Cuma Bercanda, Kalimat Sederhana yang Melanggengkan Bullying

Wait 5 sec.

“Cuma bercanda.” Kalimat ini kerap diucapkan dengan nada ringan, seolah tidak meninggalkan persoalan apa pun. Ia sering muncul dalam percakapan sehari-hari, di lingkungan pertemanan, sekolah, tempat kerja, hingga ruang digital. Namun, di balik kesederhanaannya, kalimat tersebut justru kerap menjadi pembenaran atas perilaku yang melukai. Candaan yang semula dimaksudkan untuk mencairkan suasana perlahan berubah menjadi perundungan yang dinormalisasi.Humor pada dasarnya merupakan bagian penting dari interaksi sosial. Ia mampu mendekatkan individu, menciptakan keakraban, dan mempererat hubungan. Akan tetapi, humor tidak berdiri tanpa batas. Ketika candaan diarahkan secara berulang kepada individu yang sama, menyentuh aspek personal seperti fisik, latar belakang keluarga, kondisi ekonomi, atau kepribadian seseorang, maka candaan tersebut kehilangan maknanya. Tawa yang tercipta tidak lagi bersifat kolektif, melainkan sepihak.Persoalan utama terletak pada kaburnya batas antara bercanda dan bullying. Banyak orang beranggapan bahwa selama tidak ada niat jahat, maka sebuah candaan dapat dibenarkan. Padahal, ukuran utama sebuah candaan bukan terletak pada niat pelaku, melainkan pada dampaknya bagi penerima. Ketika seseorang merasa direndahkan, tidak nyaman, atau tertekan, maka candaan tersebut telah berubah menjadi bentuk kekerasan verbal.Di sisi lain, korban sering kali memilih diam. Mereka khawatir dicap terlalu sensitif, tidak bisa menerima humor, atau merusak suasana. Dalam konteks masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan, sikap diam kerap dianggap sebagai bentuk penerimaan. Padahal, diam sering kali lahir dari rasa takut dan ketidakberdayaan. Situasi ini menciptakan relasi yang timpang, di mana pelaku merasa superior, sementara korban diposisikan sebagai objek hiburan.Fenomena ini tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah atau pertemanan, tetapi juga di ruang publik dan dunia kerja. Candaan bernada merendahkan sering dibungkus dengan dalih keakraban. Seseorang yang berani menyatakan keberatan justru dianggap tidak dewasa atau tidak memiliki selera humor. Budaya semacam ini membuat bullying terus berulang tanpa pernah benar-benar disadari sebagai masalah.Perkembangan media sosial semakin memperluas ruang terjadinya perundungan. Candaan yang sebelumnya hanya beredar di lingkup terbatas kini dapat menyebar luas dan bertahan lama dalam jejak digital. Komentar sinis, meme yang merendahkan, hingga lelucon yang menyerang identitas seseorang kerap dianggap hiburan. Dalam ruang digital, empati sering kali kalah oleh dorongan untuk mendapat perhatian dan validasi.Dampak bullying yang berawal dari candaan tidak dapat dianggap sepele. Korban dapat mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan, gangguan kesehatan mental, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Pada anak dan remaja, perundungan berdampak pada perkembangan emosional dan prestasi akademik. Sementara pada orang dewasa, bullying dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup. Luka yang ditimbulkan memang tidak selalu tampak, tetapi efeknya dapat berlangsung lama.https://openai.com/Sayangnya, respons masyarakat terhadap persoalan ini masih cenderung menyederhanakan. Ungkapan seperti “jangan baper” atau “dibawa santai saja” kerap dilontarkan kepada korban. Alih-alih menyelesaikan masalah, sikap tersebut justru memperkuat budaya menyalahkan korban. Ketika empati dikesampingkan, perundungan akan terus direproduksi dalam berbagai bentuk.Sudah saatnya masyarakat merefleksikan kembali cara berhumor dan berinteraksi. Humor seharusnya menjadi sarana mempererat relasi, bukan alat untuk merendahkan. Kesadaran mengenai batas candaan perlu dibangun sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang publik. Keberanian untuk menegur, memberi batasan, atau menunjukkan keberpihakan kepada korban merupakan langkah kecil yang memiliki dampak besar.Pada akhirnya, kalimat “cuma bercanda” tidak boleh lagi dijadikan dalih untuk melukai sesama. Tertawa bersama jauh lebih bermakna daripada tertawa di atas luka orang lain. Jika empati dijadikan dasar dalam setiap interaksi, maka candaan akan kembali pada fungsinya yang semula, bukan sebagai wajah lain dari bullying yang terus dibiarkan.