Menjadikan Mahasiswa Indonesia sebagai Warga Dunia

Wait 5 sec.

Ilustrasi pendidikan. Foto: ShutterstockDunia pendidikan tinggi di Indonesia saat ini tengah menghadapi paradoks yang cukup menyesakkan. Kita melihat bahwa di satu sisi, gerbang internasionalisasi terbuka lebar melalui berbagai skema beasiswa, pertukaran pelajar, dan kolaborasi riset lintas negara. Namun di sisi lain, banyak mahasiswa yang justru memilih untuk bergeming di balik dinding kenyamanan domestik.Beban Linguistik dan SosiokulturalFenomena "katak di bawah tempurung" bukanlah sekadar kiasan usang, melainkan juga cerminan dari krisis kepercayaan diri dan hambatan struktural yang berakar dalam.Ketakutan untuk melangkah ke panggung global sering kali dikambinghitamkan pada rendahnya kefasihan berbahasa Inggris. Namun jika ditelaah lebih kritis, masalah bahasa hanyalah pucuk gunung es dari persoalan mentalitas yang jauh lebih kompleks.Akar masalah ini bermula dari budaya pedagogi yang cenderung menghukum kesalahan daripada merayakan proses. Sejak bangku sekolah dasar, bahasa Inggris sering kali diajarkan sebagai sekumpulan rumus tata bahasa yang kaku, bukan sebagai alat komunikasi yang dinamis. Akibatnya, muncul sebuah beban psikologis yang disebut sebagai kecemasan bahasa.Mahasiswa merasa bahwa jika mereka tidak mampu berbicara dengan aksen yang sempurna atau tata bahasa yang tanpa cela, mereka tidak layak untuk berinteraksi dengan dunia internasional.Ilustrasi mahasiswa berkuliah. Foto: PanuShot/ShutterstockMentalitas "perfeksionisme yang melumpuhkan" ini membuat mereka lebih memilih diam daripada mengambil risiko untuk terlihat salah. Padahal, dalam dunia akademik global, keberanian untuk menyampaikan gagasan yang orisinal jauh lebih dihargai daripada sekadar kemampuan linguistik yang memukau, tetapi kosong substansi.Selain hambatan linguistik, terdapat pula faktor sosiokultural berupa inferiority complex atau rasa rendah diri kolektif yang masih menghantui. Ada persepsi yang keliru bahwa mahasiswa dari universitas luar negeri memiliki kecerdasan yang jauh melampaui kemampuan putra-putri bangsa. Ketakutan akan ketidakmampuan bersaing secara intelektual ini diperparah oleh kurangnya paparan terhadap lingkungan yang menuntut kemandirian ekstrem.Dekonstruksi Budaya KomunalBudaya komunal yang sangat kuat di Indonesia—meski memiliki sisi positif dalam hal dukungan sosial—terkadang menjadi jangkar yang menahan mahasiswa untuk mengeksplorasi cakrawala baru yang asing dan menantang. Mereka merasa cukup dengan apa yang ada di depan mata, tanpa menyadari bahwa dunia di luar sana sedang bergerak dengan kecepatan cahaya dalam hal inovasi dan kompetisi.Secara kritis, sikap apatis terhadap peluang luar negeri ini mencerminkan kegagalan dalam membangun visi sebagai warga dunia (global citizen). Tanpa wawasan yang luas atau sikap broadminded, lulusan perguruan tinggi akan kesulitan beradaptasi dengan disrupsi global. Mereka akan tetap menjadi penonton di rumah sendiri ketika tenaga kerja asing yang lebih adaptif dan komunikatif mulai mengisi posisi-posisi strategis.Oleh karena itu, diperlukan sebuah dekonstruksi total terhadap cara mahasiswa memandang dunia dan kemampuan diri mereka sendiri. Perubahan ini tidak bisa hanya bersifat kosmetik, tetapi juga harus menyentuh fondasi cara berpikir dan bertindak di lingkungan akademis.Reposisi PeranMahasiswa Universitas Sriwijaya ketika kunjungan internasional ke Osnabrueck University of Applied Science, Jerman, dengan beasiswa DAAD. Foto: Dokumentasi pribadiSolusi pertama yang harus diupayakan adalah reposisi peran bahasa Inggris di lingkungan kampus. Institusi pendidikan harus mampu menciptakan ekosistem yang menormalisasi penggunaan bahasa internasional sebagai alat kerja, bukan sebagai simbol status sosial atau kecerdasan. Penggunaan bahasa Inggris dalam diskusi kelas, penulisan laporan riset, dan seminar kecil harus didorong tanpa adanya tekanan penghakiman terhadap kesalahan gramatikal.Ketika mahasiswa mulai melihat bahasa sebagai jembatan yang membawa mereka pada data riset yang lebih kaya atau teman baru dari belahan bumi lain, rasa takut itu perlahan akan terkikis oleh rasa ingin tahu. Fokus harus dialihkan dari "bagaimana cara bicara yang benar" menjadi "bagaimana cara menyampaikan ide ini agar dunia paham."Strategi kedua adalah melalui program pendampingan atau mentorship yang bersifat berkelanjutan. Mahasiswa membutuhkan bukti nyata bahwa perjalanan ke luar negeri adalah hal yang mungkin bagi siapa saja, bukan hanya bagi mereka yang memiliki privilese finansial atau kecerdasan di atas rata-rata.Menghadirkan alumni atau rekan sebaya yang telah sukses menjalani program internasional untuk berbagi kisah tentang kegagalan, kebingungan bahasa, hingga akhirnya mampu beradaptasi akan memberikan efek psikologis yang kuat. Testimoni tentang bagaimana mereka "bertahan hidup" di negeri orang jauh lebih memotivasi daripada sekadar brosur beasiswa yang terlihat kaku dan intimidatif.Langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah integrasi kurikulum yang berbasis kolaborasi internasional jarak jauh. Sebelum mahasiswa berani menginjakkan kaki di bandara internasional, mereka perlu dilatih untuk berkolaborasi secara virtual melalui proyek-proyek bersama dengan mahasiswa dari negara lain.Internasionalisasi di Dalam KampusIlustrasi mahasiswa. Foto: ShutterstockMelalui interaksi digital yang intens, mahasiswa akan menyadari bahwa rekan-rekan mereka di luar negeri juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan, sehingga rasa minder tersebut perlahan akan sirna.Pengalaman "internasionalisasi di dalam kampus" ini akan menjadi jembatan transisi yang aman bagi mereka untuk membangun rasa percaya diri, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil peluang riset atau pertukaran pelajar secara fisik.Pada akhirnya, mencetak generasi yang berwawasan global membutuhkan sinergi antara kebijakan institusi dan perubahan paradigma personal. Dosen dan pengelola pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk meruntuhkan dinding-dinding "tempurung" tersebut dengan memberikan tantangan yang terukur, tapi konsisten.Mahasiswa harus dipaksa keluar dari zona nyaman agar mereka sadar bahwa kompetisi yang sesungguhnya bukan terjadi di dalam ruang kelas lokal, melainkan di pasar ide global yang sangat dinamis.Dengan mentalitas yang tangguh, kemampuan komunikasi yang fungsional, dan wawasan yang terbuka, lulusan Indonesia tidak lagi hanya akan menjadi saksi sejarah, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam kancah internasional yang mampu bersaing dengan kepala tegak.