Ilustrasi Wall Street. Foto: ShutterstockBursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup anjlok pada Senin (23/2), seiring kekhawatiran yang terus berlanjut terkait potensi disrupsi akibat kecerdasan buatan (AI). Selain itu, dampak putusan Mahkamah Agung (MA) AS pada Jumat (20/2) juga mendorong investor menjauhi aset berisiko tinggi.Mengutip Reuters, indeks S&P 500 turun 70,31 poin atau 1,02 persen menjadi 6.839,20, Nasdaq Composite merosot 251,46 poin atau 1,10 persen ke 22.634,61, Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 810,81 poin atau 1,65 persen menjadi 48.815,16.Aksi jual besar-besaran membuat ketiga indeks utama saham AS turun lebih dari 1 persen saat penutupan, karena selera risiko investor melemah akibat kombinasi kekhawatiran berkelanjutan atas potensi gangguan dari teknologi AI yang sedang berkembang, serta pernyataan kebijakan perdagangan yang tidak menentu dari Presiden Donald Trump, yang memicu volatilitas pasar sepanjang tahun pertama masa jabatan keduanya.Saham sektor keuangan dan perusahaan perangkat lunak mencatat kinerja di bawah pasar secara keseluruhan.“Pertanyaan soal AI ada dua: berapa besar biayanya, dan siapa saja yang akan terdampak? Anda melihat pasar bereaksi terhadap berita utama, jual dulu, evaluasi belakangan. Ini lebih merupakan perspektif tentang apa yang mungkin terjadi dibandingkan apa yang sudah terjadi,” ujar ahli strategi investasi nasional di U.S Bank Wealth Management, Tom Hainlin.Presiden AS Donald Trump mengangkat dokumen resolusi yang ditandatanganinya selama pertemuan perdana "Dewan Perdamaian" di Institut Perdamaian AS di Washington, DC, pada 19 Februari 2026. Foto: Saul Loeb/AFPPada Jumat (20/2), U.S. Supreme Court mengeluarkan putusan 6-3 yang menyatakan Trump melampaui kewenangannya sebagai presiden dengan memberlakukan tarif timbal balik berdasarkan undang-undang darurat ekonomi.Putusan itu memicu kecaman dari Trump, yang mengancam akan mengenakan tarif sementara 15 persen atas seluruh impor meskipun telah mencapai kesepakatan dagang dengan banyak mitra dagang AS. Harga emas pun naik karena investor beralih ke aset aman.“Keputusan Mahkamah Agung tidak mengejutkan. Namun ketika berbagai ketidakpastian ini bertumpuk,situasi geopolitik di Timur Tengah yang memanas, ketidakpastian tarif, dan potensi disrupsi AI, itu mendorong investor menilai ulang risiko secara luas,” kata Hainlin.Badai musim dingin yang kuat menimbun sebagian besar wilayah AS dengan salju lebih dari 15 inci dan melumpuhkan perjalanan di kawasan Timur Laut. Di bandara wilayah New York City, 89 persen hingga 98 persen penerbangan dibatalkan.Imbasnya, saham maskapai dan sektor perjalanan serta rekreasi pun merosot, sementara indeks Dow Transport juga tertinggal. Dengan hanya 77 perusahaan di S&P 500 yang belum melaporkan kinerja, musim laporan laba kuartal IV mendekati akhir.Sejumlah perusahaan besar dijadwalkan merilis laporan pekan ini, terutama produsen chip AI terkemuka Nvidia pada Rabu mendatang. Pesaing ritel perbaikan rumah Home Depot dan Lowe’s juga dijadwalkan melapor, bersama Salesforce dan Universal Health Services.Dari perusahaan yang sudah melaporkan, 73 persen melampaui ekspektasi. Analis kini memperkirakan pertumbuhan laba agregat S&P 500 secara tahunan sebesar 13,9 persen, jauh lebih tinggi dari proyeksi 8,9 persen pada 1 Januari, menurut data LSEG.Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor keuangan mencatat penurunan terbesar, sementara sektor kebutuhan pokok konsumen meraih kenaikan persentase tertinggi.Indeks kesehatan menguat, didorong oleh saham Eli Lilly setelah obat obesitas pesaingnya, milik Novo Nordisk bernama CagriSema, berkinerja di bawah obat Zepbound milik Eli Lilly dalam uji perbandingan langsung.Di pergerakan saham lainnya, Domino’s Pizza melonjak setelah penjualan gerai sebanding kuartal IV melampaui perkiraan Wall Street. Sementara PayPal naik setelah laporan Bloomberg menyebut perusahaan pembayaran itu menarik minat akuisisi.