Indonesia Diminta Impor 1.000 Metrik Ton Etanol AS

Wait 5 sec.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump teken kesepakatan tarif dagang di Washington, AS, Kamis (19/2/2026). Foto: White HouseIndonesia diminta melakukan impor bahan bakar etanol dari Amerika Serikat, ini merupakan salah satu hasil dari Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang disepakati baru-baru ini.Pada naskah ART Full Agreement, tepatnya pada Annex III: Specific Commitments di Article 2.23 tentang bioetanol, terdapat tiga poin utama yang menyatakan bahwa Indonesia wajib menerima impor bahan bakar etanol dari Amerika Serikat."Indonesia tidak akan menerapkan atau mempertahankan tindakan apa pun yang mencegah impor bioetanol AS," urai penggalan pertama pernyataan yang telah disetujui oleh dua negara dikutip Sabtu, (21/2/2026).Lebih lanjut, bahan baku etanol tersebut akan memenuhi kebutuhan pasokan bahan bakar transportasi dengan cara dicampur dengan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 5 persen (E5) pada 2028 dan hingga 10 persen atau E10 pada 2030 mendatang.Salah satu isi Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART). Foto: United States Trade Representative"Indonesia akan berupaya menerapkan kebijakannya dalam penggunaan campuran bioetanol dalam bahan bakar transportasi hingga 20 persen bioetanol (E20), dengan mempertimbangkan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur pendukung," bunyi poin terakhir pada artikel tersebut.Bahkan ketentuan jumlah impor bahan bakar etanol dari Negeri Paman Sam itu telah ditentukan setiap tahunnya. Ini tertuang pada Annex IV: Purchase Commitmen tentang pembelian produk agrikultur Amerika Serikat."Indonesia harus memastikan bahwa impor etanol Indonesia yang berasal dari Amerika Serikat melebihi 1.000 metrik ton (sekitar satu juta kilogram) setiap tahunnya," bunyi artikel tersebut.Rencana pemerintah produksi bahan bakar etanol untuk kurangi impor BBMToyota Fortuner Flexy Fuel yang bisa tenggak bahan bakar bioetanol 100 persen atau E100. Foto: Sena Pratama/kumparanMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia belum lama ini menyampaikan mandatori campuran etanol dengan bensin atau bioetanol bisa mencapai 20 persen (E20) pada tahun 2028.Target tersebut lebih ambisius dari yang dicanangkan sebelumnya dengan kandungan etanol 10 persen atau E10. Bahlil bilang, hal tersebut bertujuan menekan impor BBM jenis bensin (gasoline) yang masih sangat besar porsinya dari pada produksi dalam negeri."Sampai ayam tumbuh gigi, kalau enggak kita kreatif untuk membuat ini, enggak akan bisa kita dalam negeri semua. Maka kita akan lakukan adalah di samping kita naikkan lifting, kita akan dorong namanya etanol E20 2028, dengan demikian akan mengurangi impor kita," ungkap Bahlil saat Indonesia Economic Outlook 2026, dikutip Sabtu (14/2/2026).Bahlil menyebut, kebutuhan solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik baru sekitar 16 juta kiloliter. Sedangkan bensin kebutuhan nasional sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan produksinya hanya 14 juta kiloliter.Toyota Fortuner Flexy Fuel yang bisa tenggak bahan bakar bioetanol 100 persen atau E100. Foto: Sena Pratama/kumparanMenteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menekankan pemerintah Indonesia saat ini tengah mendorong produksi etanol berbasis biomassa sebagai campuran bahan bakar bensin melalui penerapan bertahap skema E5 hingga E10.“Nah inilah yang menjadi tantangan kita ke depan. Karena selain biodiesel pemerintah juga sedang mendorong pengembangan etanol base untuk bensin. Di mana E5 atau E10 tentu membutuhkan 2-3 juta etanol,” jelas Airlangga.“Dan ini akan baik kalau kita bisa produksi melalui food estate. Nah beberapa intensifikasi yang didorong tentunya mulai dari pupuk irigasi, penyuluh, dan bibit itu menjadi kunci,” tambahnya.