Bos Rosneft Soroti Krisis Energi Mulai Ganggu Rantai Pasok Global

Wait 5 sec.

Pabrik penyulingan minyak Rosneft di kota Gubkinsky di Siberia barat, Rusia pada 2 Juni 2006. Foto: Delphine Thouvenot/AFPRaksasa migas asal Rusia, Rosneft, memperingatkan meningkatnya risiko krisis energi global yang berpotensi memicu gejolak ekonomi dunia di tengah ketidakpastian geopolitik, melemahnya peran lembaga internasional, hingga mulai terganggunya rantai pasok energi dan pangan global.Peringatan tersebut disampaikan CEO Rosneft Oil Company, Igor Sechin, dalam Panel Energi pada St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026. Sechin juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Presiden Rusia untuk Pengembangan Strategis Sektor Bahan Bakar dan Energi serta Keselamatan Lingkungan.SPIEF merupakan salah satu forum ekonomi terbesar di Rusia yang mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku usaha, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas isu-isu strategis global. Forum tahun ini berlangsung pada 3–6 Juni 2026 di St. Petersburg dengan agenda utama mencakup ekonomi global, teknologi masa depan, stabilitas pasar, dan kerja sama internasional.Dikutip dari laporan The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Remains at the Bottom of Pandora’s Box?, Selasa (9/6), Sechin menyoroti perubahan tatanan dunia yang dinilai semakin tidak stabil akibat meningkatnya konflik geopolitik, kebijakan sanksi, serta melemahnya efektivitas lembaga-lembaga internasional.Menurut Sechin, berbagai institusi global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia juga telah kehilangan kemampuan untuk menjalankan fungsi utamanya sebagai regulator global.Sechin juga mengkritik penggunaan sanksi ekonomi yang dinilai telah berubah dari instrumen diplomasi menjadi alat persaingan yang tidak adil. "Dalam 12 tahun terakhir, sekitar 32.000 sanksi telah dijatuhkan kepada Rusia, sementara volume perdagangan global yang terdampak pembatasan terus meningkat," katanya.CEO of Rosneft Oil Company, Igor Sechin. Foto: SPIEFSelain itu, Sechin menyoroti perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, yang menurutnya menjadi salah satu titik risiko terbesar bagi perekonomian global saat ini. Jalur tersebut merupakan salah satu koridor utama distribusi minyak, gas alam, serta pupuk dunia.Gangguan terhadap arus perdagangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga energi sekaligus memicu kenaikan harga pangan global akibat terganggunya pasokan pupuk.Ketergantungan terhadap pasokan energi global membuat perubahan harga minyak, gangguan jalur perdagangan, maupun meningkatnya tensi geopolitik berpotensi memengaruhi biaya impor, inflasi, hingga kebijakan energi nasional.Selain energi, volatilitas harga pupuk juga dapat berdampak langsung terhadap sektor pertanian. Kenaikan biaya pupuk berisiko meningkatkan biaya produksi petani dan berujung pada kenaikan harga pangan di dalam negeri.Dalam menghadapi tantangan tersebut, Sechin menilai Rute Laut Utara (Northern Sea Route) akan semakin strategis bagi perdagangan dunia. Jalur tersebut dinilai mampu mempercepat pengiriman kargo antarwilayah sekaligus menekan biaya logistik global.Tak hanya sektor energi dan perdagangan, Sechin juga menyoroti transformasi sistem keuangan global. Menurutnya, nilai kapital dunia saat ini melampaui USD 500 triliun atau hampir lima kali lipat dari produk domestik bruto (PDB) global."Meningkatnya penggunaan dolar AS sebagai instrumen sanksi telah mendorong sejumlah negara mengembangkan sistem pembayaran alternatif dan melakukan diversifikasi cadangan devisa," katanya.Sechin bahkan menyebut Rusia berpotensi memperoleh tambahan pendapatan lebih dari USD 400 miliar apabila sebelumnya meningkatkan porsi emas dalam cadangan nasionalnya. Menurutnya, kombinasi ketidakpastian geopolitik, risiko gangguan energi, perubahan sistem keuangan global, dan melemahnya efektivitas lembaga internasional menjadi tantangan besar yang perlu diantisipasi dunia dalam beberapa tahun ke depan.