Psikologi di Balik Drama CEO China

Wait 5 sec.

Oleh 绵 绵 (@serwin365) dari Unsplash (https://unsplash.com/id/foto/wanita-berjaket-hitam-duduk-di-kursi-biru-avMyDRq-9fU?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink) ​Elemen utama dalam memahami narasi C-Drama bergenre CEO adalah potret kesempurnaan hidup di tengah ambisi besar kekuatan ekonomi global. Di balik romansa yang manis, terselip pesan-pesan strategis yang dirancang untuk memengaruhi persepsi penonton.Estetika Makmur sebagai Manajemen Persepsi​Selama beberapa tahun terakhir, publik disuguhi C-Drama yang memuja kesuksesan material dan kemewahan urban yang luar biasa. Layar kaca tidak lagi sekadar menjadi ruang eskapisme, melainkan alat untuk menunjukkan stabilitas ekonomi dan kemajuan teknologi Tiongkok kepada dunia.​Fenomena ini menggunakan strategi manajemen persepsi yang halus. Karakter CEO muda yang menguasai perusahaan rintisan (startup) hingga korporasi raksasa digambarkan sebagai sosok heroik. Mereka bukan hanya pengusaha, tetapi personifikasi dari "The Chinese Dream" yang menjanjikan bahwa di bawah sistem yang ada, kesuksesan finansial adalah kepastian.​Unjuk Kekuatan dan Normalisasi Otoritas​Dalam kacamata propaganda dan perang psikologis, drama CEO berfungsi sebagai show of strength atau unjuk kekuatan. Kantor-kantor yang dilengkapi teknologi AI terbaru, penggunaan kendaraan listrik domestik yang mewah, hingga arsitektur kota Beijing dan Shanghai yang megah adalah pesan subliminal tentang keunggulan nasional.​Selain itu, narasi ini sering kali melakukan normalisasi terhadap figur otoritas yang kuat. CEO yang dominan namun protektif membiasakan psikologis penonton untuk menerima struktur hierarki yang ketat sebagai bentuk perlindungan dan solusi atas segala masalah.​Relevansi dan Refleksi Global​Bagi penonton internasional, termasuk di Indonesia, fenomena ini menciptakan standar ganda mengenai realitas.Terdapat refleksi yang kontradiktif mengenai: Standar Kesuksesan: Ambisi mengejar posisi puncak yang terkadang tidak realistis bagi generasi Z.​Gaya Hidup Elit: Konsumsi terhadap barang mewah dan properti yang kian tak terjangkau di dunia nyata.Citra Nasional: Pembangunan citra positif negara asal konten digital yang melintasi batas negara.​Pada akhirnya, popularitas drama CEO menunjukkan bahwa media hiburan telah menjadi medan tempur baru dalam perang psikologis modern. Lewat layar, narasi kemajuan sedang ditanamkan, dan audiens secara perlahan mulai mengadopsi sudut pandang ideologis yang disajikan dalam setiap adegan romantisnya.