Pedagang melayani pembeli di Pasar Takjil Ramadhan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, Kamis (19/2/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTOBeragam pilihan takjil seperti gorengan, kolak, biji salak, hingga jajanan tradisional lainnya memang menjadi primadona saat bulan puasa. Mengawali berbuka dengan makanan manis atau camilan ringan sudah menjadi kebiasaan yang umum di masyarakat.Namun di balik kelezatannya, kebiasaan mengonsumsi takjil berlebihan ternyata perlu diwaspadai. Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan takjil sebagai sumber utama asupan saat berbuka puasa karena berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi penting.“Biasanya takjil bahan utamanya karbohidrat, ada tambahan gula atau digoreng dengan minyak. Jadi kaya karbohidrat dan lemak saja, tapi rendah protein dan mikronutrien,” kata Rita seperti dikutip dari Antara, Selasa (24/2).Ilustrasi berburu takjil. Foto: ShutterstockKetua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA) itu juga menambahkan bahwa takjil yang umum dikonsumsi masyarakat banyak berbahan dasar tepung, gula, dan minyak. Kandungan tersebut membuat takjil cenderung tinggi energi, tetapi rendah protein, serat, serta vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.Kondisi ini bisa berdampak pada kecukupan gizi, terutama jika seseorang sudah merasa kenyang karena takjil lalu melewatkan makan utama.“Kalau seseorang hanya kenyang dengan takjil saja, berisiko kekurangan asupan protein yang merupakan zat gizi utama yang dibutuhkan tubuh, juga kekurangan serat dan beberapa mikronutrien,” ujar Rita yang juga merupakan dosen kesehatan masyarakat di Universitas Faletehan Serang.Padahal, protein memiliki peran penting bagi tubuh, mulai dari menjaga massa otot, memperbaiki jaringan, hingga mendukung sistem kekebalan selama berpuasa.Menurut Rita, kebutuhan utama saat berbuka sebenarnya bukanlah takjil, melainkan mengembalikan kadar gula darah secara bertahap setelah seharian menurun. Hal tersebut bisa dipenuhi dengan konsumsi kurma atau buah serta cairan seperti air putih.Pedagang melayani dagangannya kepada pembeli di Sentra Kuliner Pasar Bendungan Hilir (Benhil) Jakarta, Kamis (19/2/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan“Takjil itu bukan kebutuhan, tapi keinginan. Kalau ingin konsumsi, cukup satu sampai dua potong saja,” katanya.Ia pun menyarankan agar setelah mengonsumsi takjil, masyarakat tetap melanjutkan dengan makan utama yang mengandung karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam komposisi seimbang. Dengan pola makan yang tepat, puasa dapat dijalani dengan lebih sehat tanpa mengorbankan kecukupan gizi yang dibutuhkan tubuh.