Pemerintah Gelar Imlek Nasional, Hadirkan Harmonisasi di Tengah Ramadan

Wait 5 sec.

Menteri PKP Maruarar Sirait, Wamenekraf Irene Umar, dan Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari saat acara Harmoni Imlek Nusantara di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanPemerintah menggelar Festival Imlek Nasional bertajuk Harmoni Imlek Nusantara di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, mulai Minggu (22/2) hingga Selasa (3/3).Festival ini menjadi perayaan Imlek nasional pertama di Indonesia. Selain itu, acara ini juga digelar beriringan dengan bulan suci Ramadan.Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Ketua Panitia Imlek Nasional, Irene Umar, mengatakan tema Harmoni Imlek Nusantara diusung untuk menghadirkan keharmonisan dan keberagaman Indonesia di tengah momentum Ramadan.“Jadi Harmoni Imlek Nusantara ini sebenarnya rangkaian acara ya, kita sudah mulai dari awal bulan ini di berbagai daerah. Dan ini Harmoni Imlek Nusantara kita pengen menghadirkan keharmonisan yang ada di bawah Ramadan,” jelas Irene di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.Suasana Imlek Festival 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanIrene menjelaskan, festival ini terbuka untuk masyarakat luas dan menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari museum terbuka, pertunjukan seni budaya, hingga tenant kuliner dan UMKM.Salah satu daya tarik utama adalah museum terbuka yang menampilkan akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia.“Jadi pertama ada museum terbuka, di mana teman-teman bisa belajar mengenai akulturasi antara Tionghoa dan Indonesia itu sebenarnya apa. Karena kan banyak yah Cindo itu sebenarnya Indonesia atau enggak sih. Namanya saja Cindo, Cinta Indonesia, ya toh,” ungkap Irene.Suasana Imlek Festival 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanPengunjung dapat menikmati festival UMKM makanan dan minuman, panggung pertunjukan, wahana bermain anak, serta pemutaran film Indonesia.“Jadi bisa dimulai dilihat dari museum terbuka, geser ke sini ini ada festival UMKM F&B-nya kita. Kemudian ada non-F&B di sebelah sono. Dan ada dua stage di outdoor sama indoor,” jelas dia.Irene menyebutkan, festival ini juga terintegrasi dengan program pemerintah, seperti cek kesehatan gratis, donor darah, hingga layanan kebugaran.“Di sana itu bisa langsung kok pakai KTP, itu cek kesehatannya gratis dan bukan ala-ala. Di mana di sana itu sampai USG payudara, kemudian pengecekan serviks juga ada loh di sana,” ungkap Irene.Suasana Imlek Festival 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanSementara Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait (Ara), mengatakan penyelenggaraan Imlek Nasional di bulan Ramadan justru memperkuat nilai kebersamaan dan persatuan.“Perbedaan itu justru kekuatan kita. Kekuatannya di situ. Jangan dijadikan kelemahan itu, jadikan kekuatan itu,” kata Ara.Sedangkan Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menilai, Imlek Nasional tahun ini menjadi simbol akulturasi yang nyata di tengah masyarakat.“Kalau enggak beragam bukan Indonesia namanya,” kata Qodari.Qodari menyoroti bagaimana unsur budaya Tionghoa telah lama menyatu dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk melalui kuliner.“Pempek itu sebetulnya adalah akulturasi dari kebudayaan dari Cina dengan di Indonesia. Pada masa itu kalau produk ikan itu berlebih, lalu kemudian dari teman-teman yang keturunan Tionghoa ini mengolahnya menjadi pempek,” jelas Qodari.“Jadi pempek itu sangat-sangat Cindo, sangat-sangat Cindo,” lanjutnya.Suasana Imlek Festival 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanIrene optimistis jumlah pengunjung bisa melampaui target 10.000 orang, seiring antusiasme masyarakat dan momentum Ramadan.“Saya sih targetnya tinggi, cuma kalau sebutin di sini kira-kira 5.000 sampai 10.000 orang. Tapi saya cukup yakin itu akan di atas itu karena dari tarawih saja limpah ke sini pasti lebih banyak,” kata Irene.“Makanya tempatnya kan kita bikin cukup besar ya. Dan ini lapangan terbuka kenapa enggak tertutup supaya inklusivitas itu bukan sesuatu yang kita omongkan, tapi kita rasakan dalam keseharian kita,” tutur dia.