Mantan petenis Indonesia Yayuk Basuki hadir dan menyaksikan turnamen Rajawali Women's Tennis Open 2022 di Lapangan Tenis Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (1/12/2022). (ANTARA/Muhammad Ramdan)JAKARTA - Eksistensi Yayuk Basuki di dunia olahraga tenis tak diragukan. Ia pernah jadi petenis Indonesia yang menembus level kejuaraan terkemuka dunia. Namun, prestasi itu tak didapat dengan mudah. Ia pernah kesulitan dana kala tak punya sponsor untuk bertanding di luar negeri.Yayuk harus menutupinya dengan dana pribadi, dari biaya perjalanan dan hotel. Semuanya nyaris tanpa bantuan pemerintah. Apalagi, perhatian pemerintah ke olahraga tenis sangat kurang. Bonusnya saja sedikit.Minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia olahraga tenis bukan cerita baru. Kisah itu terus berulang kali terjadi. Kondisi itu karena pemerintah punya fokus yang banyak. Mau tak mau perhatian pemerintah terbatas kepada olahraga yang punya potensi menyumbang kemenangan: bulu tangkis.Kondisi itu dirasakan oleh Yayuk Basuki. Wanita kelahiran Yogyakarta 30 November 1970 itu melihat sendiri bagaimana dunia tenis Indonesia bak anak bawang. Tak banyak atlet bulu tangkis yang sukses menembus kejuaraan terkemuka dunia.Narasi itu kemudian jadi motivasi Yayuk untuk membawa nama tenis Indonesia mendunia. Ia sadar pemerintah tak bisa diandalkan. Ia memilih jalan untuk berjuang sendiri dengan dukungan keluarga. Ia selalu memaksimalkan potensi yang ada.Petenis wanita andalan Indonesia, Yayuk Basuki. (ANTARA)Dana sponsor selalu dimanfaatkannya secara maksimal. Namun, dunia tenis tak bisa sepenuhnya mengandalkan dana sponsor. Kadang kala sponsor datang dan pergi sesuka hati. Kondisi itu membuat Yayuk harus menanggung segalanya sendiri. Apalagi, di era 1990-an.Kala itu Yayuk sedang bersinar. Ia menjadi anggota dari Asosiasi Tenis Wanita (WTA). Artinya, Yayuk ada kewajiban untuk ikut dalam kompetisi yang digelar WTA di berbagai negara. Yayuk harus memanfaatkan benar dana dari kocek pribadinya supaya bisa tetap ikut, dari tabungan hingga hadiah menang.Lagi-lagi tanpa bantuan pemerintah. Namun, hal itu terbalas dengan kemenangan demi kemenangan yang diraih Yayuk. Ia pernah bersinar di tiga gelaran Asian Games -- 1986, 1990, dan 1998. Ia juga mampu menembus urutan 18 dunia petenis wanita pada 1997.“Setiap tahun, ia memilih pertandingan internasional yang akan ia ikuti. Sebagai anggota WTA, ia punya kewajiban mengikuti beberapa pertandingan WTA. Sebab, kalau tidak main di beberapa turnamen, ia akan terkena penalti. Untuk setiap turnamen yang ia ikuti, ia mengeluarkan biaya sendiri karena ia tidak lagi punya sponsor, termasuk untuk travelling cost dan hotel.”“Setahun, minimal Yayuk mengaku harus mengeluarkan 100 ribu dolar AS untuk dirinya dan suami. Kehadiran Hery di setiap pertandingan dibutuhkan pula oleh Yayuk untuk mengevaluasi setiap pertandingan yang akan dan sudah ia jalani. Hasilnya memang tak mengecewakan. Dalam tahun kedua ia memasuki dunia pro, ia berhasil menjuarai turnamen WTA di Kota Pattaya dan mencapai putaran ketiga di grand slam Wimbledon, Inggris,” ungkap Rustam F. Mandayun dan Andari Karina Anom majalah Tempo berjudul Sayonara dari Yayuk Basuki (1999).Tiada Bonus BesarNama besar Yayuk di dunia tenis tak membuat jalannya kian mudah. Yayuk terus berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Memang Yayuk pernah berkali-kali menyatakan pensiun. Namun, ia terus balik lagi karena dunia tenis Indonesia butuh contoh figur sukses, sekalipun usianya tak lagi muda.Momentum balik nyatanya tak mudah. Yayuk hanya bisa mengandalkan dirinya dan keluarga. Ambil contoh kala Yayuk mulai aktif kembali ikut kompetisi tenis pada 2008. Ia bak memulai segalanya dari nol, termasuk urusan peringkat.Kondisi itu membuat Yayuk mengeluarkan dana dari kantong pribadi yang tak sedikit. Dia sampai menjual mobilnya untuk bisa mengikuti kompetisi tenis di luar negeri. Bantuan dari pemerintah nyaris tidak ada. Bonus dari pemerintah saja minim.Terakhir, dia mendapatkan bonus pas jadi jawara di Asian Games. Jumlahnya hanya Rp500 ribu dan ucapan terima kasih. Namun, pada Asian Games 1990 naik jadi Rp1 juta. Tiada bonus sampai ratusan juta atau miliaran untuk menunjang kehidupan petenis.Yayuk Basuki sendiri memang tak mempersoalkan urusan bonus. Ia kadang juga menyebut bonus bak racun – bisa cepat puas. Ia lebih senang menganggap perjuangannya sebagai bentuk dedikasi untuk bangsa dan negara. Ia juga berharap pemerintah Indonesia lebih peduli dengan cabang olahraga tenis.“Rajin mengikuti turnamen adalah demi mendongkrak peringkat. Dana besar sudah keluar dari kocek pribadi. Latihan, transportasi, akomodasi selama mengikuti turnamen, tak ada yang gratis. Dia sampai menjual mobil kesayangannya New CRV sudah melayang.”“Tapi itu tidak disesali. Mengikuti banyak turnamen makin mengasah kemampuannya. Selain itu, "modal" nantinya bisa balik bila ada sponsor atau jika berhasil menang di turnamen berhadiah besar,” ujar Harun Mahbub dalam tulisannya di majalah Tempo berjudul Kembali dan Masih Bertaji (2009).