BRIN Mulai Bangun Early Warning System Banjir dan Erosi

Wait 5 sec.

Foto udara sejumlah mobil antre untuk melewati Jalur Rampah usai mengalami longsor di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (26/12/2025). Foto: Rival Awal Lingga/ANTARAFOTOBadan Riset dan Inovasi Nasional tengah menyiapkan riset pengembangan early warning system untuk bencana banjir dan erosi.Hal tersebut disampaikan Kepala BRIN Arif Satria dalam merespons upaya percepatan rekonstruksi pascabencana di Sumatera, sekaligus inovasi lanjutan yang disiapkan BRIN, selain penyediaan alat air siap minum (Arsinum).“Yang sekarang sedang kita siapkan adalah riset tentang bagaimana early warning system untuk banjir dan erosi. Jadi selama ini banjir dan erosi kita belum tahu, tiba-tiba datang,” jelas Arif di Gedung BJ Habibie BRIN, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (24/2).Pengembangan sistem peringatan dini ini ditujukan untuk mengantisipasi potensi bencana sejak dini, tidak lagi bersifat reaktif setelah bencana terjadi.“Nah ke depan kita bisa ada early warning system-nya. Dan risetnya mulai 2026 ini,” ungkap Arif.“Moga-moga di akhir 2026 kita sudah bisa memiliki teknologi early warning system untuk banjir dan erosi,” lanjutnya.Kepala BRIN, Arif Satria memberikan sambutannya dalam Rilis Indeks Daya Saing Daerah 2025 yang disiarkan secara langsung di Jakarta, Selasa (24/2/2026). Foto: BRIN Indonesia/ YouTubeSebelumnya, BRIN telah memberikan bantuan berupa alat air siap minum (Arsinum) untuk korban banjir-longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Alat itu bisa mengolah air lumpur dan air banjir menjadi air siap minum.Alat itu bisa menghasilkan 10 ribu liter air minum per harinya. BRIN juga menyiapkan alat Arsinum yang bisa menghasilkan 20 ribu hingga 100 ribu liter air minum.Selain itu, Arif menyebut BRIN masih fokus memberikan data cita satelit untuk didistribusikan kepada Kementerian dan Badan yang fokus menanggulangi bencana. Data itu akan digunakan untuk rekonstruksi, termasuk untuk mencari korban hilang.