Tindakan LPDP ke Suami dari Alumni yang Bikin Konten Bangga Anak Jadi WNA

Wait 5 sec.

Ilustrasi beasiswa LPDP. Foto: Fitra Andrianto/kumparanRamai di media sosial seorang wanita bernama Dwi Sasetyaningtyas yang membuat konten unboxing paket paspor dan dokumen kewarganegaraan Inggris untuk anaknya. Dalam video tersebut, Dwi menyebut "cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan."Pernyataan tersebut disoroti dan dikritik berbagai pihak. Kritik itu berujung diketahui bahwa Dwi merupakan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Begitu juga dengan suaminya. Keduanya menuntut ilmu di luar negeri dibiayai oleh negara.Terkait itu, LPDP menyayangkan pernyataan Dwi itu. Tindakan itu dinilai tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan LPDP kepada seluruh penerima beasiswa."Sesuai ketentuan, seluruh awardee dan alumni LPDP memiliki kewajiban untuk melaksanakan masa pengabdian berkontribusi di Indonesia selama 2 kali masa studi + 1 tahun. Dalam kasus saudari DS yang menempuh studi selama dua tahun, kewajiban kontribusi tersebut adalah lima tahun," kata LPDP dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.Namun demikian, untuk Dwi, LPDP menyebut ia telah menyelesaikan studi S2 dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017, serta telah menuntaskan seluruh masa pengabdian sesuai ketentuan."Dengan demikian, LPDP tidak lagi memiliki perikatan hukum dengan yang bersangkutan," tambahnya.Tetapi berbeda dengan suaminya berinisial AP. Saat ini, suaminya diduga belum merampungkan kewajiban kontribusinya setelah lulus kuliah."Terkait suami Saudari DS, Saudara AP, yang juga menjadi perhatian publik dan merupakan alumnus LPDP, yang bersangkutan diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusinya setelah menamatkan studi," katanya.Pihak LPDP akan memanggil AP buntut pernyataan istrinya tersebut. "LPDP akan melakukan pemanggilan kepada Saudara AP untuk meminta klarifikasi, serta akan melakukan proses penindakan dan pengenaan sanksi sampai pengembalian seluruh dana beasiswa apabila terbukti bahwa kewajiban berkontribusi di Indonesia belum dipenuhi," tambahnya."LPDP berkomitmen untuk menegakkan aturan secara adil, konsisten, dan bertanggung jawab kepada seluruh awardee dan alumni, serta terus menjaga integritas institusi dalam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia," sambungnya.Dwi Meminta MaafTak lama setelah unggahan jadi sorotan, Dwi Sasetyaningtyas menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Permintaan maaf itu disampaikan lewat akun instagramnya, @sasetyaningtyas. Akun itu sudah centang biru.Berikut isi permintaan maaf Sasetyaningtyas:Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan”, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut.Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan.Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama.Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia.Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik. Apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi.Saya sangat menghargai setiap kritik dan masukan yang telah disampaikan secara baik dan konstruktif, sebagai pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, termasuk belajar berkomunikasi dengan lebih bijaksana, lebih jernih, dan lebih berempati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan.Semoga di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati.Terima kasih atas perhatian dan doa baiknya.