Ilustrasi Ruang sunyi tempat sains dan iman bertemu dalam perenungan. Foto: Gemini AIMemasuki puasa keempat Ramadan, jagat media sosial tidak hanya dipenuhi potongan ceramah dan kutipan motivasi, tetapi juga kabar tentang bangkitnya sungai purba di Jazirah Arab Wadi Ar-Rummah, jalur air terpanjang yang membentang ratusan kilometer dari sekitar Madinah hingga wilayah Qasim. Sungai yang lama “tertidur” itu kembali dialiri air akibat intensitas hujan ekstrem yang disebut sebagai salah satu yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.Sebagian orang melihatnya sebagai fenomena klimatologis biasa. Sebagian lain mengaitkannya dengan hadis Nabi tentang Jazirah Arab yang kelak akan “kembali” menjadi padang rumput dan sungai. Di sinilah ruang dialog antara sains dan iman menemukan momentumnya.Sungai yang Tidak Pernah Benar-Benar HilangSecara geologis, Wadi Ar-Rummah bukan sungai baru. Ia adalah jalur purba yang pernah aktif ribuan tahun lalu, pada fase iklim basah sekitar 7.000–13.000 tahun silam. Bukti fosil, sedimen, dan jejak aliran purba menunjukkan bahwa wilayah yang kini didominasi gurun pernah mengalami periode subur.Hujan ekstrem yang terjadi belakangan ini tidak “menciptakan” sungai baru, melainkan mengaktifkan kembali jalur yang lama terkubur. Dalam istilah ilmiah, ini adalah reaktivasi sistem hidrologi purba akibat pergeseran sabuk hujan tropis dan dinamika pemanasan global.Namun menariknya, dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad saw. menyebut bahwa tidak akan terjadi kiamat hingga tanah Arab “kembali” (ta‘ūda) menjadi padang rumput dan sungai. Kata ta‘ūda kembali menarik untuk direnungkan. Ia bukan menunjuk pada penciptaan baru, melainkan pada siklus yang berulang.Sains berbicara tentang siklus iklim. Hadis berbicara tentang “kembali”. Keduanya bertemu pada satu kata: keberulangan.Ramadan dan Kesadaran KosmikPuasa bukan sekadar ritual menahan lapar, tetapi latihan membaca tanda-tanda. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk memperhatikan fenomena alam sebagai ayat tanda kebesaran Tuhan. “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin” (QS. Adz-Dzariyat: 20).Bangkitnya jalur air purba di Jazirah Arab bisa dibaca sebagai peristiwa klimatologis, tetapi juga sebagai pengingat akan keteraturan sunatullah. Alam tidak berjalan tanpa hukum. Perubahan iklim, pergeseran hujan, hingga mengalirnya kembali sungai purba adalah bagian dari sistem yang kompleks.Ramadhan mengajarkan kita untuk memperlambat diri, agar mampu membaca tanda-tanda itu dengan jernih tidak reaktif, tidak sensasional.Antara Refleksi dan SensasiDi era digital, setiap fenomena mudah berubah menjadi sensasi eskatologis. Baru empat hari berpuasa, lini masa sudah ramai dengan narasi “tanda-tanda akhir zaman”. Padahal, kesalehan tidak diukur dari seberapa cepat kita mengaitkan peristiwa alam dengan kiamat, tetapi dari seberapa dalam kita mengambil hikmah.Satirnya, kita lebih cepat membagikan video banjir di gurun daripada memperbaiki cara kita memperlakukan bumi. Kita takjub pada sungai yang kembali mengalir, tetapi abai pada krisis lingkungan yang turut mempercepat perubahan iklim global.Jika benar Jazirah Arab “kembali” menghijau karena siklus alam, maka pertanyaannya bukan hanya tentang nubuat, tetapi tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan ekologis.Titik Temu Sains dan ImanIslam tidak pernah memusuhi ilmu pengetahuan. Justru tradisi intelektual Islam tumbuh dari keingintahuan terhadap alam. Fenomena Wadi Ar-Rummah menunjukkan bahwa sains dan iman bukan dua kutub yang saling meniadakan.Sains menjelaskan mekanisme pergeseran sabuk hujan, intensitas curah hujan, dan dinamika atmosfer. Iman memberi makna bahwa segala sesuatu berjalan dalam ketetapan dan hikmah Ilahi.Puasa keempat adalah momen yang tepat untuk menyadari bahwa tanda-tanda kebesaran Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk mukjizat spektakuler. Ia bisa hadir dalam bentuk siklus alam yang perlahan kembali bekerja.Dari Sungai ke DiriJika sungai purba saja bisa kembali mengalir setelah ribuan tahun, manusia pun memiliki peluang untuk kembali kembali pada kesadaran, pada kejujuran, pada tanggung jawab.Ramadhan adalah bulan “kembali”: kembali menata niat, kembali memperbaiki laku, kembali mendekat kepada Tuhan. Kata ta‘ūda dalam hadis itu seakan beresonansi dengan makna puasa itu sendiri kembali pada fitrah.Sungai di Jazirah Arab mungkin bangkit karena hujan. Namun kebangkitan spiritual manusia tidak cukup dengan sensasi berita. Ia memerlukan muhasabah, kesadaran, dan konsistensi.Puasa keempat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang viral harus disambut dengan euforia. Sebagian perlu disambut dengan perenungan.Sebab pada akhirnya, yang lebih penting dari bangkitnya sungai purba adalah bangkitnya kesadaran kita sendiri.