sangat bergantung pada teknologi dan mudah berada dalam rengkuh pengendalian informasi. ***