Ilustrasi berbuka puasa. Foto: dotshock/ShutterstockDi tengah arus budaya populer yang serba cepat, menjadi anak muda yang berpuasa sering kali dianggap tidak sejalan dengan gaya hidup kekinian. Nongkrong malam dibatasi, jadwal tidur berubah, dan energi terasa menurun. Tidak sedikit anak muda yang diam-diam merasa ‘kurang bebas’ saat Ramadan datang. Bahkan ada yang tidak tahan akan beratnya ibadah puasa atau pengaruh lingkungan, akhirnya meninggalkan puasa karena tergiur kenikmatan duniawi. Namun anggapan bahwa puasa membuat generasi muda tidak keren justru berangkat dari pemahaman yang keliru. Mereka belum paham bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik semata, namun lebih jauh lagi, puasa adalah ibadah jiwa.Puasa bukan tentang kehilangan hal-hal yang biasa dilakukan, melainkan tentang pengendalian diri. Di era ketika banyak orang hidup reaktif, mudah terpancing emosi, terburu-buru mengambil keputusan, dan tergantung pada validasi, kemampuan menahan diri justru menjadi kekuatan. Anak muda yang berpuasa sedang berlatih self-control, sesuatu yang sangat mahal nilainya hari ini. Menahan lapar dan haus adalah esensi berpuasa. Namun ada yang lebih bernilai dari sekadar menahan lapar dan dahaga yaitu menahan ego, amarah, dan keinginan berlebihan.Justru di sinilah puasa memberi identitas baru bagi generasi muda. Puasa memberi pelajaran bahwa generasi muda bisa percaya diri tanpa harus selalu mengikuti arus. Puasa mengajarkan bahwa tidak semua tren harus diikuti, tidak semua respons harus ditanggapi, dan tidak semua hal harus diumbar. Anak muda yang mampu berkata ‘cukup’ di tengah budaya ‘lebih’ adalah anak muda yang kuat. Anak muda semacam itu adalah anak muda yang mampu menunjukkan jati dirinya di tengah era disrupsi.Mungkin banyak generasi muda yang menyalahpahami ibadah di bulan Ramadan sebagai rutinitas kuno. Padahal, selain perintah agama, puasa mengandung segudang manfaat baik dari kesehatan fisik maupun rohani. Secara kesehatan, puasa adalah alat untuk detoksifikasi tubuh. Di sisi rohani, ibadah Ramadan seperti salat, doa, dan puasa merupakan ruang reset tubuh dan jiwa di tengah kehidupan yang melelahkan. Ketika dunia menuntut anak muda selalu aktif, produktif, dan terlihat sibuk, Ramadan justru memberi legitimasi untuk melambat, bukan karena lemah, tetapi karena sadar akan batas diri.Saat ini, anak muda keren adalah mereka yang melakukan ibadah Ramadan karena selagi berpuasa, mereka tidak mematikan kreativitas atau pergaulannya. Puasa sebenarnya hanya mengubah orientasi. Nongkrong bisa bergeser menjadi diskusi yang lebih bermakna. Kebersamaan tidak selalu harus bising, dan kesenangan tidak harus berlebihan. Dalam kelaparan dan keheningan, batin akan lebih peka mencerna hakikat kehidupan. Bahkan, banyak anak muda menemukan versi diri yang lebih jujur justru saat Ramadan, lebih tenang, lebih reflektif, dan lebih peka.Sesungguhnya, yang membuat puasa tetap keren bukan kemasannya, tetapi dampaknya. Anak muda yang berpuasa dengan kesadaran biasanya lebih mampu mengelola emosi, lebih selektif dalam bersikap, dan lebih peduli pada sekitar. Ini bukan citra yang dibuat-buat, melainkan karakter yang tumbuh pelan-pelan. Dan karakter selalu lebih tahan lama daripada popularitas.Di tengah dunia yang sering menilai keren dari apa yang terlihat, puasa mengajarkan nilai yang berbeda. Keren karena berprinsip, bukan karena pamer, keren karena konsisten, bukan karena ikut-ikutan adalah cerminan kesahajaan yang harusnya melekat dalam diri anak muda. Menjadi anak muda yang berpuasa bukan berarti tertinggal zaman, justru menunjukkan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.Ramadan memberi pesan penting bagi generasi ini, percaya diri tidak lahir dari pengakuan orang lain, tetapi dari kemampuan menguasai diri. Dan puasa adalah salah satu latihan terbaik untuk itu. Anak muda yang berpuasa Ramadan adalah ‘keren’ yang sesungguhnya karena dalam puasa, ibadah bertemu dengan identitas anak muda, namun tetap relevan dan bermakna.