Berbuka Puasa ala Megibung, Obat Rindu Keluarga bagi Perantau di Bali

Wait 5 sec.

Suasana berbuka puasa dengan tradisi Megibung di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar, Bali, Minggu (22/2/2026) malam. Foto: Denita br Matondang/kumparanTradisi megibung memberi kehangatan saat berbuka puasa bagi jemaah di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar, Bali, Minggu (22/2) malam. Tradisi ini juga mengisi setitik ruang rindu terhadap keluarga di kampung halaman bagi perantau selama Ramadan.Megibung sebenarnya merupakan tradisi warga Bali. Tradisi ini digelar dengan makan bersama pada satu wadah yang sama untuk menciptakan rasa kekeluargaan dan keakraban.Bagi Rizki Setyo Samudero, perantau asal Sidoarjo, Jawa Timur, yang terbiasa berbuka puasa sendirian, momen makan bersama ini memberikan kehangatan keluarga yang tak dirasakan selama di Bali."Biasanya anak perantau kan buka puasa sendiri, di sini ramai-ramai, seru saja. Kita yang awalnya tidak kenal dengan orang di samping, tiba-tiba jadi kenalan dan mengobrol," kata pria 27 tahun yang mengikuti tradisi ini sejak 2023.Suasana berbuka puasa dengan tradisi Megibung di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar, Bali, Minggu (22/2/2026) malam. Foto: Denita br Matondang/kumparanSambil berkelakar, Rizki mengatakan, berburu takjil dan buka puasa di masjid adalah strateginya dalam mengelola keuangan sebagai perantau. Namun, hal utama sebenarnya adalah mengejar suasana kebersamaan dengan perantau."Biasanya saya memburu takjil dan berbuka puasa bersama di masjid-masjid terdekat," katanya.Pantauan kumparan, para jemaah mulai berdatangan sejak pukul 17.00 WITA, Minggu (22/2). Tradisi megibung ini diawali dengan berbuka dengan takjil yang manis-manis di lantai satu masjid.Jemaah selanjutnya menggelar salat tarawih di lantai dua masjid. Selesai tarawih, jemaah kembali ke lantai satu untuk makan bersama.Suasana berbuka puasa dengan tradisi Megibung di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar, Bali, Minggu (22/2/2026) malam. Foto: Denita br Matondang/kumparanMenu malam itu adalah nasi kebuli sapi dilengkapi dengan telur, selada, cabai, dan kerupuk, disiapkan di atas daun pisang.Ikuti Kebudayaan BaliSementara itu, Ketua Festival Ramadan Masjid Baitul Makmur, Yus Subianto, mengatakan tradisi megibung digelar demi menumbuhkan rasa kekeluargaan baik bagi umat muslim maupun warga Bali."Kita berbuka puasa mengikuti kebudayaan masyarakat Bali yang makan bersama untuk menjaga rasa kekeluargaan untuk menjaga keharmonisan, kerukunan, dan kekeluargaan antara jemaah yang ada di Bali sesuai dengan konsep megibung ini," kata Yus.Suasana berbuka puasa dengan tradisi Megibung di Masjid Baitul Makmur, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar, Bali, Minggu (22/2/2026) malam. Foto: Denita br Matondang/kumparan800 Porsi Nasi KebuliMasjid menyediakan sekitar 800 porsi nasi kebuli untuk seluruh jemaah atau warga yang ingin ikut buka puasa bersama. Masjid biasanya juga menyajikan menu-menu bukber premium untuk para jemaah.Masjid memesan ke sejumlah restoran dan jemaah yang andal memasak. Dana bukber ini murni berkat donasi masyarakat, baik dari dalam maupun luar Bali.Suasana bukber ala Megibung di Masjid Baitul Makmur, Perumahan Monang-Maning, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar, Bali, Senin (10/3/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparanKambing Guling 1.000 PorsiPada menu bukber megibung berikutnya yang jatuh pada 8 Maret 2026, panitia bakal menyiapkan menu nasi kambing guling, dengan lebih dari 1.000 porsi.Masjid Baitul Makmur berdiri pada tahun 1987. Masjid ini sudah menggelar megibung dalam sembilan tahun terakhir.