Ilustrasi orang sedang minum (Unsplash)JAKARTA - Pada umumnya, kebanyakan orang harus mencukupi kebutuhannya minum 8 gelas per hari. Namun, sebuah penelitian terbaru justru menemukan hal mengejutkan. Kurang minum ternyata bisa membuat rasa stres jadi jauh lebih berat untuk dihadapi.Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Applied Physiology menemukan bahwa dehidrasi ringan ternyata bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap stres sehari-hari."Temuan ini menunjukkan bahwa dehidrasi ringan yang berlangsung terus-menerus dapat memperkuat respons stres dengan cara yang baru mulai kita pahami," jelas para peneliti, dikutip dari laman Science Alert.Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menguji sekelompok orang dewasa muda sehat. Mereka dibagi menjadi dua kelompok:- Kelompok pertama terbiasa minum kurang dari 1,5 liter air per hari.- Kelompok kedua memenuhi rekomendasi cairan, yakni sekitar dua liter untuk wanita dan 2,5 liter untuk pria.Setelah seminggu, kedua kelompok diminta menjalani uji stres di laboratorium, berupa berbicara di depan umum dan tes hitung cepat. Hasilnya meski sama-sama gugup, kelompok yang kurang minum mengalami lonjakan kadar kortisol (hormon utama stres) jauh lebih tinggi."Lonjakan kortisol yang berulang dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga diabetes," kata penelitian tersebut.Hal menarik lainnya, peserta yang kurang minum tidak merasa lebih haus dibanding kelompok cukup cairan. Namun, tubuh mereka memberi tanda lain, yaitu urine lebih pekat dan berwarna gelap.“Rasa haus ternyata tidak selalu bisa diandalkan sebagai indikator kebutuhan cairan,” kata peneliti.Inilah sebabnya perubahan warna urine bisa menjadi petunjuk sederhana apakah tubuh cukup terhidrasi atau justru kekurangan cairan.Saat tubuh kekurangan cairan, otak melepaskan hormon vasopresin untuk membantu ginjal menghemat air. Tapi, hormon ini juga ikut memengaruhi sistem stres di otak sehingga membuat tubuh lebih reaktif."Vasopresin memang melindungi cadangan air, tapi di saat bersamaan bisa meningkatkan pelepasan kortisol," jelas peneliti.Artinya, tubuh mengalami beban ganda. Di satu sisi menjaga cairan, di sisi lain lebih mudah terpicu stres.Setiap orang punya kebutuhan cairan berbeda, tergantung usia, aktivitas, hingga iklim. Namun ada cara praktis untuk mengecek hidrasi harian, yakni melihat warna urine. Cara sederhananya adalah:- Kuning pucat - pertanda cukup cairan.- Kuning tua atau pekat - tandanya tubuh butuh tambahan air."Kesehatan yang baik datang dari kebiasaan kecil yang konsisten, bukan langkah besar sesaat," tulis penelitian.