Bulan Ramadan selalu datang dengan dua wajah bagi pekerja kantoran. Di satu sis ia adalah bulan yang sakral penuh refleksi, pengendalian diri, dan peningkatan ibadah. Namun di sisi lain, kalender kerja tetap berjalan. Target tetap ada. KPI tetap ditagih. Deadline tetap tidak mengenal waktu sahur dan berbuka.Di ruang meeting ber AC, di tengah rasa haus dan kantuk, banyak pekerja menghadapi dilema yang tidak pernah benar-benar dibahas secara terbuka bagaimana menjadi pribadi yang lebih religius tanpa kehilangan performa profesional?Dilema pekerja kantoran saat Ramadhan antara ibadah dan tuntutan target KPI kantor. Gambar dihasilkan oleh AI ChatgptPuasa Tidak Menghentikan ProduktivitasSecara formal jam kerja memang sering dipersingkat. Tapi target tidak ikut berkurang. Perusahaan tetap menuntut hasil yang sama bahkan terkadang lebih tinggi menjelang kuartal baru. Di sinilah muncul tekanan yang halus namun nyata. Tubuh sedang beradaptasi dengan ritme makan yang berubah, pola tidur yang terpotong karena sahur, dan energi yang lebih cepat terkuras. Namun di dashboard performa, angka tetap berbicara objektif tercapai atau tidak, bagi sebagian pekerja ramadan menjadi bulan pembuktian. Mereka ingin menunjukkan bahwa puasa bukan alasan untuk menurunkan kualitas kerja. Namun bagi sebagian lainnya, ada pergulatan batin antara menjaga stamina dan menjaga ekspektasi atasan.Antara Spiritual dan Survival KarierKPI tidak sekadar angka. Ia bisa menentukan bonus, penilaian tahunan, bahkan keberlanjutan kontrak kerja. Di banyak perusahaan, evaluasi performa tetap berjalan tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis dan fisik selama Ramadan. Di sisi lain Ramadan justru mengajarkan tentang keikhlasan, kesabaran, dan pengendalian ego. Ironisnya, dunia kerja seringkali menuntut sebaliknya agresivitas, ambisi, dan pencapaian cepat. Maka lahirlah konflik sunyi yang muncul saya fokus mengejar pahala atau mengejar angka? Padahal idealnya, keduanya tidak perlu dipertentangkan.Perusahaan yang Sensitif vs Perusahaan yang Sekadar FormalitasAda perusahaan yang memahami bahwa Ramadan adalah momen spiritual bagi mayoritas karyawannya. Mereka memberi fleksibilitas, menyesuaikan target, atau menciptakan budaya kerja yang lebih empatik. Namun ada juga yang sekadar mengganti jam kerja tanpa mengubah ekspektasi output. Secara administratif tampak peduli, tetapi secara sistem tetap menekan. Di titik ini, peran manajemen dan HR menjadi krusial. Ramadan bukan hanya soal pembagian takjil atau buka bersama kantor. Ia bisa menjadi momentum membangun budaya kerja yang lebih manusiawi.Produktivitas Bukan Soal Energi, Tapi ManajemenMenariknya banyak studi menunjukkan bahwa produktivitas tidak selalu menurun saat puasa. Yang berubah adalah pola energi. Pekerja yang mampu mengatur ritme memaksimalkan fokus di pagi hari dan menghindari rapat panjang menjelang sore justru bisa tetap optimal. Ramadan mengajarkan disiplin. Bangun lebih pagi. Mengatur konsumsi. Mengontrol emosi. Jika ditarik ke dunia kerja, ini sebenarnya soft skill yang berharga. Mungkin masalahnya bukan pada puasanya, tetapi pada sistem kerja yang belum adaptif.Refleksi yang Lebih DalamDilema antara ibadah dan KPI sesungguhnya menggambarkan persoalan yang lebih luas: bagaimana kita memaknai kerja. Apakah kerja hanya soal angka dan pencapaian? Atau ia juga bagian dari ibadah, selama dilakukan dengan integritas dan niat yang benar? Ramadan memberi ruang untuk mempertanyakan kembali orientasi hidup. Bukan untuk memilih salah satu, tetapi untuk menyelaraskan keduanya Karena mungkin, profesionalisme terbaik justru lahir dari pribadi yang mampu menyeimbangkan target dunia dan ketenangan batin.