Jessica Meir dan Sophie Adenot, Dua Astronaut Perempuan yang Ikut Misi ke ISS

Wait 5 sec.

Jessica Meir dan Sophie Adenot, Dua Astronaut Perempuan yang Ikut Misi ke ISS. Foto: Pau Barrena/AFPRoket milik SpaceX lepas landas dari Florida pada Jumat dini hari (13/2), membawa empat awak menuju International Space Station (ISS) untuk menjalani misi ilmiah. Misi berdurasi delapan bulan di orbit Bumi itu akan berfokus pada berbagai penelitian, mulai dari kesehatan tubuh manusia, teknologi medis hingga pengamatan perilaku manusia di lingkungan mikrogravitasiDua diantara empat awak yang ikut dalam misi bernama Crew-12 ini merupakan astronaut perempuan. Mereka adalah Jessica Meir dan Sophie Adenot.Menariknya, selain berfokus pada penelitian ilmiah, misi ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memahami bagaimana manusia dapat hidup dan bekerja di luar Bumi dalam waktu lama.Peran para astronaut perempuan dalam misi ini menjadi sorotan karena menunjukkan semakin luasnya keterlibatan perempuan dalam eksplorasi antariksa.Jessica Meir, Ilmuwan yang Meneliti Kehidupan di Kondisi EkstremJessica Meir. Foto: FREDERICK M. BROWN/AFPJessica Meir dikenal sebagai astronaut yang memiliki latar belakang ilmiah kuat. Ia lahir di Caribou, Maine, Amerika Serikat, dan menempuh pendidikan biologi sebelum melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor di bidang biologi kelautan.Penelitiannya sejak awal memang banyak berkaitan dengan kemampuan makhluk hidup bertahan dalam kondisi ekstrem, topik yang kemudian sangat relevan dengan penelitian di luar angkasa.Sebelum menjadi astronaut, Meir terlibat dalam berbagai proyek penelitian fisiologi manusia, termasuk studi tentang adaptasi tubuh terhadap lingkungan ekstrem dan penerbangan tanpa gravitasi.Ia juga pernah mengikuti misi bawah laut NASA sebagai aquanaut, sebuah simulasi yang digunakan untuk melatih kondisi kerja di lingkungan terisolasi seperti luar angkasa. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika ia terpilih sebagai astronot pada 2013.Dalam misi sebelumnya pada 2019–2020, Meir menghabiskan lebih dari 200 hari di luar angkasa dan berpartisipasi dalam ratusan eksperimen ilmiah. Ia juga dikenal luas karena ikut dalam spacewalk perempuan pertama bersama Christina Koch, sebuah momen bersejarah dalam eksplorasi antariksa. Pengalaman tersebut membuatnya menjadi salah satu astronaut yang dipercaya kembali menjalankan misi jangka panjang.Pada misi terbaru ini, Meir kembali terlibat dalam penelitian tentang biologi manusia dan dampak mikrogravitasi terhadap tubuh. Penelitian semacam ini penting untuk memahami risiko kesehatan dalam perjalanan antariksa yang lebih jauh, termasuk rencana misi ke Bulan dan Mars di masa depan.Sophie Adenot, Pilot Militer yang Beralih ke Misi AntariksaSophie Adenot. Foto: Pau Barrena/AFPBerbeda dengan Meir yang berasal dari jalur akademik, Sophie Adenot memiliki latar belakang militer dan penerbangan. Ia lahir di Cosne-Cours-sur-Loire, Prancis, dan berkarier sebagai pilot helikopter di Angkatan Udara dan Antariksa Prancis. Selama bertugas, ia mengumpulkan lebih dari 3.000 jam terbang dan mengoperasikan berbagai jenis helikopter dalam misi militer maupun pengujian.Adenot juga pernah menjadi pilot uji dan pemimpin formasi penerbangan, peran yang menuntut ketelitian tinggi serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi kompleks. Pengalaman tersebut menjadi nilai tambah ketika ia mengikuti seleksi astronaut dari Badan Antariksa Eropa. Pada 2022, ia terpilih sebagai salah satu astronot baru ESA setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat.Setelah menjalani pelatihan dasar astronaut selama dua tahun, Adenot akhirnya menjalankan misi luar angkasa pertamanya pada Februari 2026. Dalam misi ini, ia terlibat dalam berbagai eksperimen, termasuk penelitian tentang memori dan fungsi kognitif manusia di ruang angkasa serta pengujian teknologi medis berbasis kecerdasan buatan.Penelitian tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan layanan kesehatan di lingkungan ekstrem, baik di luar angkasa maupun di daerah terpencil di Bumi.Keikutsertaan Adenot juga menandai tonggak penting sebagai salah satu perempuan Prancis yang berhasil mencapai luar angkasa. Perjalanan kariernya menunjukkan bagaimana pengalaman di bidang penerbangan dan teknik dapat menjadi jalur menuju eksplorasi antariksa.Misi Selama 8 Bulan di ISSMisi Selama 8 Bulan di ISS. Foto: Jim Watson/AFPMisi dimulai pada Jumat (13/2), ketika kru diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, menggunakan wahana antariksa menuju ISS. Setelah proses docking dan pembukaan palka, mereka resmi bergabung dengan kru yang telah lebih dulu berada di stasiun tersebut.Selama delapan hingga sembilan bulan ke depan, para astronaut akan tinggal dan bekerja di ISS yang mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 400 kilometer. Stasiun ini berfungsi sebagai laboratorium mikrogravitasi tempat para ilmuwan dari berbagai negara melakukan penelitian bersama.Penelitian di ISS membantu ilmuwan memahami cara tubuh manusia beradaptasi dalam jangka panjang di luar angkasa. Informasi ini penting untuk mendukung rencana eksplorasi yang lebih jauh, termasuk perjalanan berawak ke Bulan dan Mars. Selain itu, banyak teknologi dan pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian luar angkasa juga dapat diterapkan di Bumi, terutama dalam bidang kesehatan dan teknologi.