BRIN Ingin Proyeksi Teknologi Disusun Sejak Dini: Baterai Grafit-Future Food

Wait 5 sec.

Kepala BRIN, Arif Satria memberikan sambutannya dalam Rilis Indeks Daya Saing Daerah 2025 yang disiarkan secara langsung di Jakarta, Selasa (24/2/2026). Foto: BRIN Indonesia/ YouTubeKepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan pentingnya penyusunan proyeksi perkembangan teknologi sejak dini guna memperkuat daya saing Indonesia di masa depan.Hal itu disampaikannya dalam peluncuran Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 di Gedung BJ Habibie BRIN, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (24/2).“Terkait dengan soal inovasi, terkait dengan soal SDM, akan menjadi kekuatan bagaimana daya saing kita ke depan itu,” kata Arif.Arif menjelaskan, laju perkembangan teknologi saat ini bergerak lebih cepat dibandingkan perubahan di sektor lain, termasuk kebijakan publik.“Apalagi kita dihadapkan pada sebuah kondisi di mana perubahan itu begitu cepat. Sekarang teknologi berkembang secara eksponensial. Dan di mana-mana perkembangan teknologi itu lebih cepat daripada perubahan kehidupan,” jelas Arif.“Perubahan hidup itu lebih cepat daripada perubahan bisnis. Perubahan bisnis lebih cepat daripada perubahan public policy,” lanjutnya.Kepala BRIN, Arif Satria dalam peluncuran Indeks Daya Saing Daerah 2025 di Gedung BJ Habibie BRIN, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (24/2). Foto: Nasywa Athifah/kumparanIa menambahkan, ketertinggalan regulasi terhadap perkembangan teknologi kerap sekali terjadi. Hal itu dikarenakan perubahan teknologi yang sangat cepat.“Oleh karena itu, dan di mana pun, tidak hanya di Indonesia, public policy itu di mana-mana pasti selalu lambat, lebih lambat daripada perubahan teknologi. Nah inilah tantangan,” ungkapnya.Arif menyebut. BRIN memiliki mandat untuk melakukan proyeksi teknologi jangka panjang sejak dini agar riset dapat disiapkan secara sistematis dan terarah.“Teknologi ke depan harus kita proyeksikan dari sekarang. Sehingga dengan proyeksi teknologi ke depan, 2030, 2035, 2040, itu kita tarik mundur dengan penyiapan rangka risetnya seperti apa,” kata Arif.Arif mencontohkan sejumlah sektor yang memerlukan perhatian sejak dini, mulai dari energi hingga pangan.“Seperti energi. Ketika bicara energi, tidak mungkin lagi kita bicara energi fosil. Tapi sekarang hidrogen menjadi kekuatan,” tutur Arif.“Ketika kita bicara tentang baterai, kita tidak bicara lagi ke depan, tidak bicara lagi mobil, tidak bicara lagi tentang baterai berbasis nikel misalnya, berbasisnya grafit,” lanjutnya.Selain itu, perubahan pola konsumsi pangan juga menjadi perhatian dalam proyeksi riset ke depan.“Ketika ke depan, kita bicara soal protein. Maka yang kita bicarakan adalah the future protein, future food. Pola-pola pangan yang memang berbasis pada teknologi, cultured meat, dan sebagainya,” jelasnya.Menurut Arif, proyeksi tersebut penting agar inovasi dapat menjawab kebutuhan pasar masa depan sekaligus memperkuat daya saing inovasi daerah.“Nah inilah antisipasi-antisipasi terhadap pasar ke depan, inilah yang harus terus kita lakukan. Dan BRIN punya kewajiban untuk bisa bersama-sama daerah memperkuat daya saing inovasi di semua daerah di Indonesia,” kata dia.Peneliti PRBE BRIN menemukan 51 spesies baru, dengan rincian 49 spesies berasal dari Indonesia. Foto: BRINSkor IDSD 2025 Meningkat 0,07 Dibanding 2024Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN Boediastoeti Ontowirjo menjelaskan, Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) disusun sebagai instrumen pengukuran yang diadopsi dari Global Competitiveness Index (GCI) 2019 World Economic Forum dan disesuaikan dengan konteks daerah di Indonesia.“IDSD terdiri dari empat komponen, yaitu lingkungan pendukung, sumber daya manusia, pasar, dan ekosistem inovasi,” jelas Boediastoeti.Ia menyebutkan, masing-masing komponen tersebut diturunkan ke dalam sejumlah pilar dan indikator sehingga membentuk struktur pengukuran yang komprehensif.“Masing-masing komponen memiliki pilar, sehingga total pilar IDSD adalah 12 pilar. Masing-masing pilar diturunkan ke dalam dimensi dan indicators. Total sebanyak 63 indicators untuk level provinsi dan 50 indikator untuk level kabupaten/kota,” ungkap dia.Lebih lanjut, ia menjelaskan pemanfaatan IDSD dalam berbagai aspek perencanaan dan pengambilan keputusan di daerah.“IDSD saat ini telah dimanfaatkan berbagai hal. Yang pertama, indikator dalam dokumen perencanaan daerah. Dua, sebagai data dasar dalam pengambilan kebijakan dan penajaman program. Ketiga, rujukan dalam penguatan ekosistem riset dan inovasi di daerah,” jelas dia.Boediastoeti memaparkan skor nasional IDSD 2025 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, meski tantangan pemerataan antardaerah masih terlihat.“Skor nasional IDSD 2025 sebesar 3,5. Hal ini meningkat 0,07 dibandingkan tahun 2024. Peningkatan terjadi pada 67% pilar, 87% provinsi, dan 77% kabupaten/kota,” katanya.Kepala BRIN Arif Satria, Menteri PPN/Bappenas Rachmat Pambudy, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, dan Wamendagri Bima Arya Sugiarto dalam peluncuran Indeks Daya Saing Daerah 2025 di Gedung BJ Habibie BRIN, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (24/2). Foto: Nasywa Athifah/kumparanIa menambahkan, capaian tersebut menunjukkan tren perbaikan daya saing daerah secara umum. Selain itu, terdapat rentang skor yang cukup lebar di tingkat kabupaten dan kota.“Rentang skor kabupaten/kota antara 2,7 sampai 4,68. Yang menunjukkan terdapat perubahan dan range yang cukup lebar antara daerah mengenai kapasitas antar daerah tersebut,” jelas dia.Ia menjelaskan, korelasi IDSD 2024 dan 2025 juga menunjukkan angka yang tinggi, yakni 0,98. Menurutnya, itu mencerminkan konsistensi struktur daya saing dan stabilitas metodologi pengukuran.“Hasil tersebut menegaskan bahwa penguatan daya saing memerlukan intervensi yang lebih terarah berbasis karakteristik daerah. IDSD memberikan dasar empiris bagi penyusunan kebijakan yang lebih baik dalam memperkuat ekosistem inovasi daerah,” katanya.