Terlihat Bahagia di Media Sosial, Lelah di Dunia Nyata? Ini Penyebabnya

Wait 5 sec.

Ilustrasi Scrolling Media Sosial (sumber: pexels/leon)Saat membuka media sosial, kita sering melihat orang-orang yang tampak menjalani hidup yang menyenangkan. Ada yang terlihat produktif, sering bepergian, memiliki banyak teman, atau berhasil mencapai berbagai pencapaian.Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak sedikit orang yang terlihat bahagia di media sosial, tetapi sebenarnya sedang merasa lelah, cemas, atau tertekan secara mental.Fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan Generasi Z saat ini. Menurut tinjauan literatur oleh Waseso dan Wibowo (2026), penggunaan media sosial berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, rendahnya harga diri, gangguan tidur, hingga isolasi sosial.Lalu, mengapa seseorang bisa terlihat bahagia di media sosial tetapi tetap merasa lelah secara mental?1. Media Sosial Membuat Kita Terbiasa Menampilkan Versi Terbaik Diri SendiriDi media sosial, sebagian besar orang cenderung membagikan momen terbaik dalam hidupnya. Foto yang diunggah biasanya dipilih terlebih dahulu, pencapaian lebih sering dibagikan, dan masalah pribadi sering kali disimpan untuk diri sendiri. Akibatnya, media sosial dipenuhi oleh gambaran kehidupan yang terlihat menyenangkan. Padahal, setiap orang tetap memiliki masalah, kekhawatiran, dan hari-hari yang tidak berjalan sesuai harapan.2. Kita Sering Membandingkan Diri dengan Kehidupan Orang LainKetika melihat orang lain terlihat lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih produktif, tanpa sadar kita mulai membandingkan diri dengan mereka. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai social comparison. Menurut Le Blanc-Brillon dkk. (2025), kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul (upward comparison) berkaitan dengan rendahnya self-esteem dan munculnya gejala depresi.Karena itu, yang melelahkan bukan hanya media sosial itu sendiri, tetapi kebiasaan membandingkan diri yang terus terjadi saat menggunakannya.3. FOMO Membuat Kita Sulit Benar-Benar BeristirahatSelain perbandingan sosial, banyak pengguna media sosial juga mengalami fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal informasi, tren, atau aktivitas orang lain. Akibatnya, seseorang merasa perlu terus memeriksa notifikasi, melihat unggahan terbaru, atau mengikuti berbagai tren yang sedang berlangsung. Lama-kelamaan, kebiasaan ini membuat pikiran sulit beristirahat karena selalu merasa harus mengikuti apa yang terjadi di dunia maya.4. Terlihat Bahagia Tidak Selalu Berarti Sedang BahagiaMedia sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Seseorang dapat terlihat ceria dan aktif di media sosial, tetapi pada saat yang sama sedang menghadapi tekanan akademik, masalah keluarga, kesepian, atau kelelahan emosional yang tidak diketahui orang lain. Karena itu, penting untuk mengingat bahwa unggahan di media sosial bukanlah gambaran utuh tentang kehidupan seseorang.5. Media Sosial Bisa Membantu, Tetapi Juga Bisa MelelahkanMeski sering dikaitkan dengan dampak negatif, media sosial juga memiliki manfaat. Penelitian Kustiawan dkk. (2025) menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang untuk berekspresi dan memperoleh dukungan emosional. Bagi sebagian orang, media sosial membantu mereka menemukan komunitas, berbagi pengalaman, dan merasa lebih dipahami. Namun, ruang yang sama juga dapat memunculkan tekanan sosial, komentar negatif, hingga informasi yang tidak selalu akurat. Karena itu, dampak media sosial sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya.Media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, semakin sering kita menggunakannya, semakin penting pula untuk mengingat bahwa apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Orang yang tampak paling bahagia belum tentu sedang baik-baik saja, dan orang yang jarang membagikan kehidupannya belum tentu sedang mengalami kesulitan. Terkadang, menjaga kesehatan mental bukan berarti menjauh sepenuhnya dari media sosial, tetapi belajar menggunakannya dengan lebih sadar dan tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.