Koalisi Internasional Tuduh Tiga Perusahaan China atas Aktivitas Peretasan

Wait 5 sec.

Ilustrasi hacker (foto; dok. pexels)JAKARTA – Sebuah koalisi internasional yang terdiri dari Amerika Serikat, sekutu berbahasa Inggris tradisionalnya, serta negara-negara lain seperti Jerman, Italia, dan Jepang, menuding tiga perusahaan China terlibat dalam aktivitas peretasan.Dalam sebuah laporan setebal 37 halaman yang diterbitkan pada Rabu, 27 Agustus, koalisi tersebut menuduh perusahaan-perusahaan bernama Sichuan Juxinhe Network Technology, Beijing Huanyu Tianqiong Information Technology, dan Sichuan Zhixin Ruijie Network Technology menyediakan "produk dan layanan terkait siber untuk dinas intelijen China, termasuk beberapa unit di Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan Kementerian Keamanan Negara."Sichuan Juxinhe telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS karena diduga terkait dengan kelompok peretas yang dijuluki "Salt Typhoon." Kelompok ini dituduh mencuri data panggilan telepon dalam jumlah besar milik warga Amerika, termasuk komunikasi dari para pemimpin senior di Washington. Sementara itu, Beijing Huanyu Tianqiong dan Sichuan Zhixin Ruijie dilaporkan menjadi sasaran kebocoran data yang belum dijelaskan baru-baru ini.Kementerian Luar Negeri China menyatakan menentang penyebaran informasi yang dianggapnya salah dan bermotif politik. Pihaknya juga menyatakan sangat tidak puas dengan langkah Amerika Serikat yang dianggap mengajak negara lain untuk "menjelekkan dan menjebak" China dalam isu keamanan siber.Meskipun pejabat AS telah lama mengeluhkan aktivitas peretasan yang terkait dengan China, pelanggaran yang dikaitkan dengan Salt Typhoon dinilai sangat luas. Seorang senator AS pada tahun lalu menyebut skala pelanggaran ini "menggemparkan," sementara senator lain menyatakan bahwa ini kemungkinan merupakan "peretasan telekomunikasi terbesar dalam sejarah negara kita."Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal yang diterbitkan pada Rabu, pejabat tinggi FBI bidang siber, Brett Leatherman, mengatakan bahwa Salt Typhoon bertanggung jawab atas "salah satu pelanggaran spionase siber paling signifikan yang pernah kami lihat di Amerika Serikat." Menurut laporan tersebut, peretas menargetkan lebih dari 80 negara dan menunjukkan minat terhadap lebih dari 600 perusahaan.AS secara rutin menuding entitas asing, termasuk dari China, atas keterlibatan mereka dalam spionase siber, kadang-kadang bersama anggota aliansi intelijen "Five Eyes" yang terdiri dari Australia, Inggris, Kanada, dan Selandia Baru. Pernyataan pada hari Rabu ini juga ditandatangani oleh Republik Ceko, Finlandia, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Polandia, dan Spanyol.