Gentengisasi Dari Analisis Teori Persepsi Sanitasi

Wait 5 sec.

Ilustrasi Dampak Gentengisasi Terhadap Kesehatan (Sumber Gambar: ChatGPT AI)Program perbaikan rumah melalui penggantian atap—yang dicanangkan pemerintah dalam sebutan gentengisasi—kerap dipahami sebatas intervensi fisik: mengganti genteng bocor agar rumah tidak kehujanan. Namun jika ditelaah melalui perspektif teori persepsi sanitasi, gentengisasi sesungguhnya merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang strategis. Atap rumah bukan sekadar pelindung dari panas dan hujan, melainkan determinan lingkungan yang memengaruhi kelembapan, sirkulasi udara, kepadatan mikroorganisme, hingga risiko penyakit berbasis lingkungan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Maka dari itu, kebijakan gentengisasi layak dibaca sebagai transformasi persepsi dan perilaku sanitasi masyarakat.Dalam teori persepsi kesehatan, individu tidak otomatis mengubah perilaku hanya karena tersedia fasilitas. Persepsi tentang risiko, manfaat, hambatan,dan norma sosial berperan besar dalam mendorong tindakan. Kerangka seperti Health Belief Model menjelaskan bahwa seseorang akan bertindak ketika ia merasa rentan (perceived susceptibility), memandang masalahnya serius (perceived severity), meyakini ada manfaat nyata (perceived benefit) dan hambatannya dapat diatasi (perceived barrier). Dalam konteks sanitasi rumah, banyak keluarga terbiasa hidup dengan atap bocor, ventilasi buruk atau kelembapan tinggi tanpa menganggapnya sebagai ancaman kesehatan. Di sinilah gentengisasi menjadi lebih dari sekadar proyek konstruksi: ia adalah upaya menggeser persepsi.Secara ilmiah, hubungan antara kualitas hunian dan penyakit pernapasan telah banyak didokumentasikan. Rumah dengan atap rusak berisiko meningkatkan kelembapan dinding dan lantai, memicu pertumbuhan jamur, serta memperburuk kualitas udara dalam ruang (indoor air quality). Kondisi ini meningkatkan risiko ISPA, terutama pada anak-anak dan lansia. Selain itu, kebocoran atap yang dibiarkan dapat menciptakan genangan air dan memperburuk sanitasi lingkungan sekitar rumah. Dalam kerangka determinan sosial kesehatan, perbaikan fisik rumah termasuk bagian dari intervensi hulu (upstream intervention) yang berdampak luas dan berkesinambungan.Namun demikian, keberhasilan gentengisasi tidak hanya ditentukan oleh distribusi material bangunan. Tanpa perubahan persepsi, bantuan genteng bisa saja tidak dirawat dengan baik, atau bahkan dijual kembali karena dianggap tidak mendesak. Oleh sebab itu, analisis teori persepsi sanitasi menekankan pentingnya edukasi yang empiris. Masyarakat perlu memahami hubungan sebab-akibat antara atap bocor, kelembapan, kualitas udara dan risiko penyakit. Ketika kesadaran ini tumbuh, gentengisasi tidak lagi dipandang sebagai “bantuan sosial”, melainkan sebagai investasi kesehatan keluarga.Ilustrasi genteng. Foto: tria angin/ShutterstockLebih jauh, gentengisasi juga berkaitan dengan aspek psikososial. Rumah yang layak meningkatkan rasa aman, harga diri dan kesejahteraan mental. Dalam studi kesehatan lingkungan, kondisi hunian yang buruk sering diasosiasikan dengan stres kronis dan ketidaknyamanan. Atap yang kokoh memberi perlindungan simbolik dan nyata: keluarga merasa dihargai dan diperhatikan. Persepsi positif ini dapat memperkuat norma sosial baru bahwa rumah sehat adalah standar bersama, bukan kemewahan. Dengan demikian, gentengisasi berpotensi menciptakan efek domino berupa peningkatan perilaku higienis lainnya, seperti perbaikan ventilasi, pencahayaan dan pengelolaan limbah rumah tangga.Pendekatan berbasis teori persepsi juga membantu perancang kebijakan dalam menentukan strategi komunikasi. Alih-alih menekankan aspek teknis konstruksi, pesan publik sebaiknya mengangkat narasi kesehatan keluarga, perlindungan anak, dan produktivitas ekonomi. Ketika masyarakat memahami bahwa rumah sehat mengurangi biaya berobat dan meningkatkan kualitas hidup, maka dukungan sosial terhadap program gentengisasi akan lebih kuat. Partisipasi warga dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pun menjadi kunci agar intervensi ini kontekstual dan berkelanjutan.Dalam konteks pembangunan desa dan pengentasan kemiskinan, gentengisasi dapat diposisikan sebagai indikator sanitasi struktural. Ia melengkapi program jambanisasi, penyediaan air bersih, dan pengelolaan sampah. Sanitasi tidak boleh direduksi hanya pada toilet dan drainase; kualitas bangunan rumah adalah bagian integral dari ekosistem kesehatan lingkungan. Dengan pendekatan komprehensif, gentengisasi menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif, bukan sekadar kuratif.Kesimpulannya, membaca gentengisasi melalui analisis teori persepsi sanitasi mengajarkan bahwa perubahan fisik harus berjalan seiring dengan perubahan cara pandang. Rumah sehat lahir dari kesadaran kolektif bahwa lingkungan tempat tinggal adalah fondasi kesehatan. Ketika masyarakat memandang atap bukan hanya sebagai penutup bangunan, melainkan pelindung kualitas hidup, maka gentengisasi menjelma menjadi gerakan sosial kesehatan. Di titik itulah intervensi sederhana berubah menjadi transformasi menuju masyarakat yang lebih sehat.