AI masuk ruang redaksi: Beda pendekatan adopsi kecerdasan buatan dalam pers Indonesia

Wait 5 sec.

● Adopsi kecerdasan buatan (AI) kini dianggap tak terhindarkan bagi pers.● Media di Indonesia menunjukkan dua pendekatan berbeda: tvOne fokus pada aspek ‘branding’ sementara Narasi memperkuat substansi.● Integrasi AI ke ruang redaksi harus disertai pemahaman atas cara kerjanya, batasannya, dan konsekuensinya, agar tetap selaras dengan nilai-nilai jurnalisme.Hari Pers Nasional 2026, 9 Februari lalu membahas kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai teknologi yang “tak terhindarkan” dalam transformasi digital pers.Namun, di tengah keterbatasan infrastruktur, kapasitas sumber daya manusia, serta tata kelola organisasi media, apakah semendesak itu bagi ruang redaksi untuk mengadopsi AI?Tahun 2023 kemarin, organisasi jurnalis global Reporters Sans Frontières atau Reporters Without Borders (RWB) mencetuskan komitmen menjaga integritas informasi dan praktik jurnalisme di era maraknya teknologi akal imitasi. Mereka juga menekankan bahwa praktik jurnalisme harus berpegang pada nilai-nilai yang disepakati bersama, seperti hak asasi manusia, perdamaian, dan demokrasi. Pun, menurut survei tahun 2023 terhadap 105 kantor berita di 46 negara, pengembangan dan adopsi AI di media negara maju dan negara berkembang masih sangat timpang. Studi kasus kami yang terbit untuk The Handbook of Artificial Intelligence and Journalism, menunjukkan bagaimana dua media Indonesia, yaitu tvOne dan Narasi, secara terbuka mengintegrasikan AI ke dalam ruang redaksi mereka tapi dengan dua pendekatan adopsi yang berbeda.AI di ruang redaksiInovasi teknologi AI adalah gelombang ketiga yang mengubah praktik jurnalisme, setelah internet dan jurnalisme online, serta media sosial dan platform yang bersifat mobile.Memahami perbedaan antara AI tradisional dan AI generatif menjadi penting, karena publik saat ini cenderung mengasosiasikan seluruh AI dengan AI generatif (seperti ChatGPT ataupun Gemini). Padahal, berbagai bentuk AI nongeneratif telah digunakan sejak berkembangnya jurnalisme data dan bahkan sejak integrasi awal berbagai sistem komputasi ke dalam ruang redaksi.Para jurnalis umumnya menggunakan AI saat mengumpulkan berita, membuat berita, dan menyalurkan berita. AI nongeneratif misalnya digunakan dalam optical character recognition (OCR) atau pengenalan karakter optik, konversi ucapan ke teks, ekstraksi teks, dan penerjemahan otomatis.Pada tahap produksi berita, AI juga dapat digunakan untuk proses pemeriksaan fakta, penyuntingan dan pemeriksaan teks, serta berbagai kerja pemrograman.Dalam ranah distribusi pemberitaan, AI membantu meningkatkan personalisasi konten, search engine optimization (SEO), dan manajemen media konten media sosial. Penulisan ringkasan berita dan pembuatan judul, maupun chatbot, dapat dijalankan oleh sistem nongeneratif maupun generatif, bergantung pada arsitektur teknologinya.AI generatif seperti ChatGPT, model bahasa besar/Large Language Model (LLM), dan multimodal generative pre-trained transformer 4 (GPT-4), yang diintegrasikan ke dalam content management systems (CMS), kini semakin banyak digunakan untuk membantu produksi berita.Adopsi AI: Ikut tren atau fokus substansi?Pada tahun 2023, tvOne mengklaim perusahaannya sebagai “media pertama berbasis AI” dengan menayangkan siaran yang menampilkan avatar virtual Karni Ilyas, pemimpin redaksi, bersama dua “pembawa berita AI”. Baca juga: Program televisi dari AI: Inovasi teknologi atau degradasi seni? Sebagai perusahaan media yang berbasis bisnis televisi dan cenderung dikelola secara konservatif, peluncuran pembawa berita AI dapat dilihat sebagai bagian dari upaya mereka untuk tetap menjadi yang terdepan dalam pengembangan media dan teknologi. Klaim ini pun cukup ramai diperbincangkan di kalangan para jurnalis, dan dipandang sebagai sebuah inovasi yang luwes menyikapi tren.Namun, adopsi “pembawa berita AI” dalam ruang redaksi tvOne dan klaim “media pertama berbasis AI” tampak lebih didorong oleh keinginan menjadi “pelopor” dan taktik “branding” yang bersifat top-down. Keputusan mereka seolah bukan berasal dari permasalahan jurnalisme yang riil membutuhkan teknologi seperti AI.Hal ini terlihat dari penjelasan CEO tvOne tentang keputusan adopsi yang lebih didasarkan pada keinginan efisiensi dan menekan biaya produksi lalu menarget pasar Gen Z. Setahun setelah peluncurannya pun, klaim media pertama yang menggunakan AI, masih terus menjadi poin yang dipromosikan.Pendekatan tvOne berbeda dari Narasi yang menerapkan AI nongeneratif sesuai kebutuhan peliputan untuk memperkaya substansi kerja jurnalistiknya. Ini terlihat dalam kolaborasi mereka dengan perusahaan teknologi Emotion Research Lab untuk memproduksi liputan jurnalisme data, berjudul “Mengukur Emosi Jokowi dengan Artificial Intelligence” pada Juni 2020. Penggunaan AI ala Narasi juga dilakukan dalam liputan lainnya bertajuk “62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah”, yang juga sukses memicu perbincangan publik tentang pihak-pihak mencurigakan dalam aksi protes Undang Undang Cipta Kerja yang kontroversial.Narasi juga lebih banyak menggunakan AI untuk mendukung jurnalisme data dan liputan investigatif. Media ini tidak memakai klaim hiperbolis seperti “berita pertama berbasis AI”, tapi lebih memberikan dampak pada naiknya perhatian dan perbincangan publik terhadap isu-isu yang diangkat oleh Narasi.Narasi, yang memanfaatkan AI dengan berbasis pada struktur editorial dan inisiatif dari para jurnalisnya, mencerminkan pendekatan teknologi yang bersifat taktis, dimulai dengan mengidentifikasi masalah, lalu menentukan teknologi yang paling sesuai untuk menyelesaikannya. Dalam konteks ini, AI bukan sekadar pelengkap untuk mengikuti tren, tetapi menjadi komponen inti yang membentuk proses kerja editorial.Sementara tvOne terlihat lebih mengutamakan keikutsertaan dalam tren “peralihan ke AI” (AI Turn) dalam dunia jurnalisme. Apa yang harus dilakukan?Riset kami memperlihatkan dua pendekatan adopsi AI. Artinya, pilihan bagi dunia jurnalisme di Indonesia untuk mengadopsi AI sebetulnya terletak pada keputusan kolektif redaksi dan pengelola media.Hal penting lain yang perlu digarisbawahi adalah bahwa masuknya AI ke ruang redaksi tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman atas modus produksi dan risiko AI. Karena AI belajar dari data yang tersedia di ruang maya, ia tidak otomatis menghasilkan informasi yang akurat. Ada risiko halusinasi, penguatan stereotip dan prasangka, hingga produksi informasi yang menyesatkan atau menyerupai berita palsu. Baca juga: Regulasi AI di Indonesia belum cukup, perlu aturan yang lebih spesifik Karena itu, jurnalisme membutuhkan proses redaksi yang tidak hanya mengadopsi AI, tetapi juga memahami cara kerjanya, batasannya, dan konsekuensinya. Bahkan, media massa idealnya ikut terlibat dan mengintervensi rantai produksi informasi oleh AI, agar penggunaan teknologi ini dapat diawasi secara etis, akuntabel, dan selaras dengan tanggung jawab jurnalisme.Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.