Denyut Masjid Negara IKN: Anggunnya Simbol Toleransi Nusantara

Wait 5 sec.

Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanRabu, 18 Februari 2026, malam Ramadan pertama tiba. Satu bangunan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara (KIPP IKN) mendadak menjadi magnet: Masjid Negara IKN.Masyarakat sekitar, baik warga Sepaku—kecamatan tempat KIPP IKN berdiri—maupun ASN dan pekerja konstruksi yang tinggal di sana berduyun-duyun memadati jalanan dan halaman depan masjid. Mereka bersiap melaksanakan Tarawih pertama di masjid yang progres pembangunan fisiknya telah mencapai 99%; menyisakan tahap penyelesaian akhir berupa detail kecil saja, termasuk pembersihan kawasan dan pemasangan perabotan.Masjid Negara IKN yang mulai dibangun pada 17 Januari 2024 ini memiliki desain ikonik dengan struktur utama berupa kubah sorban dan menara 99 meter yang menjulang kokoh. Arsitekturnya perpaduan antara estetika modern, filosofi Islam, dan kearifan lokal.Ciri khas paling mencolok dari masjid ini ialah bentuk kubahnya yang melengkung bertumpuk-tumpuk seperti sorban; sangat berbeda dengan kebanyakan kubah masjid yang bergaya Timur Tengah, yakni setengah lingkaran sempurna.Kubah ikonik Masjid Negara IKN. Foto: Aditia Noviansyah/kumparanBentuk sorban ini melambangkan nilai keislaman sekaligus identitas nasional, sebab sorban identik dengan ulama, tokoh agama, bahkan pejuang kemerdekaan Indonesia seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, sampai K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).Desain sorban yang menyerupai galaksi Andromeda itu juga menyimbolkan gerak semesta.“... bentuk sorban yang beputar menciptakan wujud dinamis seperti pusaran tawaf dalam ibadah haji. Elemen arsitektur ini melambangkan semesta yang terus bergerak dan menyatu, serta mengangkat nilai ketakterhinggaan ilahiah,” demikian tulis Alien Design Consultant dalam laman resminya.Alien Design Consultant ialah biro konsultan desain dan arsitektur yang mengeksekusi pembangunan Masjid Negara IKN—juga Istana Garuda.Tampak atas kubah Masjid Negara Ibu Kota IKN yang berbentuk spiral. Foto: Faiz Zulfikar/kumparanMenteri Agama periode 2020–2024 Yaqut Cholil Qoumas juga pernah mengatakan, desain bangunan Masjid Negara IKN yang melingkar melambangkan kerukunan berbangsa, bernegara, dan beragama dalam masyarakat Indonesia.Selain kubah sorban dan bangunan melingkar, minaret atau menara tunggal setinggi 99 meter menjadi karakteristik Masjid Negara IKN. Ketinggian menara ini melambangkan 99 nama Allah atau asmaulhusna. Menara ini dirancang meliuk ke atas sebagai simbol keilahian.Menara 99 meter Masjid Negara IKN. Foto: Aditia Noviansyah/kumparanMasjid Negara IKN, berdasarkan situs web Kementerian Sekretarian Negara RI, berdiri di atas lahan 3,2 hektare dengan luas bangunan 76.600 meter persegi yang dapat menampung 61 ribu jemaah. Struktur bangunannya terdiri dari empat lantai dan dua lantai mezanin.Perancang masjid ini ialah I Nyoman Nuarta, pemahat legendaris Indonesia yang juga mendesain Istana Garuda sebagai kantor presiden di IKN. Meski Nyoman Nuarta beragama Hindu, ia melakukan riset mendalam tentang simbolisme Islam—seperti yang tercermin dalam konstruksi Masjid Negara IKN.Hal itu memperkuat konsep keberagaman dan toleransi di Indonesia, bahwa seorang seniman dapat berkarya melintasi batas-batas agama untuk menciptakan simbol nasional yang mempersatukan bangsa.Ini pun terjadi pada Masjid Istiqlal Jakarta yang dirancang oleh Friedrich Silaban, arsitek Indonesia penganut Kristen Protestan yang merupakan anak dari pendeta Lutheran. Seperti Nyoman Nuarta, Friedrich Silaban—yang juga mendesain Gelanggang Olahraga Bung Karno (GBK)—menggabungkan nilai spiritualitas Islam dengan semangat kemerdekaan/nasionalisme dalam rancangannya.Misalnya, kubah utama Istiqlal yang berdiameter 45 meter melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia: 1945. Arti “Istiqlal” sendiri secara harfiah berarti “kemerdekaan”. Selain itu, lima lantai Istiqlal menyimbolkan 5 Rukun Islam dan 5 sila Pancasila; dan tujuh pintu masuk Istiqlal merepresentasikan 7 lapis langit dalam kosmologi Islam.Masjid Istiqlal Jakarta dengan latar belakang Monas di belakangnya. Foto: egaranugrah/ShutterstockImam Masjid Istiqlal Pimpin Tarawih di Masjid Negara IKNSekitar sebulan sebelum Tarawih perdana digelar di Masjid Negara IKN, Menteri Agama Nasaruddin Umar telah lebih dulu salat Subuh berjemaah di sana pada 11 Januari 2026. Kunjungan dan aktivitas ibadahnya di Masjid Negara IKN saat itu menjadi tanda bahwa masjid tersebut telah siap berfungsi sepenuhnya menyambut bulan suci Ramadan.Istimewanya, salat Tarawih perdana yang berlangsung di IKN diimami oleh KH Martomo Malaing, imam Masjid Istiqlal Jakarta kelahiran Sulawesi Selatan yang merupakah salah satu hafiz terbaik di Indonesia.KH Martomo memimpin Tarawih 23 rakaat (20 rakaat salat Tarawih dan 3 rakaat witir) di malam pertama Ramadan itu. Kehadirannya sebagai imam pembuka menandai difungsikannya Masjid Negara IKN secara penuh untuk pertama kalinya.Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menjelaskan, operasional Masjid Negara IKN di bawah koordinasi langsung Masjid Istiqlal Jakarta. Integrasi manajemen ini juga menyangkut rotasi imam seperti yang berlaku di Masjid Istiqlal. Imam-imam dari Masjid Istiqlal dan dai-dai pusat akan bergantian mengisi agenda di Masjid Negara IKN sepanjang Ramadan.Masjid Negara IKN tak hanya diisi oleh imam dan dai dari pusat, tapi juga para dai lokal terpilih dan pendakwah dari provinsi, seperti Ustaz Irfan Rosadi dari Kementerian Agama Kalimantan Timur yang mengisi ceramah Tarawih perdana di Masjid Negara.Ustaz Irfan berpesan kepada jemaah yang memadati Masjid Negara IKN untuk bersama-sama memperbaiki dan meluruskan niat dalam memasuki Ramadan.“Bila salah dalam menjalankan kehidupan dan ibadah, kita bisa terjerumus… Maka dari itu, mari mantapkan dan luruskan niat…” ujarnya sebelum Tarawih dimulai.Jemaah berdatangan ke Masjid Negara IKN jelang Tarawih pertama Ramadan 1447 Hijriah. Foto: Aditia Noviansyah/kumparanMalam itu, jemaah memenuhi ruangan utama Masjid Negara IKN. Mereka bersiap beribadah sambil memandangi desain interior masjid dengan terkagum-kagum. Kebanyakan baru pertama kali datang ke Masjid Negara, dan ingin sekaligus mengabadikan bangunan yang menjadi salah satu mahakarya arsitektur kontemporer di Indonesia itu.Para pengunjung mengeluarkan ponsel dan memotret bagian dalam kubah masjid yang berbentuk spiral dan tampak meliuk-liuk indah.Tarawih pertama di Masjid Negara IKN. Foto: Aditia Noviansyah/kumparanKetika Tarawih dimulai, ruangan utama sudah sesak oleh jemaah, sehingga sebagian yang datang belakangan akhirnya naik ke dua lantai mezanin di bagian atas lantai utama.Ruang utama salat ini terletak di ground floor—yang terdiri dari satu lantai utama dengan bentang luas, dan dua lantai mezanin yang melingkar di atasnya.Untuk menuju ground floor tempat salat ini, pengunjung perlu naik lift terlebih dahulu dari basemen atau parkiran yang terletak di bagian bawah (lower ground). Terdapat tiga lantai lower ground yang sebagian besar berfungsi untuk area parkir, kawasan komersial, dan ruang penempatan sistem utilitas.Lantai bawah (lower ground) dan lantai salat (ground floor) juga dihubungkan oleh tangga dan jalur miring (ramp) yang lebar untuk memudahkan evakuasi atau aliran jemaah selesai salat. Tak sedikit jemaah yang memilih lewat tangga melingkar-lingkar—dan agak kelelahan begitu tiba di lantai salat sehingga mereka berkata, “Pantas banyak yang naik lift.”Petugas berjalan di dalam Masjid Negara IKN, dua hari sebelum Ramadan, Selasa (17/2/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARAJumat, 20 Februari 2026, Menag Nasaruddin Umar kembali berkunjung ke Masjid Negara IKN. Ia menjadi khatib salat Jumat perdana di sana. Dalam khutbahnya, ia menyampaikan bahwa masjid berperan strategis sebagai pusat pemberdayaan umat, bukan tempat ibadah semata.“Masjid [IKN] ini akan menjadi mercusuar toleransi, simbol pemersatu umat, dan rumah besar untuk kemanusiaan,” kata Nasaruddin seperti dilansir ikn.go.id.Usai jumatan, Menag meninjau pembangunan Gereja Katolik Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius yang terletak di seberang Masjid Negara IKN.Gereja Katolik Basilika Nusantara terlihat di sisi kiri Masjid Negara IKN. Gereja itu dilengkapi tiang bertanda salib dan atap berbentuk salib. Foto: M Risyal Hidayat/ANTARAMasjid Negara IKN Bersebelahan dengan Gereja Katolik Basilika NusantaraSeperti di Masjid Istiqlal Jakarta yang terletak berdampingan dengan Gereja Katedral, Masjid Negara IKN juga bersisian dengan Gereja Katolik Basilika Nusantara. Pembangunan gereja—yang juga dirancang oleh Nyoman Nuarta—ini telah mencapai 90% (tahap penyelesaian akhir).Menurut Dirjen Bimas Katolik Kemenag, Suparman, basilika itu nantinya tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Katolik, tapi juga menjadi simbol persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di IKN.“Kehadiran Basilika Nusantara menjadi penanda bahwa pembangunan IKN tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga aspek spiritual dan nilai-nilai kebangsaan yang meneguhkan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Suparman, 27 Oktober 2025, seperti dimuat dalam website instansinya.Namun, pemberian nama “basilika” memerlukan izin dari Takhta Suci Vatikan, yakni Paus. Terkait itu, lanjut Suparman, “Pemerintah—melalui Dirjen Bimas Katolik—dan Gereja Katolik terus berkoordinasi.”Keinginan menjadikan gereja di IKN sebagai basilika menunjukkan bahwa bangunan tersebut dirancang menjadi bangunan monumental berskala nasional. Bila diizinkan Paus, maka Basilika Nusantara nantinya memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol kepausan tertentu.Pemilihan nama “Basilika Nusantara” dengan pelindung Santo Fransiskus Xaverius dilakukan lewat koordinasi dengan Konferensi Waligereja Indonesia. Santo Fransiskus Xaverius ialah misionaris yang menyebarkan agama Katolik ke Asia, termasuk Indonesia.“Progres pembangunan gereja besar (basilika) telah memasuki tahap akhir dan akan segera difungsikan,” kata Nasaruddin di IKN.Secara terpisah, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyatakan bahwa Basilika Nusantara ditargetkan bisa digunakan pada Mei 2026, bertepatan dengan Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang akan dihelat di IKN.“Yang menjadi perhatian khusus adalah pemasangan lonceng dan salibnya yang didatangkan khusus dari Belanda… Ditargetkan rampung terpasang bulan depan (Maret) sehinga pertemuan uskup dapat dilaksanakan di IKN sesuai rencana,” jelas Romo saat bertandang ke IKN pada 12 Februari, sepekan sebelum kedatangan Menag Nasaruddin.Menteri Agama Nasaruddin Umar meninjau pembangunan gereja besar di seberang Masjid Negara IKN. Foto: Dok. Instagram @nasaruddin_umarSaat ini para pekerja tampak terus merampungkan bangunan gereja di samping Masjid Negara IKN itu. Kesibukan mereka dapat dilihat oleh para jemaah masjid yang berputar ke area belakang masjid untuk memarkir mobil di basemen.Kawasan sekitar masjid sendiri tampak ramai dan dipenuhi jemaah maupun pedagang. Sepanjang Ramadan, selain Tarawih dan ceramah serta kajian keagamaan, Bazar Ramadan dan pasar murah juga digelar di area depan masjid. Terlihat puluhan stan diserbu warga yang hendak berbuka dan salat di masjid.Otoritas IKN juga menyediakan 500–700 takjil gratis setiap harinya untuk jemaah yang berbuka puasa di masjid. Pada hari pertama Ramadan, Kamis (19/2), para pegawai ASN OIKN tampak ikut memadati masjid jelang magrib untuk menggelar buka puasa bersama di Masjid Negara.Masjid Negara IKN mulai tahun ini juga akan melangsungkan Salat Idulfitri. Melihat dari dekat antusiasme jemaah di masjid itu di awal Ramadan ini, Menag Nasaruddin begitu terkesan. Ia tak menyangka jemaah Tarawih akan penuh sampai ke lantai tiga.Insyaallah, tantangannya adalah menjadikan Masjid [IKN] ini sebagai episentrum peradaban baru Nusantara.”- Menteri Agama Nasaruddin UmarFoto udara Masjid Negara IKN berdampingan dengan Basilika Nusantara. Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA