Fasilitas pengayaan uranium Iran. (Sumber: IRNA)JAKARTA - Iran menyesalkan keputusan Inggris, Prancis dan Jerman yang meluncurkan proses untuk menerapkan kembali sanksi PBB terkait program nuklir Teheran, tapi tetap membuka peluang dialog.Langkah ketiga negara yang dikenal sebagai E3, bagian dari Kesepakatan Nuklir 2015, dikhawatirkan memicu ketegangan dengan Iran.Sorang pejabat senior Iran menuduh ketiga kekuatan Eropa tersebut merusak diplomasi, berjanji Teheran tidak akan tunduk pada tekanan atas langkah E3 untuk meluncurkan apa yang disebut "mekanisme snapback".Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan itu "ilegal dan disesalkan", tetapi tetap membuka peluang untuk berdialog."Langkah ini merupakan tindakan yang menentang diplomasi, bukan kesempatan untuk itu. Diplomasi dengan Eropa akan terus berlanjut," kata pejabat itu, melansir Reuters 29 Agustus."Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan," tambahnya.Iran sebelumnya telah memperingatkan akan adanya "tanggapan keras" jika sanksi diberlakukan kembali, dan pejabat Iran tersebut mengatakan sedang meninjau opsi-opsinya, termasuk menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.Diberitakan sebelumnya, Panama, yang memegang jabatan presiden Dewan Keamanan PBB untuk Bulan Agustus, mengonfirmasi Jerman, dan Prancis telah memulai proses penerapan kembali sanksi terhadap Iran menyusul gagalnya negosiasi mengenai program nuklir Teheran."Ya, mereka telah mengirimkan surat resmi yang memberitahukan permintaan mereka untuk mengaktifkan snapback," ujar juru bicara misi tetap Panama untuk PBB kepada para wartawan, dikutip dari TASS.Dewan Keamanan PBB dijadwalkan bertemu secara tertutup pada Hari Jumat atas permintaan E3 untuk membahas langkah snapback terhadap Republik Islam tersebut, kata para diplomat.Sebelumnya, Iran dan E3 telah mengadakan beberapa putaran perundingan sejak Israel dan AS mengebom instalasi nuklirnya pada pertengahan Juni, dengan tujuan menyepakati penundaan mekanisme snapback.Namun, E3 menilai perundingan di Jenewa pada Hari Selasa tidak menghasilkan sinyal kesiapan yang memadai untuk kesepakatan baru dari Iran.E3 bertindak pada Hari Kamis atas tuduhan Iran telah melanggar Kesepakatan Nuklir 2015 yang bertujuan untuk mencegahnya mengembangkan kemampuan senjata nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.Diketahui, E3, bersama dengan Rusia, Tiongkok, dan Amerika Serikat, merupakan pihak dalam kesepakatan tersebut.Presiden AS ketika itu, Trump, menarik Negeri Paman Sam keluar dari perjanjian tersebut pada tahun 2018 selama masa jabatan pertamanya, menyebut kesepakatan itu sepihak yang menguntungkan Iran, dan kesepakatan itu berantakan di tahun-tahun berikutnya karena Iran mengabaikan batasan yang ditetapkan pada pengayaan uraniumnya.Pemerintahan kedua Presiden Trump mengadakan negosiasi tidak langsung yang belum membuahkan hasil awal tahun ini dengan Teheran.E3 mengatakan mereka berharap Iran akan terlibat pada akhir September untuk meredakan kekhawatiran tentang agenda nuklirnya secara memadai sehingga mereka dapat menunda tindakan konkret."E3 berkomitmen untuk menggunakan setiap alat diplomatik yang tersedia untuk memastikan Iran tidak pernah mengembangkan senjata nuklir," termasuk mekanisme snapback, kata mereka dalam surat yang dikirim ke Dewan Keamanan PBB dan dilihat oleh Reuters.Terpisah, Rusia dan Tiongkok, sekutu strategis Iran, menyelesaikan rancangan resolusi Dewan Keamanan pada hari Kamis yang akan memperpanjang kesepakatan Nuklir 2015 selama enam bulan dan mendesak semua pihak untuk segera melanjutkan negosiasi.Namun mereka belum meminta pemungutan suara."Dunia berada di persimpangan jalan," kata Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Dmitry Polyanskiy kepada para wartawan."Satu pilihan adalah perdamaian, diplomasi, niat baik. Pilihan lainnya adalah semacam diplomasi langsung.Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen kemurnian fisil, mendekati tingkat 90 persen kemurnian bom, dan memiliki cukup material yang diperkaya hingga tingkat tersebut, jika dimurnikan lebih lanjut, untuk enam senjata nuklir, sebelum serangan udara Israel dimulai pada 13 Juni, menurut IAEA, badan pengawas nuklir PBB.Namun, sebenarnya, memproduksi senjata akan membutuhkan waktu lebih lama, dan IAEA telah mengatakan meskipun tidak dapat menjamin program nuklir Teheran sepenuhnya damai, mereka tidak memiliki indikasi kredibel mengenai proyek senjata terkoordinasi.Barat mengatakan kemajuan program nuklir Iran melampaui kebutuhan sipil, sementara Teheran mengatakan mereka menginginkan energi nuklir hanya untuk tujuan damai.