Puasa Kelima: Iman pada yang Gaib, antara Logika dan Keyakinan

Wait 5 sec.

Ilustrasi Menimbang iman dan rasio dalam cahaya keadilan. Foto: Gemini AIMemasuki puasa kelima Ramadan, kita kembali diingatkan pada fondasi utama keimanan: percaya pada yang gaib. Dalam Al-Qur’an, ciri pertama orang bertakwa adalah “alladzina yu’minuna bil-ghaib” mereka yang beriman kepada yang gaib (QS. Al-Baqarah: 3). Namun di era rasional dan digital ini, iman pada yang tak terlihat sering disalahpahami sebagai sikap anti-logika.Padahal, dalam tradisi Islam, iman bukanlah lompatan buta.Tiga Instrumen KebenaranDalam khazanah epistemologi Islam, kebenaran tidak dibangun di atas satu sumber saja. Ia bertumpu pada tiga instrumen: indra (al-hiss), akal (al-‘aql), dan wahyu (al-wahy).Indra mengamati dunia fisik. Akal menganalisis sebab-akibat. Wahyu melengkapi batasan keduanya, memberikan informasi tentang realitas yang tak terjangkau pengalaman empiris.Iman, dalam kerangka ini, bukan sekadar emosi religius. Ia adalah kesimpulan rasional setelah mempertimbangkan kredibilitas sumber wahyu. Seperti seorang ilmuwan yang mempercayai data berdasarkan metode yang sahih, seorang mukmin mempercayai wahyu karena validitas historis dan otentisitas transmisinya.Sains, Sejarah, dan Isyarat WahyuInfografik yang beredar tentang “iman pada yang gaib” sering mengangkat contoh seperti Surah Yunus ayat 92 tentang jasad Fir’aun yang diselamatkan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya. Fakta bahwa mumi Fir’aun ditemukan dalam kondisi relatif terawetkan sering dikaitkan dengan ayat tersebut.Di sisi lain, ilmuwan seperti Maurice Bucaille mencoba membaca Al-Qur’an dalam dialog dengan sains modern. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa teks wahyu tidak bertentangan dengan temuan ilmiah.Namun penting dicatat: Al-Qur’an bukan buku biologi atau arkeologi. Ia kitab petunjuk. Ketika wahyu bersinggungan dengan sains, itu bukan untuk menggantikan metode ilmiah, melainkan untuk menunjukkan konsistensi kosmik antara kebenaran wahyu dan hukum alam.Gaib Bukan Anti-RasionalDalam diskursus publik, sering muncul dikotomi: rasional vs religius. Seolah-olah semakin rasional seseorang, semakin jauh ia dari iman. Padahal, Al-Qur’an justru berulang kali menantang manusia untuk berpikir: afala ta’qilun (tidakkah kalian menggunakan akal?).Iman pada yang gaib bukan berarti menolak akal. Ia berarti menyadari keterbatasan akal. Tidak semua realitas bisa diukur dengan mikroskop atau teleskop. Cinta tidak terlihat, tetapi nyata. Kesadaran tidak kasat mata, tetapi diakui.Satirnya, kita mudah mempercayai algoritma media sosial yang tak pernah kita lihat rumusnya, tetapi ragu pada wahyu yang memiliki transmisi sejarah berabad-abad.Ramadan dan Pendidikan EpistemologisPuasa bukan hanya latihan fisik, tetapi pendidikan cara mengetahui. Saat menahan diri dari yang kasat mata makan dan minum kita melatih keyakinan pada yang tak terlihat: pahala, pengawasan Tuhan, makna spiritual.Puasa mengajarkan bahwa realitas tidak selalu terletak pada apa yang tampak. Nilai puasa tidak terlihat di layar, tetapi terukur dalam kesadaran batin.Di puasa kelima ini, refleksi tentang iman pada yang gaib menjadi relevan. Bukan untuk memaksakan pembenaran ilmiah atas setiap ayat, tetapi untuk menyadari bahwa iman dan akal bekerja dalam wilayahnya masing-masing saling melengkapi, bukan menegasikan.Menjaga KeseimbanganTantangan terbesar umat hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan simplifikasi. Ada yang terlalu cepat “mengilmiahkan” setiap ayat agar tampak modern. Ada pula yang menolak dialog dengan sains demi menjaga kemurnian dogma.Padahal, keseimbangan adalah tradisi Islam klasik. Ulama terdahulu menguasai fikih sekaligus astronomi, tafsir sekaligus matematika. Mereka tidak melihat konflik antara iman dan ilmu.Puasa kelima adalah momen untuk menata ulang cara kita memahami iman: tidak anti-rasional, tidak pula terjebak pada pembuktian sensasional.Karena pada akhirnya, iman pada yang gaib bukan tentang membuktikan Tuhan dengan mikroskop, tetapi tentang menyadari bahwa keteraturan alam dan konsistensi wahyu mengarah pada sumber yang sama.Dan Ramadan adalah ruang terbaik untuk merenungkannya.